Cerita Sex: Gadis Warteg

No comment 2969 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita  – Siang panas di kota T******g bikin aku berkeringat. Jam kerja belum selesai, kuputuskan saja buat pulang ke kamar kost. Sambil menyeka keringat, kudorong masuk motor inventaris kantor ke teras kamar kost. Perut sudah mulai kosong setelah sedari pagi berkeliling meninjau proyek pemerintah yang sedang dikerjakan oleh para pemborong lokal. Maklum, di kota ini pemborong lokal dikenal sedikit nakal jika tdk diawasi.

Cerita Sex

Dan tugasku mengawasi agar dana pemerintah digunakan dengan benar serta kualitas pekerjaan para pemborong sesuai dengan standar pemerintah. Setelah ganti baju dengan kaus oblong, aku menuju warteg langganan di seberang jalan. Sambil memesan makanan kuperhatikan seorang pegawai baru yang berbodi lumayan montok dengan payudara yang besar. Kulitnya putih dan betis dan lengannya ditumbuhi bulu halus.

“Ada yang baru Mbak Nur?” aku berbasa basi dengan pemilik warteg.
“iya, keponakan dari Brebes, baru datang tadi malam”.
“Namanya siapa mbak?” tanyaku sambil pandanganku tak lepas dari tubuhnya yang ternyata membuatku sedikit bergairah. “Santi Mas” jawabnya singkat.

Memang bener – bener Santi pikirku. Sambil menikmati makan siang, pikiranku melayang memikirkan Santi. Imajinasiku melayang membayangkan aku sedang bergumul dengannya dikasur.

“Mau minum apa mas?” Pertanyaan Santi membuyarkan mimpiku.
“Es Tawar aja” jawabku singkat.

Pertemuan dengan Santi membuat aku semakin bersemangat pulang kerja. Singkatnya, karena kedekatanku dengan Mbak Nur sang pemilik warteg, aku berhasil dekat dengan Santi. Sampai satu hari aku nekat menembaknya saat warteg sedang sepi di malam selasa.

“Santi, udah punya pacar blm dikampung?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Belum mas, emang kenapa?”.
“Gak, nanya aja. Masa gadis secantik Santi ga punya pacar? bo’ong aja nih!” candaku
“Suer mas, Santi blm punya pacar. Dulu pernah pacaran. Tapi skrg dah putus”.
“Lho kok putus? Emngnya knp?” tanyaku
“Cowo aku dulu doyan selingkuh.

Baru pacaran sehari dah pcaran lagi sama cewe lain. Dah gitu dia doyan mabok. Kalo udah mabok rese. Suka remes-remes dada aku. Kan aku malu mas”. Wah dah berani curhat nih, pikirku.

“Trus, klo skrg ada cowo yang mau sama Santi, Santi mau ga?” tanyaku.
“Emang ada cowo yang mau sama pelayan warteg kaya aku mas?” tanyanya.
“ada” jawabku singkat
“siapa mas?”
“Aku”.
“Ah, mas becanda. Mas kan Pegawe Negri. Ga mungkin mau sama aku. paling juga sebulan aku udah diputusin. atau aku ga dikawin. Makasih mas. Aku ga mau sakit keduakalinya!” jawabnya sambil berlalu.

Aku pun hanya tertegun. Menikmati kegagalan malam ini.

Tapi aku tdk putus asa. Lewat Mbak Nur, kuutarakan perasaan hatiku kepada keponakannya. Mbak Nur pun setuju membantu akau. Katanya Santi memang udah pantas menikah dan ia ingin ada keluarganya yang bisa mengangkat derajat keluarga Santi. Sebab dikampungnya, PNS sangat dihormati dan disegani.

Singkatnya, setelah berjuang selama kurang lebih dua bulan, kudapatkan cinta Santi pada saat acara panggung hibura 17 Agustus di halaman kecamatan. Sambil menikmati musik dangdut alakadarnya, kucoba lagi menyatakan cintaku pada Santi.

“Santi, mas benar benar suka sama kamu. Benar-benar cinta dan tdk ada sedikitpun niat untuk melepaskan Santi. Mungkin saya lebih baik buta daripada lihat Santi dengan orang lain” kataku menggombal ria.
“Mas, Santi dah tau dari Bu Inur. Kalo emang mas bener serius sama Santi. Santi mau nerima asal dengan syarat mas.”. Hnnnnaaaaaaah, akhirnya ……..
“Syarat apa Santi? jangankan satu, seribu syarat akan mas penuhi asal Santi mau menerima cinta Mas.” gombal maNur. “Cuma satu kok mas. Mas jangan pernah menyakiti hati Santi”.
“Santi, aku sudah bilang, gak akan pernah menyakiti kamu. Jadi kamu mau nerima mas?” tanyaku.
“Mas terima ga syarat dari Santi?” dia malah balik tanya.
“Aku terima semua syarat yang kamu berikan. Jadi kamu mau jadi pacar mas?” aku medesaknya.
“Jangankan pacar mas, aku malah sudah siap jadi istri kamu!” Mendadak suara musik dangsut tak terdengar.

Yang terdengar hanya suara jantungku yang berdegup keras, saking senangnya perjuangan aku tak sia-sia. Kuraih bahu Santi dan ia tdk menolak. kupeluk dia dari samping dan kukecup rambutnya. dan dia melingkarkan tangannya dipinggangku. Resmilah kami jadi sepasang kekasih.

Sejak aku berpacaran dengan Santi, aku merasa ada perlakuan lain dari Mbak Nur. Ia mulai sering menyuruh Santi meninggalkan pekerjaannya jika melihat motorku datang. Dan biasanya Santi menghampiri aku dan cium tangan seperti layaknya seorang istri kpd suaminya. Seperti sore itu, aku pulang kantor tiba-tiba Mbak Nur menghampiriku.

“Mas Adi, Mbak mau ke Depok. Ada saudara yang hajatan. Mungkin Mbak nginep beberapa hari. tlg titip anak-anak di warung ya, soalnya ga ada orang lakinya. Suami Mbak juga ikut”.
“Oke Mbak” jawabku. “jangankan beberapa hari, setahun juga aku mau!” jawabku sambil tersenyum.
“Ya iyalah, kan ada Santi! Makasih ya mas” Mbak Santi sambil berlalu.

Malam itu Warteg tutup lebih awal. Sehingga aku punya banyak waktu ngobrol dengan Santi.

“Mas, ngobrolnya di sana yuk, ga enak dsini. Rame, brisik lagi!” kata Santi mengajaka aku ngobrol di teras kostan aku.
“Ya udah, tapi tlg buatkan aku kpoi yah!” pintaku sambil berjalan menuju kostan.

Tak lama Santi menyusul dengan membawa segelas kopi hitam kesukaanku. Malam ini dia terlihat makin seksi dengan kaos ketat kuNur dan celana legging hitam. Kontras dengan kulinya yang putih dan montok. Mulailah pikiran kotor merasuki otakku. Setelah Santi duduk di depanku, kami melanjutkan obrolan seputar keadaan keluarga kami masing-masing. Sekitar satu jam Santi terlihat BT.

“Mas boleh numpang nonton TV ga?”
“masuk aja nonton sana, aku masih mau ngroko sambil ngopi” jawabku.

Santi pun berlalu kedalam dan menyalakan TV. 14″ tuaku.

Setelah sebatang rokok kuhabiskan, kususul Santi kedalam dan duduk sebelahnya. Tak kukira Santi langsung merebahkan kepalanya didadaku. Kesempatan nih, pikirku. Kuusap dan kubelai rambunya yang panjang melewati bahu. Santi nampak menikmati. Kuberanikan diri mengangkat kepalanya dan kukecup lembut bibirnya. Santi sedikit kaget. Maklum, setelah cintaku diterima, kita hanya sekedar mengobrol. Ga pernah lebih. Namun, ia membalas ciumanku. Malah badannya dihadapkan ke diriku. kamipun berciuman dengan posisi Santi duduk dipangkuanku. Kuberanikan diri meraba payudaranya. Santi sedikit menepis tanganku. Tapi aku tak putus asa. kucoba dan kucoba lagi sampai akhirnya Santi membiarkan tanganku meraba dan mermas lembut payudaranya.

Ciuman Santi semakin gencar ketika tanganku kucoba menerobos masuk lewat belakang bajunya. Terasa lembut payudara atasnya yang masih terbungkus kutang berenda. Tiba-tiba Santi bangkit. Yaaaah, ngambek dia., pikirku. Tapi ga kusangka ternyata Santi bangun untuk menutup pintu dan kembali ke pangkuanku dan meraih kepalaku. Kami lanjutkan kembali pekerjaan yang tertunda tadi. Semakin berani aku meciumi sekujur wajahnya. Nafas Santi sedikit tersengal ketika kuciumi daerah belakng telinganya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Kesepian Seorang Ibu

Kucoba mengangkat kaosnya. Tak ada perlawanan. Kaos Santi sudah terlpeas dan didepanku terpampang pemandangan indah. Sepasang payudara montok yang putih bersih walau masih terbalut kutang berenda. Kuciumi dengan uas daerah belahan toketnya, dan Santi nampak menikmatinya. Sambil kupeluk, kucoba melepaskan kait kutang dipunggung Santi. Berrhasil!!!. Kutang Santi terlepas dan kuloloskan dari bwah dan Munri melepaskan ciumannya agar kutangnya cepat terlepas. Langsung kujilati pentil susunya yang kemerahan. sementara tanganku meremas toket sebelahnya.

Santi bergelinjang menahan kegelian dengan nafas yang tersengal-sengal. Nampaknya ia sudah terangsang. Puting susunya semakin maju dan mengncang. Kulepas Bajuku dan kuajak Santi merebahkan diri sambil terus menjilati, mengulum dan meremas toket yang sudah lama kuidam-idamkan. Santi semakin bernafsu dengan meremas-remas pantatkusambil mengerang nikmat. Kucoba meraba selangkangannya dan Santi agak menolak dengan merapatkan pahanya. Tapi terasa sedikit oleh jariku. Vaginanya mulai basah. Kuusap usap kemaluannya dari luar dan tiba tiba Santi memelukku dengan erat dan ia membekapkan mulutnya ke dadaku.

“Maassss, aaaaaahhhhhhhhhh….. Santi pipis…“ . Rupanya ia orgasme akibat rangsanganku di payudaranya.

Santipun bangun dan meraba selangkangannya.

“Mas gimana ini, Santi ga tahan pengen pipis tadi, celana Santi basah”.
“kamu orgasme sayang, bukan pipis”. jawabku menerangkan.
“enak ga?” tanyaku
“enak mas, sampe pipis hehehehe…” katanya sambil tertawa.

Akupun bangun dan mengunci pintu.

“Emang pipisnya banyak sayang?” tanyaku.
“Boleh liat ga celananya?” tanyaku bersiasat.

Padahal aku pengen liat vaginanya yang terlihat munjung dari balik celana leggingnya.

“Ga mau ah, malu. Masa Santi buka celana disini!”.
“Gapapa sayang, kan kamu calon istriku. Nanti klo kita menikah juga kita saling telanjang!” kataku menggombal.

Santipun bangun dan melorotkan celana legginga. ASTAGA!!! dari balik CDnya menyembul daging kemaluan yang menurutku hampir sama dengan ukuran toketnya (saking munjungnya tuh vagina!) Tak kuat menahan konak langsung aku berlutut dan menciumi vaginanya dari luar.

“Mas, mau ngapain… Ih…. ngapain sih… oooh… shhhhh … ahhhh..” prote Santi tak kudengar sambil sesekali kucoba menelusupkan jari kesela-sela CDnya.
“Mmmmmaaaaassssssssshhhhhhh…… geli mas….. aaaahh. sshhhhhhh….” Santi terus mendorong kepalaku agar menjauh dari vaginanya.

Tapi aku tak peduli, aku terus mendesakkan kepalaku dan menjilati sekitar selangkangannya dan tanganku mencoba melorotkan CD Santi yang masih dlm posisi berdiri. Dengan sekali sentak, CD itu berhasil turun dan alamak…….. bongkahan daging yang ditumbuhi jembut yang jarang jarang. Merah merekah, membuat gairahku semakin tinggi. Kuturunkan terus CDnya hingga benar-benar berada dibetisnya. Sementara lidahku mencoba menerobos ke sela sela belahan vaginanya.

“Mmmmmmmmmaaaaaaaaaassssssss, oooooohhhhhhhhhh……….. aaaaaahhhhhhh…….. sssssshhhhhhh…. aduh ……” Hanya itu yang keluar dari mulutnya sambil terus mendorong kepalaku.

Sementara itu, entah kapan aku melepasnya, aku hanya tinggal memakai sempak. Kuajak Santi berbaring dan ia menurut. Kulepas CDnya yang masih nyangkut di kakinya sambil merenggangkan kedua belah kakinya. Saat kakinya merenggang nampaklah isi dari vagina Santi yang merah, kelentitnya yang meruncing kujilati dengan rakus sambil sesekali memasukan lidahku ke rongga vaginanya. Tiba-tiba, rambutku dijambaknya dan Santi kembali orgasme.

“Mmmmmaaaaaaaasssssssss, aaaaaaaaaauwwwwhhhhhhhhh, nnnnnnnnnggggggghhhhhhhhhhhh. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!!!!!” itulah yang keluar dari mulutnya sambil melepas cairan kenikmatannya.

KUjilati lelehan cairan vagina yang membasahi sekitar bibir dan kumisku. Tak kulepaskan pula cairan yang meleleh sekitar vaginanya. Tubuhnya melemas setelah dua kali kubuat orgasme. sambil kupandangi tubuh yang mulus yang tergolek lemas, kulepas celana dalamku. Penisku langsung mnerobos setelah sedari tadi kukurung didalam CD. Langsung kuarahkan kepala penisku kehadapan vaginanya. Ku oles-oles di permukaan vaginanya yang basah. Kembali Santi menggelinjang dan berdesah. Tak sabar kucoba masukkan penisku ke liang vaginanya. Santi sedikit menolak dengan kembali merapatkan pahanya.

“Gapapa sayang, aku dah ga kuat lagi sayang…” pintaku memelas….
“Ga mau mas, Santi takut hamil. Nanti Bu Inur marah sama aku!”
“Santi sayang, aku kan sudah bilang kita akan menikah, ga usah takut. Bu Inur sudah merestui hubungan kita. Ayo sayang, jangan siksa aku ….!?” kataku sambil terus berusaha membuka pahanya yang masih merapat.

Nafsu birahi yang semakin memuncak membuat aku berbuat sedikit kasar dengan memaksanya mebuka pahanya yang tertekuk. Akhirnya Santi menyerah. Ia membuka pahanya dan tak buang waktu lagi langsung kusodokkan penisku kedlam vaginanya dengan perlan.

“Awwwh… pelan-pelan mas, sakit… aaahhh… ssshhhh…”.
“Tenang sayang, sakitnya cuma sebentar, nanti juga enak!” rayuku sambil terus berusaha memasukkan penisku.

Kogerkan pantaku maju mundur dengan irama santai agar Santi menikmati sensasi kepala penisku yang mencoba menembus vaginanya. Dan akhirnya, blesssssss… crootttt…. penisku masuk sebagian dan dilelehi cairan darah perawannya diiringi dengan lenguh kesakitan Santi dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Kulihat ia mengigit bibir agar tdk berteriak. Kudekatkan wajahku dan kulumat bibirnya.

Agar Santi terangsang kembali, kuremas pelan payudaranya dan sesekali kuplintir halus putingya. Alhasil, putingnya kembali mngeras tanda ia mulai terangsang lagi. Kurubah posisi tubuhku sedikit berjongkok sambil kupegangi kedua belah pahanya. Kulakukan lagi gerakan maju mundur. Kulihat Santi menangis, kuseka air matanya dengan jariku sambil terus kupompa vaginanya. Tak lama, kudengar Santi mulai melenguh nikmat,

“aaaahhhh, sssshhhhhhhhh, oooooooowwwwwwwwwwwwhhhhh…….. nnnnnnnnnnnnngggggggghhhhhhhhhh….. aaaaaahhhhh…..!” terus kopompa vaginanya dengan sodokan penisku.

Tak terasa hampir seluruh penisku sudah masuk keliang mememknya. kuturunkan pahanya agar menindih pahaku. Kuletakkan tangan diatas lantai dan terus memompa vagina Santi yang sempit dan licin. Sekitar 10 menit kupompa vaginanya, terasa aku akan ejakulasi. kupercepat gerakanku agar cepat kunikmati sensasi orgasmeku. dan tak lama,

“Aaaaaaaaaaaaaassssssshhhhhhhh………… uuuughhhhhh…… crrroooot……. crooot. crooooottttt…. kulepas lendir kenikmatan di dalam vagina Santi dan akupun terkulai lemas.

Setelah mengatur napas, kucabut pelan penisku dan kucari pakaian kotorku untuk mengelap lelehan spermaku dan cairan vagina Santi yang telah tercampur dengan darah perawannya. Kulap vagina Santi dengan lembut sambil sesekali kucium aroma vaginanya. Terlihat Santi matanya basah, kurebahkan badanku disebelahnya dan kuciumi pipinya.

“Sayang kenapa nangis? Kamu nyesel melakukan ini dengan mas” tanyaku.
“Santi ga nyesel mas, Santi nagis karena nahan sakit tadi. Santi seneng kok mas. Santi seneng bisa bikin mas bahagia, Santi juga pengen mas bikin Santi sebahagia mas. Jangan pernah ninggalin Santi mas!”. Tak kujawab malah kuraih kepalanya dan kulumat lembut bibirnya.

Kuangkat tubuhnya agar menindih tubuhku. Santi memelukku. dan kami bergumul saling memagut bibir. Akibatnya, penisku kembali bangun. Kupinta Santi menjilati penisku tapi ia menolak terus. Akhirnya kupinta ia berjongkok diatas mukaku. Kujilati lagi vaginanya yang montok. Sesekali kugigitb lembut kelentitnya yang meruncing. dan kami melanjutkan kembali pertempuran. Kupinta Santi nungging, mula-mula ia bingung.

“Mas jangan dimasukin ke pantat. Bau ih…. !!”….
“Nggak sayang, kamu diem aja, aku mau masukin ke vagina kamu dr belakang. Rasanya lebih enak sayang…” Kusodk pelan vaginanya yang sudah mulai kuyup lagi. 5 menit kulakukan gaya shaggy.

Kusuruh Santi merapatkan pahanya sambil berpegangan ke tembok. Terus kusodk dia dengan irama agak cepat. Akhirnya,

“Massssss… Santi mau kluar nih …… aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhsssssss…… sssssssssshhhhhhh… aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh…!” . “tahan sayang, kita keluar barengan aja.” Pintaku.

dan tiba tiba Santi berdiri dan terjatuh sambil mergeng melepas orgasmenya…. ooooooooooooooooooooooooooooohhhhhhhhhhhhhh….mas Santi lemes banget. Sementara aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme pula. kudekatkan payudaranya ke penisku dan kujepit penisku dengan payudaranya. Koyang-goyang payudaranya hingga penisku terasa seperti dikocok dan … aaaaaaaahhhhhhhh………. akhirnya kulklepaskan kembali lahar kenikmatanku di toket Santi.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Berebut Buku Berakhir ML

Sampai jam 12 malam kami bersetubuh. dan ketika hendak berpakaian kuajak Santi ke kamar mandi dan kulap tubuhnya dengan handuk kecil yang sudah aku basahi. Ketika mengelap pyudaranya kembali aku terangsang dan menjilatinya lagi. sambil berjongkok kulap seluruh tubuh mulusnya dengan handuk basah. dan saat mengelap vaginanya kubenamkan kepalaku divaginanya seakan aku tak mau lepas dari barang yang sudah memberikan 3 kali kenikmatan padaku. Kuberikan CD dan celana Leggingnya,

“Ga usah pake cd mas, basah ntar lengket. simpen aja disini. besok Santi cuci. Takut ketauan klo dibawa kewarung”. “Kirain buat kenang-kenangan aku sayang”, jawabku sambil mengecup bibirnya.
“Udah dapet isinya, bungkusnya juga masih mau!” katanya sambil memakai celana legging. kamipun berpakian kembali dan kulepas Santi pulang dengan pelukan erat dan kecupan halus dibibirnya.
“Kapan-kapan kita lakukan lagi ya sayang!?” pintaku.
“Asal ada waktu dan kesempatan, kapan mas mau aku kasih. Asal jangan mas kasihkan mainan baruku ke perempuan lain ya mas.” jawab Santi.

author