Cerita Sex : Bude Farah

No comment 7816 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Bulan Desember ini aku dapat jatah cuti tahunan. Kesempatan baik untuk pulang kampung jumpa keluarga di Solo. Karena hanya kesempatan cuti tahunan aku dapat pulang, karena Lebaran kena piket maklum pekerjaanku melayani masyarakat jadinya nggak libur.

8

Dgn kereta api Argo Lawu, aku berangkat menuju Solo. Hari mulai senja ketika kereta melaju meninggalkan stasiun.
Karena bukan liburan, penumpang kereta tdk padat. Hanya beberapa orang yg ada di gerbong ini. Tepat di sampingku duduk seorang wanita setengah baya.-cerita sex terbaru- Dgn mengenakan terusan panjang berwarna merah, rambut tergelung rapi, berkaca mata tipis, menampakkan ciri seorang ibu yg lemah lembut. Senyum selalu tersungging manis menghiasi bibirnya.
Untuk mencairkan suasana aku mulai membuka pembicaraan dgn memperkenalkan diriku

“Maaf bu, kenalkan… saya Bagus” sambil ku ulurkan tangan, ibu itu menyambut dan memperkenalkan dirinya
“Farah…” jawabnya singkat
“Ibu jg mau ke Solo ya…?”
“He-eh…. barusan nengok keponakan di Bandung”
“Oh…”
“Adik sendiri mau ke Solo jg… ?”
“Iya bu….. cuti tahunan….”

Cerita dewasa terbaru, Pembicaraan untuk mengisi kekosongan mulai mengalir mencairkan suasana. Menurutku ibu Farah adalah orang yg enak untuk diajak bicara walaupun kami baru saja kenal. Tdk ceriwis, tertawapun seakan ditahan, bicara dgn lemah lembut ciri khas wanita Solo. Di usia 43 tahun guratan wajah tdk menampakkan ketuaannya, jg bentuk tubuh yg masih kencang meskipun tdk terlalu menonjol.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Ngentot Teman Lama

Malam kian larut, lampu penerangan di gerbong kami mulai dipadamkan. Aku mempersilakan ibu Farah untuk istirahat setelah bantal dan selimut aku serahkan. Karena capai akupun mulai merasakan kantuk. Dan kulihat ibu Farah sudah terlelap dgn nafas teratur lembut.

Waktu menunjukkan pukul 01.10, udara AC semakin dingin mengigit tulang. Ku lihat ibu Farah merasa gelisah dan berusaha menutupi tubuhnya dgn selimut.

“Dik Bagus….. Dik……”
“Ya bu….”
“Maaf….. tolong AC-nya dikecilin…. ibu kedinginan”

aku berdiri dan berusaha mengecilkan AC, tetapi kisi-kisi anginnya macet jadi percuma.

“Kisinya macet bu… maaf tdk bisa dikecilin”
“Walah… kalau begini pasti pinginnya pipis terus…”

Ibupun kembali menarik selimut menutupi tubuhnya dan kembali bersandar pada bantal.

10 menit berlalu, tiba-tiba ibu Farah kembali terbangun.

“Dik Bagus…. tolong anterin ibu ke kamar mBagus… pingin pipis….. ibu takut pergi sendiri” katanya sambil memgangi perutnya.
“Kebetulan bu…. Bagus jg pingin pipis….”

Akupun segera berdiri untuk memberi jalan kepadanya. Berdua kami menuju ke kamar mBagus di belakang gerbong. Terasa sepi, karena para penumpang sudah tertidur dibuai mimpi.

“Silahkan ibu duluan…..”
“Maaf pintunya tak usah ditutup ya…..?” katanya pelan.
“Tdk usah takut bu…. kan ada Bagus”
“Dik Bagus jangan berdiri jauh-jauh…”
“Iya bu…” kata ku sambil membelakangi pintu kamar mBagus sambil menahan pipis.

Beberapa saat terdengar desiran air. Wow lama jg ibu Farah kencingnya, berarti sudah dari tadi beliau menahan pipisnya. Setelah itu terdengar suara air disiramkan.

“Silahkan dik Bagus……”
“Sudah bu….. aku sudah nggak tahan…..” kataku tergesa masuk ke kamar mBagus.

Dgn segera ku buka reslueting celana dan mengeluarkan kemaluanku untuk segera membuang air kemih yg sudah tak tertahankan. Setelah selesai aku mengguyur lantai kamar mBagus dan membasuh ujung kemaluanku dari sisa-sisa air kencing. Tanpa kusadari bahwa di belakangku sepasang mata menatap dgn terkesima. Setelah selesai dan kemaluanku sudah berada pada tempatnya, akupun berbalik. Dan kulihat wajah bu Farah merah padam menahan malu.

“Bu…..” sapaku mengejutkannya
“Oh… maaf….” katanya sambil menunduk

Kamipun berjalan kembali ke tempat duduk kami. Hening menyelimuti suasana, hanya suara roda kereta yg tak pernah diam.

“Maaf dik Bagus…..” ibu Farah membuka pembicaraan
“Ya bu…”
“Sekali lagi maaf…. apakah memang segitu ukuran kemaluan di Bagus ?”

Aku kaget bukan kepalang mendapat pertanyaan ibu Farah yg polos. Tdk kukira dibalik wajah keibuan ternyata tersimpan keliaran.

“Maksud ibu…. ?” aku balik bertanya
“Iya… ibu sempat lihat kemaluan di Bagus waktu pipis tadi, apa ukurannya memang sudah segede itu….?”
“Oh…, maaf bu…. karena dari tadi menahan pipis jadinya Bagus sempat ereksi sedikit….” jawabku malu,
“Memangnya kenapa bu ?”
“Nggak, ibu kirain tdk sedang ereksi…. pikir ibu kalau tdk ereksi saja segitu gede apalagi kalau ereksi…..”
“Ah… ibu ada-ada saja…”
“Nggak usah malu dik Bagus…. kita kan sudah sama-sama dewasa….. biasa sajalah”
“Iya bu….” jawabku singkat

Kembali kami terdiam dan ibu Farah mempersiapkan diri untuk tidur. Ditariknya selimut menutupi seluruh badannya menahan dinginnya udara. Belum berapa lama ibu Farah tertidur, kembali terbangun dan memohon kepadaku untuk menemaninya ke kamar mBagus.

Seperti tadi, pintu kamar mBagus sengaja tdk ditutup. Aku berdiri menunggu di depan pintu, tp sekarang aku sengaja menghadap ke dalam kamar mBagus dan menyaksikan semua kegiatan ibu Farah. Dari mulai mengangkat rok panjangnya, menurunkan celana dalam, jongkok dan kemudian pipis. Terlihat mulusnya pantat ibu Farah membuat kemaluanku ereksi.

“Sudah dik Bagus… ibu sudah selesai… dik Bagus mau pipis jg…. ?”
“Nggak bu…….”
“Wow… kemaluan dik Bagus ereksi ya… ?” katanya sambil menatap ke arah kemaluanku.
“Iya bu… “ jawabku malu-malu “Habis lihat pantat mulus, peralatan yg satu ini langsung bereaksi…”
“Berarti dik Bagus masih normal…. kalau tdk ereksi malah perlu dicurigai…..” katanya tersenyum.

Kembali ke tempat duduk, kami mulai memakai selimut kembali. Tiba-tiba tangan bu Farah menyusup ke dalam selimutku dan meraba kemaluanku. Berani jg nih orang, sekali lagi di balik wajah keibuan dan kesopanannya terdapat sesuatu yg tdk terduga.

“Masih ereksi ya…..?” bisiknya
“Iya bu…. kalau belum dikeluarin pasti nggak mau turun…” jawabku.
“Mau ibu bantu…..?”
“Ah… nggak usah bu, nanti Bagus keluarin sendiri saja…” jawabku sungkan walau sebenarnya ingin jg
“Wah… dik Bagus sering onani jg ya…?”
“Sering sih tdk bu… tp kalau pas ereksi begini apa boleh buat…. hanya itu jalan satu-satunya…”
“Betul dik Bagus, ibu sering sekali tiba-tiba ‘kepingin’ sedang suami ibu sudah tdk mampu lagi ereksi, maklum beliau punya penyakit gula, ibupun melakukan masturbasi untuk menuntaskannya” wajahnya menerawang jauh.

“Ibu sering masturbasi jg ya…..”
“Hanya itu yg dapat ibu lakukan…..” jawab bu Farah dgn nada sedih
“Maaf jika pertanyaan Bagus membuat ibu sedih..”
“Nggak kok…. memang kenyataannya seperti itu….” jawab bu Farah dgn sedikit senyum, ”Sana gih…. dikeluarin dulu… nanti perut dik Bagus mules lho…”
“Ntar aja bu…. dari pada kelamaan onaninya… lagian Bagus nggak bawa sabun….” jelasku
“Tuh kan…. mau pakai baby oil ?” kata bu Farah. Dan diambilnya botol baby oil dari dalam tas tangannya, ”Pakai ini dik… biar kemaluannya nggak perih…”
“Terima kasih bu…..” jawabku sambil menerima baby oil dari tangan bu Farah, ”Ibu berani duduk sendirian di sini…?”

“Iya ya…. kalau begitu ibu ikut ke belakang ya… ?” pintanya memelas.
“Maaf bu… daripada ibu harus berdiri nungguin Bagus onani di kamar mBagus, lebih baik Bagus lakukan di sini saja……”
“Oh ya… begitu jg bagus… hasrat dik Bagus tersalurkan….. dan ibu tdk ketakutan…”

Mendapat lampu hijau dari bu Farah, akupun segera membuka ikat pinggang. Dgn sedikit menarik celana dalam aku keluarkan kemaluan yg sudah mengeras.

Baby oil aku tuangkan diatas telapak tangan kananku, dgn segera aku lumurkan ke seluruh permukaan kemaluanku. Di balik selimut tanganku mulai bekerja naik turun mengurut batang kemaluan.

Ku lihat ibu Farah menyadandarkan kepalanya pada bantal di permukaan jendela kaca, seingga posisi wajahnya sedikit serong ke arahku. Sesekali mata ibu Farah melirik ke arah tanganku yg sedang melakukan onani di balik selimut. Tampak tonjolan kemaluanku yg mengeras mencuat di balik selimut seiring dgn guncangan tangan. Nafasku mulai tdk teratur merasakan rangsangan itu.

Kuperhatikan jg bahwa bu Farah mulai terangsang dgn apa yg dilihatnya. Terbukti dgn kegelisahan dan tarikan nafas panjang sesekali. Aku cuek saja dan tetap pada kegiatan onaniku.

Ditengah kesibukkanku beronani, tiba-tiba ibu Farah bangkit berdiri dari duduknya, diangkat rok panjangnya dan dgn segera melepas celana dalam kemudian kebali duduk serta menutupi tubuh bagian bawahnya dgn selimut. Ibu Farah membuka paha lebar-lebar, tangan kanannya mulai aktif meraba kemaluan dan tangan kiri melalukan remasan pada payudara kecilnya.

Desahan nafas kami memburu, berdua kami berpacu dgn nafsu untuk mencapai puncak orgasme. Aku mulai merasakan denyutan-denyutan pada kemaluanku pertanda orgasmeku sudah semakin dekat. Bu Farah pun semakin cepat menggosokkan tangannya pada kemaluannya.

“Ouughh… aagghhh…. !!!” sperma memancar dari kemaluanku sebagai puncak dari orgasme. Tak lama kemudian bu Farah menggigit bantal menahan orgasme hebat yg melandanya,
” Heeghhh… Eeehhhh…….”

Tubuhnya mengejang beberapa kali, dan diakhiri dgn lemasnya tubuh beliau. Dilepaskan bantal dari wajahnya, dgn mata terpejam dan nafas memburu ibu Farah menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Setelah semua selesai, kami membersihkan kemaluan masing-masing dgn tissue basah milik bu Farah.

“Wuaduh…. lega rasanya dik….. ibu nggak tahan lihat dik Bagus onani…. maklum baru kali ini lihat orang lain melakukan onani di depan ibu…..” bu Farah tersenyum manis.
“Bagus jg sudah plong… bu…”
Kamipun segera tertidur karena kelelahan setelah melakukan masturbasi.

Sesampai di stasiun Balapan Solo, kami berpisah. Tdk ada kata yg kami ucapkan, hanya salam perpisahan yg mengakhiri perjalanan kami ini. Dgn Taxi aku menuju ke rumah, dimana kedua orang tua dan adikku sudah menunggu.

Sudah dua hari aku berada di Kota Solo, aku sempatkan untuk rilex mengabaikan rutinitas yg membosankan di Bandung. Rasa kangen terhadap keluarga dan saudara sudah terhapuskan. Dan kini rasa kangenku untuk bertemu Pak Dhe Bekti sangat kuat, maklum kakak dari ayahku ini punya Bandil besar di dalam kehidupanku. Semenjak Budhe Bekti wafat aku belum bertemu lagi dgn beliau, hanya kabar dari ayah yg menyatakan jika pakdhe Bekti sakit-sakitan.

Sore ini aku minta ijin orang tuaku untuk berkunjung ke rumah pakdhe. Untuk mengobati rasa kangen aku berencana untuk bermalam di rumah beliau.

Dgn mengendarai sepeda motor milik adikku, kutempuh jalan Kota Solo yg mulai padat lalu-lintas.

Sesampai di rumah pakdhe waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, dan kudapati pintu rumah terkunci rapat. Karena sejak kecil aku sering bermain di rumah ini, jadi aku tahu betul dimana letak kamar pakdhe. Lewat samping rumah aku langsung menuju ke belakang rumah dimana kamar beliau berada. Dari jendela yg terbuka aku melihat kamar itu kosong. Aku teruskan langkah menuju ke belakang ke arah dapur. Terlihat pintu dapur jg tertutup rapat, tetapi samar-samar kudengar suara lirih desahan nafas. Kurapatkan telingaku pada pintu dapur. Semakin jelas terdengar desahan nafas wanita yg sedang dilanda nafsu birahi. Semakin lama terdengar semakin menggairahkan.

“Yemm…. terusss… yemmm…. oougghhh….” jelas sekali wanita ini mengalami sensasi yg luar biasa,”Liiidaahmu… tteerruss… jjaarriiimmuuu …..Ohhh
Ya… diii siituuu Yemmm… terruss… hhgghh… eennak …. Yeemmm” suara desahan semakin hebat, ”Cepattt… Yemm… ceeepaatt…. aakku… keellll…. oouugghh…. aahhhh”.
Wow jeritan kecil menandai orgasmenya, terdengar nafas yg ngos-ngosan tdk teratur.
“Ttteerima kasih Yem….. kamu semakin pinter” entah suara siapa, aku sendiri masih penasaran.
“Iya ndoro…” jawab wanita yg lain, yg ini jelas pembantu rumah tangga di rumah pakdhe.

Dgn segera aku meninggalkan bagian belakang rumah, kembali ke pintu depan.

“Nuwun…. kulo nuwun…..” dgn sedikit teriak dan ketukan pintu agak keras, dgn harapan ada yg mendengar.

Tak lama terdengar anak kunci diputar dan terbukalah pintu utama. Ku lihat pakdhe Bekti tepat di depanku dgn wajah tegang dan badan berkeringat.

“Selamat sore pakdhe…” ucapku
“Hee kamu Gus… kapan datang dari Bandung….?” jawab pakdhe Bekti penuh semangat.
“Kemarin pagi dhe….”
“Ayo masuk….. wahh pakdhe kangen banget…. sudah lama kamu tdk kemari…..” dipeluknya tubuhku dgn erat sebagai tanda kasih dan kangennya.

Kami berdua memasuki ruang tamu yg luas, maklum rumah pakdhe Bekti termasuk rumah kuno sehingga ukuran ruangan
serba luas.

“Duduk Gus…. waahhh sekarang kamu tambah cakep….”
“Ahhh pakdhe bisa saja….”
“Betul lho …. pakdhe tdk ngapusi….” katanya sambil tertawa lepas. Kami duduk berhadap-hadapan dibatasi meja tamu.
“Yem…. buatin kopi Yem…. ada tamu dari jauh nih…” teriak pakdhe.
“Ndak usah repot-repot dhe….” aku berbasa-basi.

Beberapa menit kemudian muncul seorang wanita muda dari arah dapur membawa baki berisi kopi hangat dan sepiring pisang goreng.

“Trima kasih Yem…. kamu masih ingat ndak sama orang ini ?” kata pakdhe kepada wanita muda ini.
“Nyuwun sewu ndoro…. saya lupa….” jawabnya sambil terus memandangi wajahku.
“Weeh kamu ini, ingat ndak kamu waktu kecil mainnya sama siapa ?” pakdhe Bekti mencoba mengingatkan.
“Ohhh… mas Bagus ya….? Iya…sekarang Iyem ingat….” katanya tersenyum lebar,
”Habis sekarang sudah berubah… jadi Iyem pangling…”
“Ini Iyem anak mak Sani pembantu pakdhe yg dulu…. kamu masih ingat kan Gus…..?”
“Iya dhe… Bagus ingat….. Apa kabar Yem..?” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Baik Mas….” jawabnya menyambut uluran tanganku, kami bersalaman,
“Silahkan mas…. Iyem ke belakang dulu….”
“Terima kasih Yem…”

Tdk kusangka Iyem yg dulu jadi teman mainku, sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis yg cantik. Tubuh semampai langsing, kulilt putih bersih. Pinggul yg montok terlihat jelas tertutup balutan kain batik, payudara besar kencang khas orang desa.

“Hei… Gus…. pakdhe masih di sini…!” suara pakdhe membuyarkan lamunanku,
“Kalau mau kangen-kangenan sama Iyem nanti ada waktunya sendiri, sekarang waktunya ngobrol sama pakdhe….” kamipun tertawa.

Dalam pikiranku masih diselimuti rasa penasaran atas peristiwa desahan nafas di dapur tadi. Kalau Iyem sudah terjawab, terus siapa wanita yg satunya ya ? dan mengapa Iyem mau membantu melepaskan birahinya ?

Obrolan kami semakin seru, tetapi pikiranku masih saja penasaran dgn peristiwa itu.

“Oh ya .. pakdhe hampir lupa……. Bu…. Ibu…. sini bu… ini lho ada tamu dari Bandung…..”

Lho kok pakdhe memanggil ibu, berarti pakdhe sudah kawin lagi. Kok aku tdk dikabari. Misteri suara wanita di dapur tadi sedikit terkuak, berarti sang wanita adalah istri pakdhe Bekti alias budhe Bekti yg baru.

Dari arah kamar munculah sesosok wanita, alangkah terkejutnya aku…. wanita itu adalah ibu Farah teman seperjalanan dgnku dari Bandung, jadi ibu Farah adalah istri pakdhe Bekti. Aku tak mengira jika kami bertemu lagi dgn suasana yg jauh berbeda.

Tak kalah terkejutnya ibu Farah ketika melihat bahwa tamunya adalah aku yg nota bene keponakan sendiri. Merah padam wajah dan rasa terkejutnya tdk dapat ditutupi. Pakdhe Bekti jelas tdk dapat menyaksikan perubahan wajah istrinya, karena beliau duduk membelakangi. Terlihat ibu Farah mengatur nafas dan mulai berjalan dgn tenang seolah-olah tdk terjadi apa-apa.

“Nah… ini Gus…. kenalkan, ini istri pakdhe…. namanya Farah…. umur boleh muda tetapi pengabdiannya kepada pakdhe jangan ditanya…. ya ndak bu….?”

Aku berdiri, dgn sikap tenang aku mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.

“Bagus…..” kataku
“Farah…..” jawabnya sedikit bergetar,
“Silahkan duduk dik…!” katanya setelah kami berjabatan tangan.

Budhe Farah (sekarang aku harus memanggilnya begitu), duduk di samping pakdhe. Dgn mesra pakdhe merangkul pundak istrinya. Budhe menundukkan wajahnya seolah-olah takut bertatap pandangan dgn ku. Aku memakluminya, peristiwa di atas kereta api pasti membuatnya merasa malu.

Obrolan berlanjut, tetapi kuperhatikan budhe cenderung diam dan tampak kaku menghadapi suasana ini. Lalu ia bangkit dan pamit mau ke belakang.

“Silahkan diteruskan ngobrolnya, saya pamit dulu….”

Dgn berlalunya budhe, kembali pakdhe dgn semangatnya bercerita. Ternyata setelah kematian budhe Bekti dan sakit yg dideritanya, pakdhe berinisiatif untuk kawin lagi dgn wanita yg mau merawatnya. Jika dilihat dari selisih umur antara pakdhe Bekti dan budhe Farah terpaut cukup jauh. Tetapi pakdhe bangga dgn istri barunya ini, dgn sabar dan telaten ia merawat serta melayani pakdhe.

Aku ingat pada waktu di kereta api ibu Farah pernah bercerita kalau suaminya impoten karena penyakit gula yg dideritanya. Sekarang aku tahu kalau pakdhe memang menderita sakit gula dan impoten, klop !

Berarti, misteri suara dan lenguhan di dapur tadi sudah terkuak jelas. Adegan merangsang itu bersumber pada budhe Farah dan Iyem. Sekarang aku jadi maklum jika pelampiasan sex budhe Farah yg masih muda ini harus dituntaskan baik dgn masturbasi (seperti cerita dan fakta di atas kereta api) ataupun dibantu oleh Iyem pembantu rumah tangganya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB, berarti malam sudah mulai larut.

“Kamu nginep sini tho Gus ?” tanya pakdhe kepadaku
“Jika pakdhe mengijinkan…”
“Oh ya harus…. pakdhe masih kangen….je” kata beliau,
”Bu….bune…. tolong siapin kamar buat Bagus… dia mau nginep di sini….”
“Terima kasih pakdhe”
“Silahkan kalau kamu mau istirahat….. pakdhe jg sudah ngantuk….”

Kami berdiri dan pakdhe langsung menuju ke kamarnya. Aku berjalan menuju kamar tamu, ruangan yg sudah tdk asing bagiku. Ketika kubuka pintu kamar terlihat budhe Farah masih berada di dalam sedang membenahi seprai.

“Tutup pintunya dik…!” katanya lirih,
”Pakdhemu sudah masuk kamar…?”
“Sudah bu… barusan….” jawabku
“Tunggu sebentar, seprainya belum beres……” katanya membenahi seprai sambil membukukkan badan.

Pandanganku tertuju pada belahan daster longgarnya. Belahan payudara terbungkus BH tampak jelas di mataku. Sadar dipandangi seperti itu, budhe langsung menegakkan badannya.

“Hayo…. mata dik Bagus nakal ya….” katanya sambil tersenyum.
“Habis daster budhe yg longgar sich….” kataku,
“Budhe kelihatan pucat dan lemes, sakit ya dhe…? atau karena orgasme yg nikmat….?” tanyaku menggoda.
“Hei… tahu dari mana…?” katanya penasaran
“Tadi di dapur…. Bagus sempat nguping……”
“Ohh…..” wajahnya memerah,
“Untung ada Iyem…. coba kalau tdk ……” katanya menjelaskan
“Berarti tadi di-oral sama Iyem tho….?”

“Iya…..” jawabnya singkat,
“Kalau kamu nginep di sini berarti kamu bisa bantuin budhe….”
“Bantuan apa nich…”
“Ya….. nggantiin si Iyem…” budhe mengerlingkan matanya sambil tersenyum nakal.
“Kalau pakdhe tahu…..?”
“Iya pinter-pinternya kita…… yg jelas sekarang beliau pasti sudah tertidur, kalau sudah bau bantal pasti langsung lelap”

Aku jadi penasaran, ternyata budhe Farah binal jg. Tetapi aku memakluminya karena kondisi pakdhe yg tdk bisa ereksi. Sambil bebenah budhe Farah menceritakan kalau sejak menikah empat tahun yg lalu dgn pakdhe Bekti mereka tdk pernah berhubungan badan. Memang budhe Farah adalah seorang janda, tetapi nafsu sex pastilah masih menggebu namun pakdhe tdk bisa apa-apa.

“Aku sering kangen sama kemaluan laki-laki…… kalau sudah begitu jadi terangsang….. paling-paling masturbasi kalau tdk ya di-oral sama Iyem, pakdhe-mu tahu kok apa yg budhe lakukan. Sering budhe masturbasi di depan pakdhe-mu dan sering jg dia ikut bantuin….. kalau dgn Iyem, pakdhe hanya ngitip saja karena Iyem malu jika tahu ” Jelasnya panjang lebar,
“waktu di kereta api sebenarnya pingin banget, tdk sekedar bermasturbasi. Tetapi keadaanya tdk memungkinkan”

Pantesan tadi sore wajah dan badan pakdhe berkeringat, ternyata habis ngintip istri dan pembantunya ‘begituan’.

“Bagus tahu apa yg budhe rasakan……. Bagus mau membantu budhe…. tp tolong rahasiakan ini ya ?” budhe Farah hanya mengangguk.
“Nanti malam jika semua sudah terlelap budhe tunggu dik Bagus di kamar mBagus belakang. Tahu tho tempatnya…. jangan kamar mBagus dekat dapur ya…. nanti ketahuan Iyem….”

Memang, rumah besar ini punya dua kamar mBagus. Satu dekat dapur dan yg satu berada di halaman belakang.

“Baiklah kalau begitu budhe permisi dulu… jangan lupa nanti malem ya…?” budhe beralu sambil tersenyum genit.

Malam terasa panjang dalam penantianku. Gara-gara budhe genit aku semakin gelisah menunggu. Tidur gelisah dan kesunyian malam serta suara jangkrik mengiringi kegelisahanku.

Saat ini pukul 01.04 dini hari, aku mendengar suara pintu kamar pakdhe dibuka dan ditutup lagi dgn perlahan. Aku bangun dari tempat tidurku, kukonsentrasikan pendengaranku. Sekarang giliran pintu dapur mengeluarkan suara. Inilah saat yg kunantikan sejak tadi.

Dgn perlahan pula aku membuka pintu kamarku, ku tengok kiri-kanan hanya kegelapan yg ada. Setelah aku merasakan suasana aman, aku menutup pintu dan melangkahkan kaki dgn perlahan menuju ke arah dapur. Pintu belakang tdk terkunci, berarti budhe Farah sudah menungguku di kamar mBagus belakang rumah.

Aku keluar dgn hati berdebar. Tak kusangka pertemuan kedua ini menjadikanku sebagai malaikat sekaligus setan dalam hidupku. Malaikat karena menolong budhe yg ‘kehausan’ dan sebagai setan karena menghianati pakdhe Bekti. Rasa kasihan terhadap kedua orang ini membuat langkahku sedikit bimbang. Biarlah yg terjadi terjadilah.

Kuamati keadaan sekitar, kegelapan menyelimuti malam ini, sinar bulan redup hanya kunang-kunang dan jangkrik yg menjadi saksinya.

Dari dalam kamar mBagus yg hanya diterangi lampu 5 watt tampak sesosok bayangan. Aku langkahkan kaki mendekat.

“Eehemm…” kuberikan isyarat.

Dan tebukalah sedikit pintu kamar mBagus, sebagai jawaban isyaratku. Kembali aku meneliti sekitar, aman. Bergegas aku masuk ke kamar mBagus, seperti dugaanku semula budhe Farah sudah berada di sana menantiku.

Hanya dgn daster tipis tanpa BH dan celana dalam, tampak jelas kulihat terawangan payudara dan kemaluan budhe Farah.

“Dik Bagus…..” lirih sedikit berbisik.

Tiba-tiba budhe Farah memeluk tubuh dan melumat habis bibirku. Ciuman ganas budhe Farah membuatku kaget, aku belum siap menghadapi serangan ini. Mau tak mau akupun ikut terlarut dalam ciuman panasnya, lidah kami saling bertaut.

Mendapat perlakuan seperti itu langsung ku arahkan tanganku pada payudaranya. Remasan tanganku membuat budhe Farah semakin memejamkan matanya menikmati sentuhan yg sudah lama ia nantikan.

Dilepaskannya ciuman pada bibirku dan berbisik.

“Dikkk Annnddii….. Ooouugghh…. budhe tak tahan lagi… heegghh…” rintihnya.

Kini tangan budhe Farah ganti meremas kemaluanku.
“Kok sudah keras, kamu sudah ereksi dari tadi ya…?”
“Aku sudah tak sabar dhe….”
“Langsung saja ya Gus…. budhe sudah tdk tahan…. budhe pingin banget….” katanya sambil mengangkat dasternya dan menunggingkan pantatnya. Akupun tanggap, dgn segera aku keluarkan kemaluanku yg sudah ereksi. Ku letakkan

kemaluanku pada lubang memeknya, tangan budhe Farah menuntun kemaluanku agar dapat masuk dgn benar.
“Kok sudah basah banget budhe….”
“Sejak keluar dari kamarmu budhe sudah terangsang membayangkan peristiwa ini….”

Budhe Farah melepaskan genggamannya setelah merasakan ujung kemaluanku pas pada lubang memeknya. Akupun mendorong perlahan, sulit sekali rasanya ujung kemaluanku masuk ke lubang memeknya. Merasa ada sedikit kesulitan, sekarang kedua tangan budhe Farah menyibakkan bibir kemaluannya. Kurasakan lubang kemaluan budhe Farah semakin melebar, kudorong lagi kemaluanku. Baru saja kepala kemaluanku yg masuk, tubuh budhe Farah mengejang. Sambil menggigit bibir dan memejamkan matanya seakan menahan sesuatu yg dasyat.

“Ooooggghhh…….., pelan dik Bagus… rasanya sedikit perih…. maklum sudah lama tdk kemasukan kemaluan laki-laki”

Aku memakluminya. Dan sekarang aku kembali mencoba memasukkan kemaluanku lebih dalam, budhe Farah kembali mengejang. Ketika separuh terakhir batang kemaluanku kusodokkan masuk, teriakan budhe Farah sedikit mengeras.

“Aahhh…. hhggghh….”
“Sakit budhe…..”
“Sedikiiitttt …..”

ku biarkan budhe Farah mengatur nafasnya. Dilepaskan tangannya dari bibir kemaluan. Dan sekarang tangan itu diletakkan pada bibir bak mBagus untuk menygga badan, berarti sekarang budhe Farah telah siap menghadapi action berikutnya. Perlahan kutarik kemaluanku setengahnya, kumasukkan lagi dgn perlahan. Tarik – masuk – tarik – masuk , demikian seterusnya hingga terasa lebih lancar dan budhe pun mulai menikmatinya. Dgn pinggul digoyang-goyang mengikuti irama keluar – masuknya kemaluanku dan desahan-desahan sexy-nya membuatku lebih bersemangat.

“Aahhhh…Oooohhh…. Eeennaakk…. tterrussin nGusiii…”
“Iiiyyyaa bbuudhhee….. lubang kemaluan budhe sempit banget….. kemaluanku serasa dijepit….”
“Ppppuuunnnyyamu bbbeeesssaar sssiiiihhhh……”

Memang benar, selain lubang kemaluan budhe yg sempit karena sudah lama tdk digunakan, ukuran kemaluanku yg tergolong besar ini jg menjadi penyebab semakin nikmatnya persetubuhan ini.

Kini tanganku tdk tinggal diam, kuraih payudara budhe Farah dari belakang. Meremas serta menggesek putingnya semakin membuat budhe Farah terangsang. Goyangan pantatnyapun semakin cepat, membuat kemaluanku seperti dipilin-pilin.

Budhe Farah melepaskan tangan dari bibir bak mBagus, kini tubuh budhe ditegakkan dan tangannya melingkar di leherku. Kondisi seperti ini membuatku lebih bebas meremas kedua bukit payudaranya yg kencang. Sambil terus menusukkan kemaluanku, ciuman dan gigitan kecil mendarat pada lehernya. Sesekali ciuman itu beroperasi di kupingnya. Hal ini membuat budhe Farah semakin merasa terangsang. Tak henti-hentinya kemaluanku menusuk memek budhe Farah, demikian jg goyangan pantat budhe mengimbanginya. Irama permainan kami semakin cepat, tusukan-tusukan kemaluanku jg semakin ganas.

“Ceeepaat Gusii….oouugghh bbuudhe….. aagghhh”, tubuh budhe Farah mengejang, tangannya mencengkeram erat rambuku.
“Aaagghhh …….” teriakan kecil tertahan keluar dari mulut budhe Farah.

Budhe telah sampai pada puncak persetubuhan ini, orgasme yg hebat setelah sekian lama tdk merasakan kemaluan laki-laki menerobos memeknya. Tubuh budhe lemas lunglai, disandarkan kepalanya pada bak mBagus. Nafas ngos-ngosan, dgn mata terpejam dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Beliau menikmati orgasme hebat yg baru saja didapatkannya.

Aku menghentikan kegiatanku, memberi kesempatan pada budhe untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya. Ku belai-belai kulit mulus punggungnya, dan budhe Farah menikmati elusan itu untuk co***ng down setelah orgasme.

“Oohhh… trima kasih dik Bagus… budhe puas sekali, telah lama budhe menunggu saat-saat seperti ini. Beda sekali rasanya dgn masturbasi….. ini benar-benar nyata nikmatnya…..”

Aku lepaskan kemaluanku dari memeknya, tampak masih dalam kondisi ereksi dan mengkilat karena cairan memek budhe Farah.

Budhe Farah membalikkan badannya. Sekarang kami berhadap-hadapan.

“Oh… maaf… sampai lupa kalau kamu belum ‘keluar’…. habis budhe terlalu menikmati orgasme….”

Sekarang budhe Farah jongkok di hadapanku, diraihnya kemaluanku, dikocok-kocok penuh kelembutan. Dgn perlahan ditariknya kemaluanku dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Sedotan-sedotan kecil serta kulumannya membuat jantungku berdesir menahan rasa nikmat. Kini budhe mulai mengeluar masukkan kemaluanku pada mulutnya. Akupun mengikuti irama oral sex yg dilakukan budhe Farah. Secara otomastis akupun memaju mundurkan pantatku. Terlihat budhe Farah semakin meningkatkan kegiatan oralnya. Sesekali seluruh kemaluanku masuk ke dalam mulutnya, hebatnya budhe Farah tdk tersedak.

Irama semakin cepat dan ditambah lagi kocokan tangannya jg dipercepat. Beliau paham sekali dgn denyutan pada kemaluanku sebagai pertanda akan mengalami ejakulasi. Kini mulut budhe hanya mengulum dan tangannya semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Desakan dari dalam kemaluanku tdk dapat kutahan lagi, denyutan semakin cepat dan budhe Farah-pun menyedot kemaluanku dgn kuat.

“Aaagghhh….”

Akhirnya air manikupun keluar dgn semprotan kuat masuk kedalam mulut budhe. Beberapa kali semprotan kuat mengiringi tubuhku yg mengejang.

Ditelannya semua air mani yg keluar dari kemaluanku, tanpa setetespun meleleh dari mulut budhe Farah. Sensasi yg hebat aku rasakan mengiringi ejakulasiku.

“Aaahhh… gurih sekali di Bagus…. sudah lama jg budhe tdk merasakan gurihnya air mani….” katanya setelah melepas kemaluanku dari mulutnya.

“Terima kasih Gus…. budhe telah mendapatkan air di tengah kekeringan” bisiknya pelan.

Karena keadaan yg serba darurat dan tdk mendukung, kami segera merapikan kembali pakaian kami. Dgn tenang budhe Farah berjalan keluar dari kamar mBagus kembali ke kamar tidurnya. Beberapa menit kemudian aku menyusul masuk ke rumah dan ku lihat semua dalam keadaan aman.

Pagi ini udara sedikit dingin karena mendung menghayut di langit. Aku bangun agak kesiangan, kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 7.30. Dgn badan yg masih lemas dan mata ngantuk aku keluar dari kamar. Kudapati suasana sepi, langsung aku menuju kamar mBagus untuk buang air kecil dan gosok gigi.

Tatkala kulewati dapur, kulihat Iyem sedang sibuk menanak nasi untuk sarapan pagi ini.

“Eehhh… Mas Bagus sudah bangun…..”
“Iya Yem….” jawabku malas
“Kelihatannya masih ngantuk… tak buatin kopi ya mas ?”
“Terima kasih Yem…. aku tak gosok gigi dulu” dan akupun berlalu masuk ke kamar mBagus dapur.
“Kok sepi Yem…. pakdhe dan budhe pada kemana ?” teriakku dari dalam kamar mBagus.
“Nggak tahu mas… pagi-pagi sekali mereka sudah pergi…. oh ya… ini kan hari Kamis…. biasanya ndoro kakung tindak berobat…..” jelas Iyem dgn teriak.

Aku keluar dari kamar mBagus setelah pipis dan gosok gigi. Terlihat Iyem sedang mengaduk secangkir kopi hitam panas dalam cangkir.

“Mau minumnya di sini atau di meja makan mas ….?”
“Di sini saja Yem…. sekalian aku temenin kamu ….”
“Ini mas…. diminum dulu kopinya… selagi panas….” kata Iyem sambil meletakkan secangkir kopi.
“Makasih Yem…. ngomong-ngomong pakdhe berobat ke mana Yem ?”
“Kalau nggak salah ke pengobatan alternatif di Kartasura…. kasihan ndoro kakung lho mas….. karena penyakitnya ndoro putri jadi tersiksa batinnya….”

Aku tersenyum dalam hati sambil mengingat peristiwa tadi malam.

“Lho emangnya kenapa ndoro kakungmu…. ?” tanyaku memancing, padahal aku sudah tahu semuanya.
“Eehh… maaf ya mas… ndoro kakung ‘itu’-nya tdk bisa berdiri…. lemes…. jadinya ndoro kakung nggak bisa ‘main’ sama ndoro putri…..” jelas Iyem dgn malu-malu.
“Emangnya kamu tahu dari mana Yem…. kok sampai sedetail itu ?”
“Aaannu… ndoro putri yg cerita….. aku sudah dianggapnya sebagai anggota keluarga, jadi ndoro putri cerita semuanya…. lagian aku sudah dewasa tho….” Iyem tersenyum manis.
“Itu kan hanya cerita…. kalau tdk terbukti bagaimana ?” sekali lagi aku pancing si Iyem.
“Sekali lagi maaf mas…. dulunya Iyem jg penasaran…. tp suatu ketika Iyem melihat sendiri……….”
“Wee lha…. kok bisa sih Yem….”

Iyem menarik nafas panjang, kemudian dgn lugunya ia bercerita panjang lebar.

Waktu itu, ndoro kakung barusan pulang dari luar kota. Kebetulan ndoro putri lagi pergi ke Bandung. Sore itu terlihat ndoro kakung kurang enak badan, kecapean kali ya…. Karena tdk ada ndoro putri, sore itu Iyem dipanggil untuk memijat badan ndoro kakung.

Iyem melihat ndoro kakung sudah tengkurap diatas tempat tidur hanya dgn berbalut sarung.

“Yem tolong pijitin ya…. badanku rasanya capek banget….”
“Iya ndoro….. sebelumnya minta maaf….. Iyem naik ke tempat tidur ndoro”
“Nggak apa Yem…. naiklah ke sini”

Kemudian Iyem mulai membaluri punggung ndoro kakung dgn minyak kelapa. Tangan terampilnya mulai membuat gerakan pemijatan di seluruh permukaan punggung ndoro kakung. Dari mulai bagian leher dan terus turun sampai ke pinggang. Dan ketika tangan Iyem harus memijat ke bawah lagi, dgn segera tangan ndoro kakung menurunkan sarung yg menutupi pantatnya hingga melorot sampai ke kaki. Terlihat dgn jelas oleh Iyem kalau ndoro kakungnya tdk memakai apa-apa dibalik sarungnya alias telanjang bulat.

“Maaf ndoro… saya tdk berani….” kata Iyem malu
“Tak apa-apa Yem…. kamu ndak usah kuwatir… karena sakit gula aku sekarang tdk bisa ereksi lagi……” kata ndoro kakung dgn sedih.
“Maaf ndoro… ereksi itu apa ?” tanya Iyem lugu
“Oooo walah… dasar cah ndeso….. ereksi itu bahasa kedokteran…. yg artinya kemaluan laki-laki yg tegang….. pasti kamu lebih sering denger kata ‘ngaceng’…”
“Ooohhh….. “ wajah Iyem merah padam menahan malu,

“Kkkaalau iiitu…. saaayaa tahu ndoro…..”
“Lha itu… sekarang aku ndak bisa ‘ngaceng’ lagi… jadi kamu ndak usah kawatir kalau tak perkosa….. haaa…haaa” ndoro kakung tertawa lepas seolah lupa dgn penyakitnya.
“Kalau begitu Iyem boleh mijat sampai ke kemaluan ndoro kakung ya…?” sekali lagi kepolosan Iyem membuat ndoro kakung tertawa.
“Kalau pijatanmu bisa membuat kemaluanku ‘ngaceng’, kamu tak kasih uang banyak…..”

Mendengar kata ‘uang banyak’ Iyem bersemangat dalam memijat pantat ndoro kakungnya.

“Ndoro … kalau boleh sekarang saja kemaluan ndoro Iyem pijat….”
“Boleh… boleh….” ndoro kakung membalikkan badannya.

Sekarang tampaklah oleh Iyem bentuk kemaluan ndoro kakung yg kecil dan lemas. Bentuknya mirip milik si Narno anak kecil tetangga sebelah yg masih suka tdk pakai celana. Iyem tersenyum ketika melihat kemaluan ndoro kakung.

“Kok senyam-senyum …. Yem ?”
“Aaanuuu… ndoro….. mirip punya si Narno…..”
“Ahh… kamu itu….Emangnya kamu pernah melihat kemaluan orang dewasa nduk ?”
“Melihat sih belum ndoro…. tp Iyem bisa merasakannya ketika disuruh ngocok-ngocokin kemaluannya si Jarno…..” jawab Iyem polos.
“Jarno si tukang ojek itu…….?”
“Iya ndoro…. Iyem kan ada rasa sama dia, suatu malam ketika disuruh belanja ke toko sama ndoro putri Iyem naik ojeknya Jarno. Dalam perjalanan tangan Iyem yg biasanya memeluk pinggangnya tiba-tiba disentuhkan pada kemaluannya yg sudah ‘ngaceng’, terus Iyem disuruh ngocokin sampai si Jarno pipis di celanamya”
“Kalau begitu sekarang Iyem coba kocokin kemaluan ndoro kakung, biar bentuknya seperti punya si Jarno…” sambil berkata demikian tangan ndoro kakung meraih tangan Iyem yg berlumuran minyak kelapa dan menyentuhkan pada batang kemaluannya yg lemas.

Karena pengalaman tak terlupakan dgn si Jarno, tangan Iyem langsung bergerak naik turun mengurut batang kemaluan ndoro kakungnya. Terlihat ndoro kakung memejamkan matanya menikmati urutan tangan Iyem. Tp beberapa waktu berlalu kemaluan ndoro kakung tetap saja loyo dan lemas. Tdk dapat tegang seperti punya Jarno si tukang ojek.

“Ndoro…. tangan Iyem capek…. kok ndak bisa ‘ngaceng’ tho ndoro…..” kata Iyem memelas.
“Kan aku sudah bilang… kalau aku sudah tdk bisa ‘ngaceng’… kasihan ndoro putrimu…. sejak jadi istriku belum pernah aku menyetubuhinya…..” pandangan ndoro kakung menerawang dibalur kesedihan, ”Paling banter aku hanya membantunya masturbasi..”
“Tp … paling tdk ndoro putri jg merasakan kenikmatan tho ndoro….” jelas Iyem sedikit menggurui,
“Iyem jg pernah merasakan kemaluan Iyem diobok-obok sama si Jarno…. dan akhirnya Iyem jg pipis dicelana dan badan Iyem jadi lemes…. enak banget ndoro” keluguan Iyem ciri khas anak desa.
“Iya… aku tahu Yem…. memang ndoro putrimu merasakan orgasmenya… tp tetap saja ada yg kurang tanpa kemaluan laki-laki masuk ke lubang kemaluannya” ndoro kakung menjelaskan,
”Baiklah Yem… kalau tanganmu capek…. pijatannya ndak usah diterusin….. sana kalau mau tidur…. lagian aku jg ngantuk….”
“Baiklah ndoro…..” kata Iyem sambil turun dari tempat tidur.

Itulah sekelumit kisah Iyem yg mencoba meyakinkanku tentang kemaluan pakdhe Bekti yg tdk bisa ereksi alias impoten karena penyakit gula.

“Budhe tahu nggak Yem…. kalau Iyem pernah ngocokin kemaluan pakdhe…..?” pancingku lagi.
“Akhirnya ndoro kakung cerita tentang peristiwa ini ke ndoro putri… dan beliau tdk marah malah sekarang Iyem yg dijadikan pembantu luar dalam…..”
“Apa maksudnya… ?”
“Mas Bagus jangan cerita masalah ini dgn ndoro kakung lho….. ?”
“Ndak… kalau kamu mau cerita terus terang, aku ndak akan cerita pada pakdhe….”
“Sekarang Iyem suka disuruh membantu ndoro putri kalau beliau sedang ‘pingin’….. Iyem disuruh njilatin kemaluannya sampai ndoro putri mencapai kepuasan….. terus timbal baliknya ndoro putri jg njilatin kemaluan Iyem sampai Iyem kelojotan kayak ayam disembelih…. rasanya nikmatttt banget…..” katanya lugu.

“Oh… itu namanya oral sex Yem…. jadi hubungan sex dgn memakai mulut dan lidah untuk merangsang pasangannya….”
“Iya mas…. daripada tangan si Jarno yg ngobok-obok kemaluan Iyem….. kadang-kadang terlalu kasar, bukannya nikmat tp malah perih semua….” jelasnya,
“Kalau ndoro putri orangnya lembut, sabar….. jadi Iyem bisa menikmatinya sampai akhir….. itu yg diajarkan ndoro putri pada Iyem ketika harus membantu memuaskan ndoro putri……”

mendengar cerita polos dan lugu dari Iyem aku jadi terangsang. Kemaluanku mulai ereksi…..

“Kalau dgn si Jarno…. kamu pernah melakukan oral sex nggak…?”
“Belum pernah mas…. paling-paling ngocokin saja…. lha wong ketemunya kalau lagi naik ojeknya…..”
“Berarti kamu belum pernah melihat secara langsung kemaluan laki-laki yg sedang ‘ngaceng’ ya….?”
“Belum tho mas…. lha wong ngocoknya dari belakang, kan Iyem sedang mbonceng sepeda motornya…”
“Waahh… berarti masih ada yg kurang Yem…. paling tdk kamu selain merasakan jg harus melihat bentuknya….”
“Yaa…. sulit mas….. Iyem hanya bisa membayangkan saja bentuk kemaluan si Jarno….”
“Ngomong-ngomong, kamu mau nggak lihat kemaluan laki-laki yg sedang ‘ngaceng’…?” pikiran kotorku mulai beraksi.
“Pingin sih pingin mas…. tp ketemu sama si Jarno kan tdk bisa siang hari karena kalau siang dia kerja di Pasar Klewer sedangkan Iyem harus mengurus rumah ini …..”

“Kalau selain Jarno……?”
“Siapa lagi selain dia….. aku ndak pernah berpikiran kepada yg lain….”
“Kalau aku bagaimana…?”
“Haa… mas Bagus…..!” Iyem terkejut dgn pernyataanku, wajahnya merah padam menahan malu.
“Iya Yem…. aku, laki-laki yg sekarang ada di hadapanmu….”
“Ahhh… Iyem malu mas….” wajahnya tertunduk
“Ndak usah malu…. demi menghilangkan rasa penasaranmu, aku bersedia menunjukkannya padamu…?”
“Yg bener mas….. emang mas Bagus ndak malu….”
“Tentu tdk Yem… ingat ndak, waktu kecil dulu kita sering main dokter-dokteran….. kamu yg jadi dokternya dan aku yg disunati…. atau ketika kita mBagus bersama di pancuran sebelah utara desa…. kamu jg yg nyabuni seluruh tubuhku termasuk ‘titit’-ku…..”

“Itu kan dulu mas… waktu kita masih kecil… sekarang….. kan beda….”
“Justru itu Yem…. lama kita tdk bertemu, banyak sekali perubahan pada dirimu dan diriku. Bagaimana kalau sekarang kita membBagusngkan tubuh kecil kita dulu dgn tubuh kita yg sekarang ….?”
“Ah malu mas….” jawab Iyem tersipu, wajahnya memerah.
“Ndak usah malu, Yem…. sekarang hanya ada aku dan kamu…..” rayuku
“Kalau… kalau begitu mas Bagus mulai dulu…”

Mendapat lampu hijau dari Iyem, aku segera beraksi dgn membuka celana pendekku. Iyem terdiam dan memperhatikan apa yg aku perbuat. Setelah celana pendek terlepas sekarang t-shirt aku lepaskan, sekarang hanya celana dalam yg melekat di tubuhku.

“Ayo Yem sekarang gantian kamu….”
“Ahh… Iyem malu mas….” jawabnya. Tetapi antara omongan dgn perbuatan berbeda.

Iyem mengatakan malu tetapi tangannya mulai membuka kancing bajunya satu persatu. Setelah dilepaskannya baju merah mudanya Iyem terlihat sexy dgn BH cream yg selaras dgn warna kulitnya yg kuning langsat. Kini kedua tangannya mengarah ke belakang rok dan mulai membuka kancingnya. Tak lama kemudian rok biru tua itu sudah melorot dari tubuhnya. Wow… tubuh Iyem terlihat sempurna, hanya dgn mengenakan BH dan celana dalam yg jg berwarna cream terlihat perbedaan yg sangat nyata dibBagusng Iyem kecil dulu.
Payudara yg montok dan perut yg langsing terlihat amat sexy sekali.

“Wow… kamu sexy sekali Yem… tubuh kamu sempurna sebagai wanita dewasa…” sanjungku
“Ahhh… Mas Bagus jg …..” balasnya

Sekarang giliranku melepas celana dalam, dan kemaluanku kini tepampang jelas dihadapan Iyem. Dgn wajah terkejut dan muka merah padam Iyem menutup mulutnya dgn telapak tangan.

“Kenapa Yem….”
“Nnndak…. Iyem…. hanya kaget melihat ukuran kemaluan mas Bagus…. besar ya mas….”

tanpa melepaskan pandangan dari kemaluanku, Iyem melepaskan kait BH-nya. Sepasang payudara montok menyembul keluar seolah tak kuat lagi berada dalam cup BH. Putih mulus dgn puting berwarna merah gelap. Tangan Iyem secara reflek langsung menutup payudaranya.

“Kenapa ditutupi Yem…. ndak usah malu…. biarkan mas Bagus melihat dan mengagumi apa yg kamu miliki…”

Mendengar perkataanku secara perlahan Iyem melepaskan tangan yg menutupi payudaranya. Kini dgn leluasa aku dapat melihat dan mengagumi payudara montok milik Iyem. Tangan Iyem mulai meraih celana dalam dan menurunkannya. Dgn posisi menunduk, payudara montoknya menggantung dgn indahnya. Setelah Iyem itu Iyem kembali menegakkan badannya. Sekarang dgn jelas aku melihat kemaluan gadis desa yg lugu ini. Di antara paha yg mulus terlihat kemaluan yg rimbun ditumbuhi rambut. Kontras sekali dgn putihnya kulit paha dan ketelanjangan Iyem membuat kemaluanku semakin ereksi.

Kami saling memandangi apa yg terpampang jelas di depan kami. Aku kagumi tubuh perawan desa yg lugu ini dan Iyempun tak melepaskan pandangannya dari kemaluanku yg ereksi berat. Cukup lama kami saling mengagumi dan angan kami kembali ke masa kecil dimana kami pernah jg telanjang bersama, tetapi sekarang keadaan sudah berbeda jauh.
Tiba-tiba kami mendengar pintu depan diketuk, Pakdhe dan budhe sudah pulang.

“Iyem…..Iyem…. buka pintunya nduk…..!” terdengar jelas teriakan budhe hingga ke dapur.

Bergegas kami berdua kembali mengenakan pakaian yg sudah terlepas dari tubuh. Iyem tdk sempat mengenakan celana dalam dan BH-nya, demikian jg aku yg tdk sempat mengenakan celana dalam sehingga kemaluan yg ereksi tampak jelas di balik celana pendekku. Setelah semua terlihat rapi aku segera masuk ke dalam kamar, dan Iyem menuju ke pintu depan.

“Kok lama tho Yem….” budhe Farah memprotes.
“Maaf ndoro putri… Iyem lagi masak di dapur.
“Yo wis…. mana mas Bagus kok tdk kelihatan….”
“Ada di kamar, ndoro”

Setelah mereka masuk, Iyem langsung kembali ke dapur, pakdhe dan budhe terus ke kamarnya.

Degup jantungku masih saja berdetak kencang, betapa malunya jika hal ini ketahuan mereka. Kemaluanku masih saja ereksi, tanggung banget rasanya.

Beberapa menit kemudian pintu kamarku diketuk.

“Dik Bagus…. Dik…..” terdengar suara budhe Farah sambil mengetuk pintu.
“Ya…..” jawabku sambil membukakan pintu.
“Kirain masih tidur…… sudah sarapan belum”
“Belum budhe….” jawabku sambil melihat keadaan sekitar. Sepi …. hanya budhe yg ada di hadapanku.
“Lho pakdhe mana ?”
“Pakdhemu langsung tidur…. habis minum obat” jelas budhe kepadaku.

Tiba-tiba mata budhe Farah menatap bagian bawah tubuhku, dan kemaluan yg ereksi masih menyembul dibalik celana pendekku. Terlihat ekspresi wajah budhe memperlihatkan keterkejutannya. Tak kalah terkejutnya aku tatkala tangan budhe tiba-tiba meraba dan meremas kemaluanku.

“Lho… kok…..” katanya pendek sambil tersenyum.
“Iya….” jawabku singkat.
“Pagi-pagi kok sudah begini…. semalem kurang puas ya…?” bisik budhe tanpa melepaskan tangannya bahkan semakin aktif meremas-remas kemaluanku.
“Nggak jg sih….” jawabku gugup, sambil melihat kembali situasi di luar kamar.
“Tdk ada siapa-siapa…. ndak usah takut” bisik budhe menenangkanku.

Remasan tangannya semakin aktif dan tak hanya itu, sekarang budhe Farah memasukkan tangannya ke dalam celana pendekku. Remasannya semakin terasa pada kemaluanku yg sudah tegang dari tadi. Tak hanya remasan, kini gerakan naik turun mulai dilakukan budhe pada kemaluanku. Kocokan lembutnya membuat aku semakin tdk dapat menahan nafsuku. Nafasku mulai tdk teratur, jantung berdegub lebih cepat.

“Jangan budhe, nanti ketahuan….. ” kataku mengingatkannya. Budhe hanya menggelengkan kepalanya.
“Ndak ada siapa-siapa…. Iyem jg masih di dapur….”

Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh dari arah dapur, kami berdua kaget bukan main, tangan budhe Farah dgn reflek ditarik keluar dari dalam celanaku, dan budhe satu langkah mundur dari tubuhku. Tak lama kemudian tampaklah Iyem muncul dari dalam dapur dan berjalan ke arah kami.

“Ndoro… sarapan sudah Iyem siapkan…”
“Teeerima kasih Yem…” kata budhe terbata-bata,
”Ayo dik Bagus kita sarapan dulu, ndak usah nunggu pakdhemu…” kata budhe sambil berjalan ke arah ruang makan.
“Iya budhe… sebentar”

Budhe Farah telah masuk ke dalam ruang makan. Kini aku hanya berdua dgn Iyem. Ku lihat Iyem terus memandangi celanaku yg menggembung. Dgn penuh keberanian aku raih tangan Iyem dan ke sentuhkan pada kemaluanku. Iyem terkejut dgn apa yg aku perbuat. Setelah hilang rasa terkejutnya Iyem menatapku sambil tersenyum.

“Masih ‘ngaceng’ ya mas….” katanya berbisik sambil terus memegangi kemaluanku.
“Iya… Yem”

Masih menatap wajahku sambil tersenyum, tangan Iyem mulai meremas dan mengocok kemaluanku, akupun tak mau ketinggalan. Dgn segera kuremas-remas payudara montok di balik bajunya.

“Kamu belum pakai BH ya Yem….” bisikku
“Iya mas….. Iyem jg ndak pakai celana dalam” Iyem menjelaskan. Kami berdua tersenyum simpul.
“Eeheem…. eehheem…” terdengar suara budhe Farah dari ruang makan, kami segera melepaskan tangan dan menghentikan kegiatan kami.
“Ayo sarapan dulu….” teriak budhe Farah dari ruang makan.

Aku bergegas menuju ke ruang makan dan Iyem kembali ke dapur. Terlihat budhe Farah baru saja duduk dan mulai mengambil nasi. Aku curiga dgn senyumannya. Pasti tadi beliau sempat melihat apa yg aku dan Iyem lakukan. Aku duduk di sebelah budhe, karena kursi makan hanya dua dan berdampingan.

Budhe Farah masih tersenyum-senyum sambil menuangkan teh hangat pada cangkirku. Kecurigaanku bertambah dgn apa yg kulihat dari gerak-geriknya.

“Ada apa, kok budhe senyam-senyum terus….”
“Ndak….” katanya masih dgn senyuman,
”Kamu tadi ngapain dgn Iyem…..”
“Oh… itu tho…..” jawabku singkat.

Aku segera bercerita tentang pengalamanku pagi ini dgn Iyem. Budhe Farah memperhatikan sambil menyantap sarapannya. Sesekali tersungging senyuman di bibirnya.

“Oh pantes… pagi-pagi kok sudah ereksi…. budhe pikir semalem belum tuntas” kata budhe,
”Sekarang masih ereksi kan ?”

Tangan budhe menyusup ke dalam celanaku dan menemukan kemaluanku yg tegang. Dikocoknya perlahan-lahan. Aku hentikan acara sarapanku, kunikmati kocokan tangan budhe pada kemaluanku. Merasa kesulitan karena terhalang celana pendek maka aku menurukan celana pendekku sebatas paha sehinga kemaluanku dapat bebas mengacung dan budhe Farah –pun dgn leluasa melakukan kegiatannya. Aku tdk tinggal diam, giliran tanganku menyusup dibalik roknya dan menemukan kemaluan yg terbungkus celana dalam tipis.

“Sebentar….” kata budhe.

Dilepaskannya tangan dari kemaluanku, demikian jg aku melepaskan tanganku dari sela pahanya. Budhe berdiri, melepas celana dalamnya dan segera duduk kembali. Kami langsung melakukan kegiatan yg sempat tertunda. Sekarang dgn leluasa jari-jariku dapat memaikan clitorisnya tanpa terhalang celana dalam.

Kami berdua saling menikmati. Kocokan tangan budhe terasa semakin dipercepat dan tangankupun semakin cepat jg menggosok clitorisnya. Nafas kami berdua semakin memburu, desahan-desahan nafsu terpaksa kami tahan agar tdk menimbulkan suara.

“Dik…. aku tdk tahan…. Ahhh… pingin banget ‘main’….” bisiknya
“Jangan…. nanti ketahuan….” jawabku mengingatkan.
“Biar…. paling Iyem yg tahu…. aku sudah ndak kuat….”

Budhe Farah berdiri, kemudian beliau berdiri tepat di hadapanku. Dilangkahkan kaki diantara pahaku, dan diarahkan lubang kemaluanya pada kemaluanku yg tegang. Diruntunnya kemaluanku, perlahan-lahan mulai diturunkan pantatnya. Secara perlahan jg kemaluanku masuk kedalam lubang kemaluannya hingga habis. Sekarang dgn aktif budhe Farah menggoyangkan pantatnya dan dgn aktif pula aku meremas-remas payudaranya.

Kami semakin menikmati persetubuhan ini. Desahan budhe semakin hebat, beliau sudah tdk menghiraukan lagi desahannya yg menggema di ruang makan ini. Nafsu birahi telah menyelimuti akal sehatnya. Yg jelas pasti Iyem mendengar desahan budhe karena jarak ruang makan dgn dapur hanya terpisahkan oleh korden kain tipis.

Betul dugaanku, terlihat bayangan seorang perempuan di balik korden tipis. Jelas bahwa Iyem tengah asyik melihat persetubuhan kami. Dgn perlahan Iyem menyibakkan gorden dan tersenyum kepadaku akupun membalas senyumannya. Budhe Farah tdk mengetahui hal ini karena posisinya membelakangi Iyem.

Dgn ganasnya budhe Farah terus menggoyangkan pantatnya, akupun mengimbangi permainan yg semakin hebat ini. Diseberang sana Iyem menonton adegan ini dgn mata tak berkedip. Dapat kulihat semburat merah wajah dan nafas Iyem yg tdk teratur menandakan Iyem sedang terangsang. Kini kedua tangan Iyem tampak meremas-remas sendiri payudara montoknya. Matanya mulai melek merem menikmati remasan yg merangsang payudaranya.

Budhe Farah semakin mempercepat irama permainan, desahan nafsunya semakin hebat.

“Oouuggghhh…. akkkuuuu…. aaagghhh…” lenguhan panjang dan diiringi dgn kejang pada tubuh budhe Farah menandakan orgasme wanita ini telah tercapai.

Tangan budhe erat mencengkeram bahuku, tanganku berpegang pada pinggangnya dan dgn sekuat tenaga aku tusukkan kemaluanku sedalam mungkin kedalam kemaluan budhe Farah. Beliau disela-sela orgasmenya kembali berteriak kecil.

“Aaaaggghhh……. ooouuuggghhhh” tubuhnya lemas lunglai seperti tdk bertulang lagi dan ambruk memelukku.

Mengetahui hal tersebut Iyem segera masuk kembali ke dapur. Tanggung, pasti Iyem sedang tanggung. Ditengah-tengah antara terangsang dgn penyaluran nafsunya. Aku hanya bisa melihat raut wajah Iyem yg kecewa.
Budhe Farah Bergegas turun dari pangkuanku. Air mani meleleh dari sela pahanya, kemaluanku masih tegang dan mengkilat oleh cairan air maniku. Diambilnya celana dalam tipisnya, disekanya belahan kemaluan dan kini giliran kemaluanku dibersihkan dari sisa-sisa air mani.

“Kamu belum keluar ya dik…..?” budhe Farah bertanya disela-sela kegiatan membersihkan kemaluanku.
“Belum budhe……”
“Mau dikeluarin sekarang…… budhe kocokin ya…?” tangannya mulai digerakkan naik turun.
“Ndak usah budhe…. nanti keburu pakdhe bangun….” larangku.
“Pakdhemu bangunnya nanti siang…. selagi obatnya bereaksi pasti tdk akan terbangun….” budhe Farah menjelaskan.
“Budhe tahu ndak, tadi Iyem melihat persetubuhan kita…” kataku tenang.
“Haa….” hanya itu yg keluar dari mulut budhe Farah menandakan keterkejutannya,
“Yg bener dik….. terus….”
“Ya ndak apa-apa, si Iyem jg terangsang…… dia sempat merangsang dirinya sendiri……” jelasku

“Kasihan dia…. biar nanti budhe yg memuaskannya….”
“Sebenarnya sejak pagi tadi kami sudah terangsang kok budhe…. habis budhe pulangnya cepet…. jadinya tertunda”
“Pantes… tadi kalian saling meraba-raba… ya kan ?” budhe tersenyum.
“Bagaimana kalau Iyem diajak sekalian ke sini budhe….” saranku. Pikiranku mengajak mereka untuk Three Some alias ngesex bertiga.
“Hhmmmm… boleh jg, sekalian ngajarin dia…. sudah lama dia pingin ‘begituan’ dan aku hanya memberikan teori saja kepadanya” jelas budhe Farah bersemangat,
“Kalau begitu kita pindah saja ke dapur, dik Bagus tunggu di sini sebentar terus nanti menyusul ya !”

Budhe Farah mengedipkan matanya dan berjalan ke arah dapur. Aku kembali mengenakan celana pendekku.

Tak lama kemudian aku menyusul masuk ke dapur. Disana kulihat budhe Farah tengah berciuman dgn si Iyem. Tampak mereka tdk hanya berciuman, tetapi tangan mereka jg tengah aktif saling menggosok kemaluan. Kebetulan posisi budhe Farah tepat ke arahku sedangkan Iyem membelakangi. Budhe Farah mengedipkan matanya memberi tanda kepadaku untuk segera bergabung. Tanpa komando lagi aku segera menghampiri mereka. Dari posisi belakang tanganku segera ku arahkan pada kedua payudara montok Iyem. Kuremas dgn lembut, kurasakan kekeyalan payudara perawan desa ini.

Iyem sempat terkejut dgn ulahku, tetapi budhe Farah tdk memberi kesempatan Iyem melepaskan bibir dari ciumannya.
Setelah mengetahui bahwa aku yg meremas payudaranya, mata Iyem kembali terpejam menikmati remasan-remasan lembut itu. Sekarang ku masukan tanganku di balik bajunya. Kutemukan bongkahan payudara yg montok dgn puting yg sudah mengeras tanda Iyem sudah terangsang hebat. Tdk hanya remasan, kini jari-jariku dgn leluasa memainkan puting payudaranya.

Dilepaskannya ciuman dari bibir budhe Farah, desahan Iyem keluar dari bibirnya.

“Aahhh…. Oouugghh… eennnaakkk…. mmaasss”

Budhe Farah melepaskan tangannya dari kemaluan Iyem, lalu dgn leluasa dia melepaskan kancing baju Iyem satu persatu. Terbukalah baju Iyem, tanganku terus beroperasi pada payudaranya. Budhe Farah jongkok, dan dibukalah rok Iyem, sekarang Iyem sudah telanjang. Dgn segera budhe Farah malakukan oral sex kepada Iyem. Tak puas dgn itu, budhe menurunkan celana pendekku sehingga kemaluanku mencuat keluar. Dgn tangan kanannya, diselipkan kemaluanku disela-sela paha Iyem.

Kini tampak dihadapan budhe Farah kemaluan Iyem dan sekaligus ujung kemaluanku. Dgn senyuman manis budhe Farah kembali melakukan aksi oralnya. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Lidah budhe Farah aktif menjilati clitoris Iyem sekaligus menjilati ujung kemaluanku. Goyangan pantatku maju mundur menghasikan gesekan pada kemaluan Iyem. Three Some kami semakin bertambah semangat. Aku hentikan kegiatan kami, aku lepaskan t-shirt dan telanjang, Iyem melepaskan bajunya, dan budhe Farah jg melakukan hal yg sama. Sekarang kami bertiga sudah tdk lagi mengenakan berpakaian selembar benangpun.

“Katanya kamu pingin ‘ngemut’ kemaluan laki-laki…. sekarang kamu ‘ngemut’ milik mas Bagus….” budhe Farah memerintahkan Iyem untuk mengoral kemaluanku.

Dgn sedikit ragu Iyem menggenggamkan tangannya dan memasukkan kemaluanku pada mulutnya. Perlahan-lahan ujung kemaluanku mulai keluar masuk mulut Iyem. Semakin lama ditambah dgn sedotan-sedotan kecil yg semakin membuat kemaluanku bertambah tegang. Pintar jg si gadis desa ini, pasti budhe Farah yg mengajari teorinya. Karena posisi Iyem yg menungging dan mengoral kemaluanku, budhe Farahpun jongkok di belakang pantat Iyem. Satu tangan budhe Farah terus menggosok-gosok kemaluan Iyem, sedangkan tangan yg lainnya menggosok kemaluannya sendiri.

Tangankupun tdk hanya diam, kuraih payudaya montok Iyem yg bergoyang-goyang menggantung. Kuremas dan kupililn-pilin putingnya. Kami bertiga tenggelam dalam kenikmatan yg tiada tara. Permainan ini semakin terasa mengasyikan. Iyemlah yg paling merasakan efek permainan ini, bagaimana tdk, dia diserang dari depan dan belakang sekaligus. Dgn sesekali tersedak karena kemaluanku terlalu masuk ke dalam mulutnya, Iyem tetap saja dgn semangat mengenyoti ujung kemaluanku. Budhe Farah tampak menikmati gosokan tangan pada kemaluannya yg sudah basah.

Beberapa saat kemudian kami bertiga berganti posisi, sekarang Iyem duduk di meja dapur dgn kaki dibuka lebar-lebar sehingga tampak olehku belahan kemaluan berwarna coklat kemerahan dikelilingi rambut yg tumbuh lebat, giliran budhe Farah yg menunggingkan pantatnya dgn wajah tepat pada kemaluan Iyem. Dgn kaki yg dibuka lebar dari belakang aku tusukkan kemaluanku pada lubang kemaluan budhe Farah. Kembali gelora nafsu bergejolak pada kami bertiga.

Permainan semakin panas, kami saling menikmati permainan bertiga ini. Tampak kulihat mata Iyem yg melek merem menahan nikmat dan geli ketika lidah budhe Farah menyapu clitorisnya. Diremas-remas payudara montok miliknya, sambil memilin puting susu yg mengeras. Budhe Farah semakin aktif menggoyangkan pantatnya seirama dgn tusukan kemaluanku.

Beberapa menit berlalu, Iyem memegang kepala budhe Farah dan menekan kepala itu pada kemaluannya. Dgn wajah mendongak ke atas dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya, tubuh Iyem mengejang.

“Aaagggh… nnndoorooo…. Iiiiyemmm ….ooougghhh”

Orgasme hebat melanda gadis desa yg lugu itu. Kenikmatan tiada tara, terihat Iyem menggigit bibirnya menahan kenikmatan yg luar biasa.

Tak lama berselang budhe Farah menyusul Iyem. Dirapatkannya kaki, sehinga paha budhe Farah dgn erat menjepit kemaluanku yg sedang aktif bergerak. Tangan budhe dgn erat mencengkeram paha Iyem karena menahan dorongan kenikmatan puncak persetubuhan ini.

“Aaahhh…. nnniikkkmmmat…… uuuhhh” lenguhan panjang mengakhiri kontraksi otot memek budhe Farah.

Melihat mereka berdua sudah mencapai orgasme, maka kupercepat irama tusukan kemaluanku. Sekarang mulai terasa denyutan-denyutan pada kemaluanku.

“Aahh…. oouugghhh….”

Akhirnya akupun tak dapat menahan desakan air mani yg memancar hebat, menyemprot beberapa kali di dalam kemaluan budhe Farah.

Kami bertiga berpelukan, dgn senyuman puas atas permainan sex kami. Kecupan kecil saling kami berikan satu sama lain. Dgn komitmen bersama bahwa kita akan selalu merahasiakan permainan ini pada siapapun.

Setelah kami bertiga membereskan pakaian yg terserak dan mengenakannya kembali, suasanapun kami bangun seolah-olah tdk pernah ada adegan three some di dapur ini.

“Aku keluar dulu ya…. badanku jadi lemes dan ngantuk…. aku nyusul pakdhe-mu…” kata budhe dgn wajah sayu.

Budhe Farah berjalan keluar dari dapur, aku langsung menuju ke kamar mBagus, dan Iyem kembali melanjutkan aktivitasnya. Gila, liburan cuti tahunanku kali ini diisi dgn pengalaman yg sangat berkesan dan penuh dgn kejutan.

Setelah selesai mBagus, aku segera keluar dari kamar mBagus. Segar sekali badan rasanya setelah tenaga terkuras dalam permainan gila pagi ini.

Tak kuduga, di depan pintu kamar mBagus pakdhe Bekti hanya mengenakan sarung sudah berdiri dgn keringat mengucur dan wajah merah padam.

“Lho, sudah bangun dhe..” sapaku menghilangkan rasa terkejut.
“Iya Gus….. Ayo gantian….” katanya sambil tersenyum.

Aku tersadar, dan kupersilakan pakdhe Bekti untuk masuk ke kamar mBagus.

Aku berjalan menuju ke kamarku, di lorong dapur aku berpapasan dgn Iyem. Iyem melihatku dgn senyuman manisnya.

“Mas Bagus….. sudah puas…… ?” katanya sambil tersenyum menggoda.
“Iya…Yem….. puas sekali….” jawabku sambil mencubit lengannya.
“Kapan-kapan Iyem pingin ‘begituan’ dgn mas Bagus… tpnya jangan sama ndoro putri… Iyem pingin berdua saja…..” katanya lugu.
“Iya Yem… nanti kalau ada kesempatan pasti mas Bagus puasin Iyem….” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.
“Iyem… kesini nduk…..” tiba-tiba terdengar teriakan pakdhe Bekti dari dalam kamar mBagus.
“Ya ndoro…..” teriak Iyem sambil berlari kecil menuju kamar mBagus, “Ada apa ndoro…..”
“Sini nduk… masuk sini….”

Suara pakdhe terdengar jelas di telingaku. Aku menjadi penasaran, mengapa Iyem harus masuk ke kamar mBagus?.
Pasti akan terjadi sesuatu. Dgn rasa penasaran aku mengendap-endap mendekati kamar mBagus. Iyem sudah tdk terlihat lagi, berarti dia sudah bersama pakdhe di dalam kamar mBagus ini. Dgn penuh ketenangan aku dapat mengintip melalui lubang kecil pada papan. Dgn jelas ku lihat keadaan di dalam kamar mBagus. Terlihat pakdhe Bekti yg telanjang dan Iyem berada di hadapannya dgn wajah terkejut sambil menutupi mulutnya.

“Yem…. lihat Yem…. kemaluanku sedikit ‘ngaceng’…..” kata pakdhe sambil memamerkan kemaluannya.
“Iya…ndoro…. berarti ndoro sudah hampir sembuh….” kata Iyem gembira.
“Tulung nduk…. dikocokin…. ndoromu pingin banget…..” ujar pakdhe.
“Lho… kan ada ndoro putri…. ?”
“Ndoromu sudah tertidur…..” pakdhe segera meraih tangan Iyem dan menggenggamkan pada kemaluannya.
“Weeh… sudah lumayan keras ndoro… tdk seperti kemarin….” kata Iyem sambil melakukan gerakan mengocok kemaluan ndoronya.
“Ouughhh… eeennnaakkk…. Yeemmm” mata pakdhe melek merem merasakan nikmat.

Tangan Iyem terus melakukan gerakan naik turun, mengurut-urut kemaluan pakdhe Bekti. Terlihat kemaluan pakdhe semakin membesar, Iyem-pun dgn lebih semangat melakukan aksinya. Tiba-tiba pakdhe menekan pundak Iyem, sebagai isyarat agar pembantunya berjongkok. Dgn senyuman manis Iyem-pun mengetahui maksud dari ndoro kakungnya.
Sekarang posisi wajah Iyem tepat pada kemaluan pakdhe yg sudah tegang. Segera dilahapnya kemaluan itu masuk ke dalam mulutnya. Oral sex segera dilakukannya demi kepuasan sang ndoro kakung.

Sedotan demi sedotan, kemaluan pakdhe keluar masuk mulut Iyem.

“Oouggghh… enakkk … Yeemmm…. kkaammu..pinteerr … bangeeet ngeeemuutnyaa… aahhhh” tangan pakdhe aktif memegangi kepala Iyem yg maju mundur mengoral kemaluannya.
“Ssuuudddaahhh… Yyeemmm…. jjjaannggan sampaiii kkkelluuaarrr….” kata pakdhe sambil menahan kepala Iyem.

Iyem menghentikan gerakan, dan segera mengeluarkan kemaluan pakdhe dari mulutnya.

“Lho kok sudah ndoro….” katanya heran.
“Jangan Yem… aku pingin ‘main’dgn ndoro putrimu… sejak menikah aku belum pernah memasukkan kemaluanku ini ke dalam miliknya….” pakdhe berkata sambil mengenakan sarungnya.

Aku segera menyingkir dan bersembunyi di dapur. Dan kulihat pakdhe dgn tergesa-gesa keluar dari dalam kamar mBagus dan langsung menuju ke kamarnya.

Setelah aman aku kembali menuju ke kamar mBagus. Terlihat Iyem dgn wajah terkejut melihat kedatanganku.

“Lho… mas Bagus…. kok masih di sini ?”
“Iya.. Yem… aku tahu semuanya…..”
“Mas Bagus ngintip ya… ?”

Aku hanya menganggukkan kepala. Aku raih tangan Iyem dan menariknya keluar dari kamar mBagus.

“Ayo Yem…. kita intip mereka…. aku pingin tahu bagaimana orang tua itu menjalani hubungan sex mereka”
“Ahh… mas Bagus ini ada-ada saja….”
“Oyo cepetan….. nanti keburu selesai….”

Iyem tdk menolak, dan kami berdua segera menuju ke kamar pakdhe. Setelah mendapatkan tempat yg strategis, aku dan Iyem bergantian mengintip karena lubangnya hanya satu.

Waktu kami mengintip, adegan sudah berlangsung. Pasti pakdhe langsung saja ‘main’ tanpa melakukan pemanasan kepada budhe, ini terbukti bahwa budhe masih mengenakan daster dan celana dalamnyapun masih menggantung pada kaki sebelak kiri. Posisi pakdhe berada di atas tubuh istrinya, dgn semangat ia memompa keluar masuk kemaluannya. Dgn nafas ngos-ngosan dan mata melek merem. Budhe Farah seolah-olah tdk menikmati permainan ini, ia hanya memberikan semangat kepada suaminya.

“Aayyyooo… paakkk….. terrrusss……. baappaakkk… ssuudaahh mmullaaii hhheebbaatt….”
“Iyyyaa bbbuuu…. ggaaraa-gaaraaa kkkallliaan bertiga mmaainn diii daappuurr…..”

Lho… jadi pakdhe tadi mengintip kegiatan kami bertiga…. wuaduh… aku malu banget…. tp mengapa tadi pakdhe tdk marah ? Jangan-jangan ini sudah direncanakan oleh budhe Farah ?

“Mas … gantian…..” bisik Iyem menyadarkanku.

Sekarang giliran Iyem yg mengintip ke dalam kamar. Dgn posisi nungging terlihat bongkahan pantatnya yg seksi. Aku hanya bisa melihat ekspresi wajah Iyem yg sedang terangsang. Melihat ini aku segera mengeluarkan kemaluanku yg sudah tegang dan mengesek-gesekan pada bongkahan pantatnya. Iyem terkejut, ia memandangku dgn tersenyum.

“Mas Bagus pingin ya….?”
“He eh…” aku hanya mengangguk
“Tp jangan dimasukin ya mas…. Iyem masih perawan…”
“Ndak Yem…. digesek-gesek saja…..”

Iyem segera menyibakkan roknya, kulihat bongkahan pantat yg montok, putih mulus dilapisi celana dalam cream. Tanganku segera menurunkan celana dalamnya sebatas paha, dan menyelipkan kemaluanku di sela-sela pahanya hingga permukaan kemaluanku bersentuhan dgn bibir kemaluan Iyem. Iyem merapatkan pahanya, sekarang kemaluanku benar-benar rapat bersentuhan dgn kemaluannya. Pada posisi seperti ini Iyem melanjutkan kembali acara mengintipnya dan aku segera menggesek-gesekkan kemaluanku dari belakang.

Suara di dalam kamar semakin seru, demikian jg aku dan Iyem yg ada di luar kamar. Seolah-olah kami bermain sex bersama-sama tetapi dibatasi oleh pintu saja.

Setelah beberapa menit terdengar olehku lenguhan orgasme pakdhe Bekti, seketika itupun Iyem segera melepaskan pandangan dari lubang.

“Ndoro kakung sudah selesai…..” bisiknya lirih

Aku yg sedang menikmati gesekan pada kemaluanku segera sadar.

“Ayo…kita pindah Yem….” bisikku
“He..Eh…”

Kami segera meninggalkan pintu kamar, dan menuju ke dapur. Di sana kami melanjutkan kembali aktivitas yg tertunda.
Sekarang posisi Iyem berhadapan dgnku, dan kemaluanku segera ku selipkan di sela pahanya. Dgn posisi ini tanganku bebas meremas dan memilin puting payudara gadis lugu ini. Iyem memejamkan matanya menikmati gesekan dan remasan yg aku lakukan.

“Oohhh…… eeennaakkk… mass” bisik Iyem di telingaku.
“Iiiyyyaa…. Yyeemm”

Dgn lincahnya Iyem menggoyangkan pantatnya seirama dgn gesekan kemaluanku pada sela pahanya. Irama ritmis semakin meningkat, tangan Iyem semakin erat mencengkeram lenganku. Digigit bibir mungilnya menahan desakan yg semakin hebat….

“Mmmaass….. Iiyeemmm…. mmmaauuu…..”
“Aayyyoo… Yyyeeemmm… aakkkuu jga…”

Belum selesai aku mengatakannya, sprema dgn kuat menyemprot diantara jepitan paha Iyem. Demikian jg pembantu pakdheku, jepitan pahanya semakin diketatkan dan tubuhnya melengkung ke belakang dgn ekspresi wajah menahan kenikmatan…..

Akhirnya kami berdua mendapatkan kenikmatan secara bersama-sama. Tubuh kami bersimbah keringat, nafas masih tak beraturan.

“Terima kasih Yem…..” kataku sambil mengecup keningnya.
“Sama-sama mas…. baru sekarang Iyem bisa menikmati puncak yg demikian hebat…..” jawab Iyem dgn senyum manisnya.

Hari ke dua di rumah pakdhe Bekti.

Sore ini aku berencana akan pamit pulang, karena masa cutiku sudah hampir habis. Aku sudah mengemasi pakaian dan siap untuk berpamitan. Di ruang tamu sudah duduk pakdhe dan budhe Bekti.

“Pakdhe … Budhe….. Bagus mohon pamit…. terima kasih sudah diperkenankan nginep di sini…”
“Duduk dulu Gus…..” kata pakdhe, “Seharusnya pakdhe yg mengucapkan terima kasih……”
“Lho… kan harusnya saya yg jadi tamu…..” protesku
“Sebelumnya pakdhe minta maaf, tanpa sepengetahuan kamu…. aku dan budhemu merencanakan sesuatu….”
“Sesuatu apa dhe ?” tanyaku penasaran
“Aku ingin sekali membahagiakan budhe-mu tetapi karena sakit gulaku pakdhe ini ndak bisa apa-apa” pakdhe mulai bercerita.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Gadis SMU Tetanggaku

Karena impoten maka pakdhe tdk bisa berhubungan badan dgn istrinya, jalan satu-satunya adalah menggunakan lelaki lain untuk melakukan hal tersebut. Kebetulan kamu datang, dan rencana yg pernah kami susun akhirnya dapat menjadi kenyataan. Budhe-mu sempat protes, tp kan kamu bukan orang lain dan akhirnya dia setuju.

Pakdhe melihat semua adegan kalian bertiga waktu di dapur. Pakdhe bahagia sekali ketika melihat budhemu orgasme…. pakdhe memakluminya karena sudah lama sekali budhemu tdk merasakan kemaluan laki-laki. Kamu tahu sendiri tho, kalau punya pakdhemu ini tdk bisa ‘ngaceng’…..

Dan karena ngintip kalian bertiga, tiba-tiba punya pakdhe jadi terangsang…. dan untuk pertama kalinya kemaluan pakdhe dapat memasukki punya budhemu….. Untuk yg terakhir pakdhe berpesan kepadaku untuk dapat menyimpan rahasia ini rapat-rapat.

“Bagus berjanji dhe…. dan aku ikut bahagia karena telah dapat membantu pakdhe dan budhe walaupun harus dgn berhubungan badan….” kataku bangga.
“Baiklah Gus…. pakdhe ingin kamu tetap dapat melayani budhemu…. biarlah dia pergi ke Bandung untuk dapat melakukannya dgnmu…… pakdhe percaya kamu dapat memuaskan budhemu….” kata pakdhe dgn senyuman.

Akhirnya aku tinggalkan kota Solo dgn perasaan bahagia. Dan kembali bekerja dgn penuh semangat.

author