Cerita Sex : Ngentot 4 Generasi

No comment 1874 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – terbaru ini sangat unik. Kalau tdk unik untuk apa diceritakan. Apa yg diuraikan dalam cerita ini sulit dipercaya. Namun percaya atau tdk percaya itu urusan anda.

Kalau memang merasa tdk nyaman ya jangan dibacalah, kenapa harus memaksa. Kalau anda teruskan membaca dan di akhir cerita anda menyesal, karena menganggap sy mengada-ada, sy tdk memaksa anda percaya. Namanya juga kepercayaan, ya sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Aku memang menyuki cewek yg baru beranjak menuju remaja. Cewek seperti itu menurut pandanganku memiliki keindahan istimewa, mulai dari berkembangnya bentuk tubuh dengan payudara yg baru tumbuh, kemaluan yg mulai ditumbuhi bulu, atau berbulu halus dan jarang.

Sulit sekali mendapatkan cewek yg seperti aku gambarkan itu, karena cewek seperti itu ada di kisaran usia 12 – 13 tahun, atau di tahun terakhir SD atau di awal SMP. Di internet banyak sekali foto dan video anak-anak dibawah umur, mulai dari yg softcore atau hanya bertelanjang saja sampai yg melakukan hubungan badan, baik dengan cowok dewasa atau pun dengan sesama anak yg sebaya.
Namun video-video itu semua dari luar. Paling banyak film barat, lalu Jepang dan yg paling dekat adalah anak-anak Kamboja. Ada juga yg menyebut film Indonesia, namun setelah sy cermati ternyata dari Kamboja juga.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Ibu Mertua Ingin Di Puaskan Dengan Diriku

Cukup lama sy melakukan perburuan untuk mendapatkan cewek yg pra remaja, namun sulit sekali alias belum pernah dapat. Masalahnya sy ingin yg aman. Kalau terlalu beresiko, sy lebih baik mundur saja.
Sy sudah menyebar jaring dengan mengakrabi para pencari cewek yg akan dijadikan pekerja sex komersil (PSK) Ada sekitar 5 org yg menjanjikan akan mencarikan cewek seperti yg sy mau.

Mereka katakan, sebelum sy minta ke mereka, ada banyak anak seperti itu yg diminta org tuanya bekerja di Jakarta, Bandung atau kota-kota besar lainnya. Namun karena akhir-akhir ini razia PSK di bawah umur gencar, jadinya mereka tdk berani menjaring PSK yg pra remaja.
Penantianku akhirnya membuahkan hasil, salah satu kibus (kaki busuk) yg beroperasi di pantura Karawang mengabarkan bahwa dia mendapatkan apa yg aku inginkan. Namun anak itu tdk mau dibawa ke kota. Jadi aku harus mendatangi tumahnya.

Dihari yg dijanjikan aku bersama si Kibus yg bernama Leman, jalan ke arah Cilamaya. Kampungnya cukup jauh juga, sekitar 2 jam dari pusat kota Karawang. Jalannya memang tdk bagus, malah sebagian besar rusak. Mungkin itu yg membuat perjalanan jadi lama, bukan karena jaraknya yg amat jauh.
Sebuah desa yg berseberangan dengan sawah, aku diperintahkan si Leman untuk memarkirkan mobil di satu halaman rumah org yg agak luas. Leman mengenal pemilik rumah sehingga ketika mereka bertegur sapa, tdk ada kecanggungan.

Aku diajak Leman berjalan menyusuri jalan diantara rumah-rumah yg letaknya tdk beraturan. Sebuah rumah, atau tepatnya gubuk ternyata adalah tujuan si Leman. Setelah dia menyerukan salam, keluarlah seorg wanita yg kutaksir usianya sekitar 40 – 50. Tdk lama kemudian keluar lagi 2 org perempuan yg usianya lebih muda dari wanita yg pertama keluar tadi. Lalu muncul bocah yg masih culun. Aku sudah menduga, pasti anak ini yg akan ditawarkan untukku.
Sejenak kuamati, anak ini bahannya cukup bagus. Mungkin karena kurang perawatan dan kurang biaya, sehinga terlihat kusam. Perempuan yg lain pun, punya potensi bagus jika dioles, termasuk yg paling tua tadi.

Setelah bersalaman dan berkenalan, aku dan Leman dipersilakan duduk di bale-bale atau amben bambu di teras rumah. Malu juga aku rasanya, karena usiaku yg dipertengahan 30 mengincar perempuan yg kata Leman usianya sekitar 12 tahun. Padahal di situ ada perempuan-perempuan lain yg sesuai dan cocok untukku.
Leman memberi uang yg sempat terlihatku warnanya biru. Salah seorg dari mereka lalu masuk kedalam. Aku tdk tahu apa maksud Leman kasih uang lima puluh ribu itu. Aku diam saja, karena tdk ada kesempatan tanya.

Kami ngobrol dan saling berkenalan. Dari situ baru aku tahu bahwa semua 4 perempuan yg aku salami tadi adalah saudara sekandung. Maksudku bukan sekandung kakak beradik, tetapi hubungannya sangat dekat, mereka adalah anak, ibu, nenek dan buyut. Sorry kalau sy keliru menyebutnya sekandung, karena waktu nulis ini sy tdk menemukan istilah yg tepat.

Mereka benar-benar punya bahan bagus, tapi karena kurang perawatan jadi semuanya terlihat kusam. Dari tempat tinggalnya sudah aku pastikan bahwa mereka hidup di bawah garis kemiskinan. dan ternyata, uang pemberian si Leman tadi untuk menyiapkan hidangan kopi.

Aku tdk ingin berlebihan tapi gambaran mereka adalah sebagai berikut. Perempuan yg paling muda bernama Suryani, tingginya sekitar 145 cm, tubuhnya cenderung kurus, rambutnya lurus terurai dan kurang di bentuk, kulitnya sawo matang. Teteknya sudah mulai tumbuh, karena di dadanya sudah terlihat tonjolan kecil. Hidungnya bagus. Meski tdk terlalu mancung, tetapi tdk juga pesek. Yg membuat dia akan terlihat cantik, karena dagunya agak lancip. Bajunya kumal.
Ibunya yg kuingat tadi menyebut namanya Salamah, atau sebutannya Amah. Dia menyebut umurnya 26 tahun. Berarti dia melahirkan si Suryani atau panggilannya Ani pada usia 14 tahun. Di desa ini umur segitu sudah punya anak, dianggap tdk aneh, karena umumnya mereka kawin di usia muda.

Amah tdk jelek-jelek amat, tapi karena miskin jadi agak kurang menarik. Tingginya sekitar 150 cm. Pantatnya kelihatan keras dan agak menonjol. Sarung yg dipakainya tdk bisa menahan tonjolan bokongnya. Perutnya tdk membusung, lumayan datar. Dadanya lumayan jugalah, ukurannya kelihatannya sepadan dengan bentuk tubuhnya yg langsing.
Mereka memang berperawakan langsing-langsing, alias terlihat singset. Ibu si Amah yg tadi menyebut namanya Limah, atau disebut Mak Imah, tubuhnya lebih bongsor. Dia lebih tinggi sedikit dari si Amah. Bodynya tdk gemuk, tapi teteknya kelihatan cukup besar, bokongnya juga gempal. Yg menurutku istimewa, perutnya tdk gendut, seperti umumnya wanita sebayanya. Mak Imah mengaku umurnya sekitar 40 tahun. Umur segitu sudah punya cucu, dia seperti anaknya juga kawin muda dan umur 14 sudah melahirkan.
Jika disandingkan dengan ibunya yg tadi menyebut dirinya Nek Sumi, mereka berdua seperti kakak beradik. Aku tdk berlebihan memberi gambaran, tetapi Nek Sumi yg kata si Amah umurnya sekitar 54 tahun masih punya daya tarik sebagai wanita STW (setengah tuwa). Badannya memang agak sekal, alias lebih gemuk dari anaknya. Tapi menurutku dia masih terbilang normal, karena tdk terlalu gendut. Tingginya hampir sama, atau sedikit lebih pendek dari si Imah. Yg kukagumi nek Sumi kulitnya paling bening dari semuanya. Gak usahlah aku gambarkan statistik tubuhnya, nanti saja , karena kalau sekarang, pasti pembaca bingung.

Terhadap semua wanita itu yg kukagumi adalah wajahnya bersih dari jerawat, dan kakinya mulus, tdk ada bekas koreng, apalagi koreng atau luka. Kulit mereka rata-rata sawo matang. Kuduga, itu karena mereka sering terpapar sinar matahari dalam kehidupan di desa. Mungkin jika tinggal di Jakarta bisa lebih bening.
Cerita Dewasa | Sampai disini saja pasti pembaca masih bingung nama-nama mereka, ada Ani, ada Imah, ada Amah dan ada Sumi. Udahlah jangan di hafal-hafal, nanti akan sy jelaskan sehingga anda pasti ingat terus.

Uniknya mereka semua, kecuali Ani alias si Suryani, statusnya janda. Kalau harus diceritakan bagaimana kok mereka sampai menjadi janda. Ceritanya bakal berbelit-belit dan membosankan. Apalagi menceritakan anak-anak mereka ada berapa. Wah makin pusing jadinya.
Jadi ya nikmati saja apa yg aku gambarkan dalam cerita ini, dan jangan jadi pertanyaan apa yg tdk aku ceritakan. Nikmati saja. Jangan pula menyoal yg lain-lain. Kalian bikin saja cerita sendiri.

Ngopi sudah sudah hampir habis, makan gorengan cukup banyak, aku mulai agak terbiasa dan berkurang rasa canggungnya, karena emaknya si Ani terus terang bercerita untuk menjual anaknya. Alasannya lagi butuh duit untuk bayar utang. Cerita mak si Ani ini di benarkan pula oleh Nek Amah dan Nek Sumi. Jadi mereka semua tahu dan menyadari bahwa kedatanganku itu untuk membeli keperawanan si Ani. Sementara itu . Ani hanya diam saja, dari tadi tdk pernah bicara, dia hanya nunduk saja dan mondar-mandir membawa minuman dan hidangan gorengan.

Aku tdk melihat ada tersirat rasa malu ketika semua org tuanya menyebut akan menjual keperawanan Ani. Dia malah biasa saja, tanpa ekspresi. Selanjutnya giliran aku yg bingung, karena anak ini tdk mau dibawa keluar. Dia hanya mau melepas keperawanannya di rumah ini. Berarti aku harus menginap di gubuk mereka.

Aku ingin melihat situasi di dalam rumah mereka, apakah layak atau gimana. Aku beralasan numpang buang air kecil. Dengan segera mak si Ani, alias mak Amah mengajakku masuk rumah jalan terus ke belakang dan kamar mandinya agak terpisah dari rumah induk, tdk ada dinding, hanya ada sumur pompa dan ember, Tdk kulihat ada kakus, karena ternyata kakusnya agak jauh ke belakang lagi. Jangan dibaygkan kakusnya punya dinding, karena hanya ada satu tonggak dan lubang untuk menampung tinja.
Mak Amah menangkap kebingunganku. Dia lalu menunjuk saluran air pembuangan agak dipinggir tempat sumur pompa. Di situ memang ada selokan kecil. Aku disuruhnya kencing di situ. Sementara itu dia tetap berdiri tdk jauh dariku. Agak rikuh juga, kencing berdiri di dekat perempuan yg baru aku kenal, meski aku membelakanginya. Ah aku harus menyesuaikan kebiasaan mereka, maka aku coba saja menurunkan resleting dan melepas hajat kecilku.

Kami kembali memasuki rumah dari belakang dan menembus ke depan. Di dalam rumah tdk terlihat ada kamar, hanya hamparan kasur di pojok ruangan. Jadi di dalam rumah ini hanya ada 1 ruang. Lantainya diperkeras dengan semen, bukan keramik atau ubin. Dinding rumah, setengahnya terbuat dari papan, dan keatas terbuat dari tepas bambu atau juga sebut bilik atau org jawa menyebutnya gedek.

Mereka kelihatannya cukup lama hidup miskin. Terus terang aku agak kurang berselera mendapatkan keperawanan Ani. Bukan karena bahannya kurang bagus, tetapi lingkungannya yg kurang layak. Padahal, tipe seperti Ani ini yg lama kucari dan kuinginkan, tapi ketika ditemukan ada ganjalan sarana dan prasarana. Aku harus menghapuskan gambaran tidur di hotel, dengan udara sejuk dan mandi air hangat serta hiburan televisi. Sampai saat itu aku tdk punya dan tdk tahu bagaimana skenarionya mengeksekusi Ani di dalam rumah yg tanpa sekat dan hanya satu hamparan kasur.
Tapi aku suka dengan tantangan, sehingga aku putuskan untuk membeli keperawanannya. Leman menjual Rp 4 juta dan dia terus terang mengaku dapat bagian sejuta. Jadi keluarga Ani akan mendapat tiga juta.

Transaksinya segera aku selesaikan. Selanjutnya aku tdk tahu harus bagaimana. Ikut sajalah yg akan mereka atur. Leman setelah mendapat bagiannya ia lalu pamit mohon diri. Dia sudah menitipkan mobilku ke pemilik rumah. Aku hanya perlu memberi uang yg menurutku tdk terlalu besar kepada org yg nanti akan menjaganya. Org itu nanti akan datang. Jumlahnya kurasa lebih kecil, bahkan jauh lebih murah dari biaya titip nginap di Bandara Soeta. Menurut Leman org di lingkungan ini tdk akan reseh, karena mereka sudah maklum dan yg beginian ini biasa.

Leman sudah tdk terlihat lagi. Tinggallah aku sendirian di daerah yg kurasa masih asing, Bukan saja daerahnya yg belum pernah aku datangi, tetapi juga aku tdk tahu harus bagaimana. Waktu itu sudah jam 4 sore. Jam 5 sore, aku ditawari mandi.

Nah ini dia persoalan yg aku rasa sulit. Sebab aku tau, satu-satunya kamar mandi adalah sumur pompa yg tdk berdinding di kerimbunan kebun singkong. Aku tdk bawa sarung, juga tdk bawa baju ganti. Yg melekat ditubuhku hanya celana jeans, celana boxer di dalamnya, kaus oblong dan baju lengan pendek.
Dari pada aku bingung, aku tanya bagaimana caranya mandi, karena kamar mandinya tdk berdinding. Si Nek Imah senyum-senyum.
“ Ya mandi aja biasa, buka baju semua lalu yg mandilah,” katanya.

Penjelasannya malah tdk jelas. Dari pada bingung aku tantang aja mereka semua agar mandi bareng-bareng sehingga aku tau bagaimana caranya mandi di tempat mandi terbuka itu. Mereka memang mau begitu, jadi meski tdk aku minta mereka memang akan mandi bersamaku.

Empat perempuan bersamaku jalan menuju sumur pompa. Aku pura-pura melambat membuka baju dengan ritual gosok gigi. Mereka dengan santainya sudah berbagi tugas. Dekat pompa ada dua ember besar yg diisi air. Yg memompa Nek Amah dan si Ani bergantian mengisi kedua ember itu. Setelah ember penuh, Keempat perempuan itu membuka bajunya satu persatu, dan disangkutkan ke tonggak-tonggak kayu di sekitar tempat mandi.
Aku masih berpakaian lengkap mereka berempat sudah bugil dan langsung jongkok di sekitar ember. Aku sempat juga melirik ketelanjangan mereka. Tapi mereka tdk merasa risih sama sekali aku lihat begitu, ya biasa ajalah kelihatannya.

Rasanya aku harus seperti mereka, tdk perlu malu. Aku segera menelanjangi diriku . Mereka senyum-senum melihat kelakuanku. Untung si otong gak berontak, meski agak gemuk juga dikit. Aku langsung jongkok diantara mereka dan bergantian menimba air membasahi diri. Mereka menyabuni tubuhnya dengan tetap pada posisi jongkok.

Aku kesulitan menyabuni diriku seperti mereka, sehingga dengan kekuatan sepenuh tenaga melawan rasa malu aku berdiri dan menyabuni seluruh tubuhku. Mereka cekikikan melihat tingkah ku. Si Buyut buka suara memerintah Ani untuk membantuku menyeka sabun di pungggungku. Tanpa rasa malu Ani berdiri pula, sehingga langsung terlihat vaginanya yg belum berjembut dan teteknya yg baru berupa tonjolan kecil. Dia mengambil sabun dari tanganku, lalu menyabuni punggungku. Nek Amah jahil pula karena dia memerintahkan cucunya untuk menyabuni senjataku. Tanpa tedeng aling-aling dia memerintah” kontole, disabuni sekalian,” katanya.
Ani agak ragu menggapai senjataku. aku diam saja berdiri menunggu. Ani meraih senjataku lalu menyabuninya. Tangan lembutnya otomatis membangunkan k0ntolku jadi makin tegang. Untungnya air cukup dingin, sehingga senjataku tdk sampai mengacung tegak.

Dua ember tentu saja tdk cukup untuk membilas tubuh kami berlima. Ani tanpa canggung meraih tangkai pompa dan langsung memompa. Namun gerakannya lemah gemulai, sehingga airnya tdk mengucur banyak, Nek Sumi dalam bahasa daerah mengucapkan sesuatu lalu bangkit menggantikan Ani. Baru 10 kali pompaan dia sudah menyuruh anaknya si Imah mengambil over tugas.

Sambil jongkok aku menonton ketelanjangan mereka satu persatu, dan akhirnya si Amah pun mendapat giliran memompa. Lengkap sudah pemandangan yg kulahap. Suguhan ketelanjangan di tengah rimbunan pohon singkong, cukup menarik. Kelak aku akan mendokumentasikan dengan video phone ritual mandi berjamaah ini
Meski agak mengganjal, karena ngaceng, segar juga rasanya seusai mandi bareng yg sangat menegangkan. Kembali aku disuguhi kopi dan dengan rokok aku menikmati di bale-bale depan rumah. Tdk lama kemudian muncul dua org dengan pakaian hansip. Menurut si Nek Imah, mereka adalah keamanan dan datang mau ambil uang untuk jaga mobilku. Aku langsung serahkan selembar uang biru, yg pada waktu cerita ini aku tulis, nilainya cukup besarlah, apalagi untuk ukuran desa begini.

Basa-basi sejenak lalu mereka minta diri, pamit. Aku juga serahkan sejumlah uang ke Amah untuk makan malam. Sampai sejauh ini aku tdk tahu nanti malam bagaimana skenarionya. Sebetulnya mau nanya, tapi malu.

Di dalam rumah kulihat hanya ada 3 kasur yg dibentang berhimpitan. Spreinya meski warnanya kumal, tapi cukup rapi menutup semua kasur itu satu persatu. Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku nanti akan tidur di kasur itu juga, dan bagaimana caranya eksekusinya. Di bagian lain ruangan itu tdk terlihat hamparan kasur lain. Berarti aku akan tidur dengan mereka berempat nanti dan rasanya tdk mungkin ada malam pertama disini. Mau nanya, masih malu.

Waktu terus berjalan, tiba saatnya makan malam jam 8 malam. Tdk ada hiburan, karena mereka tdk memiliki TV. Makanan sederhana, tapi cukup nyaman juga. Habis makan aku mengajak si Amah berjalan untuk melihat mobilku apa masih dalam posisi aman. Tanpa penunjuk jalan, sudah dipastikan aku akan kesasar. Mobilku ternyata benar dijaga oleh dua hansip tadi. Aku menegur mereka dan aku tawari mereka rokok. Ngobrol sebentar lalu aku pamit.

Malam sudah makin larut. Di HP ku yg signalnya lemah menunjukkan pukul 10 malam. Aku diajak masuk ke peraduan. Kami semua menempati tiga kasur yg berjajar aku dipinggir sebelah Barat, disebelahku Ani, lalu maknya si Amah, lalu si Nek Imah dan disampingnya si Nek Sumi.

Aku tidur dengan melepas celana jeans, sehingga hanya mengenakan celana boxer dan kaus oblong.. Aku tdk melakukan inisiatif apa pun karena tdk tahu harus bagaimana. Ruangan digelapkan karena satu-satunya lampu pijar sudah dimatikan. Suasana ruangan tdk sepenuhnya gelap, karena cahaya dari luar masuk menembus celah bilik bambu.
Ada sekitar setengah jam kami berdiam. Lalu Mak Amah buka suara yg meminta ku memulai. Aku tanya bagaimana harus mulainya, org disini banyak org.
“ Santai aja bos,” katanya.

Dia menyuruh Ani melepas semua bajunya, yg langsung dituruti. Setelah dia bugil diatur si Amah berbaring di sebelahku. Sambil duduk si Amah memberi instruksi apa yg barus dilakukan anaknya. Dia mengajari Ani agar meraih kontolku dan membuka celanaku. Ani membuka celanaku, tapi dia masih kesulitan karena aku diam saja tdk berusaha membantunya. Aku cuma ingin tahu bagaimana kelanjutannya. Si Amah membantu anaknya melepas celanaku.

Dia lalu mengajari Ani agar menggenggam k0ntolku dan mengocoknya. Ani karena belum pernah, terasa dia masih canggung, sehingga tindakannya tdk memuaskanku. Kelihatan si Amah geram dan mengajari anaknya bagaimana caranya menggengam k0ntolku yg memang sudah ngaceng full. Gilanya si Amah menggenggam k0ntolku pula mencontohkan gerakan mengocoknya. Buset kontolku digenggam bergantian oleh dua org yg merupakan anak dan ibu.

Sensasi gila yg sulit dibaygkan. Sementara itu si Imah dan Sumi kulihat bangun dan duduk menonton pula. Sesekali mereka ikutan pula memberi arahan. Aku diam mematung. Ani mulai bisa menggengam k0ntolku dan mengocoknya dia melakukan sambil berbaring miring kearahku. Kusempatkan menyentuh teteknya yg masih kecil dan terasa kenyal sangat.

Meski sangat terangsang, aku masih tetap bingung. Si Amah lalu menyuruh anaknya telentang dan membuka kakinya lebar-lebar. Aku diminta Imah mengambil posisi diatas anaknya. Aku tanpa malu lagi mengarahkan k0ntolku ke vagina Ani, Sulit sekali memasukkan barangku ke vaginanya. Kelihatannya vagina Ani belum berpelumas, karena bisa jadi dia tdk terangsang, tetapi malah takut, menghadapi pengalaman pertamanya itu.

Ibunya si Amah mengamati proses itu dan dia tahu aku belum juga berhasil. Dia bangkit lalu balik lagi dan langsung menggenggam k0ntolku dan melumasinya sepertinya dilumasi body lotion. Vagina si Ani juga di lumasi. Amah mengamati dari bawah sambil membimbing k0ntolku memasuki lubang vagina anaknya.

Agak lumayan bantuan body lotion, sehingga kepala k0ntolku bisa masuk sedikit. Aku tekan perlahan-lahan sambil menggerakkan maju mundur, sampai akhirnya mentok di halangan selaput perawannya. Si Ani mengeluh sambil mengatakan vaginanya perih. Ibunya menyuruh dia untuk menahan. Sebetulnya aku merasa kasihan juga, karena Ani masih terlalu kecil untuk dientot oleh kontolku yg sudah mencapai ukuran dewasa normal, panjang 15 cm.

Perlahan-lahan aku tekan, lalu tarik dikit, tekan lagi, tarik sampai Ani agak lengah lalu aku tekan agak bertenaga dan jebollah perawannya, karena k0ntolku langsung masuk lebih jauh meski pun aku lakukan agak pelan, sampai mentok. Seluruh k0ntolku terbenam dan posisi itu aku bertahan sejenak, karena kasihan si Ani kesakitan. Dia menangis dan yg membuat seleraku berkurang, tangisannya bersuara seperti anak – anak. Aku tdk tahu harus bagaimana, karena k0ntolku masih terbenam. Aku menikmati ketatnya lubang vagina Ani. Jika tangisannya sesenggukan, maka liang vaginanya juga menyempit.

Neneknya Imah dan Ibunya Amah membujuk Ani agar menghentikan tangisannya. Mereka mengatakan, sakitnya cuma sebentar. Ani disuruh menahan saja. Agak lama aku terdiam dengan posisi k0ntol terbenam. Akhirnya tangisan si Ani reda, namun dia masih menutup matanya yg masih mengeluarkan air mata.

Aku mencoba bergerak pelan menarik sedikit lalu menekan lagi sampai terasa lancar. Setelah agak licin liangnya aku bergerak agak lebih panjang. K0ntolku juga terasa sakit seperti terjepit. Jujur saja ngentot begini tdk terasa nikmat. Namun sensasi memerawani anak 12 tahun, rasanya luar biasa.

Meskipun sakit aku berhasil juga mencapai ejakulasi dan kulepas saja di dalam vagina sempit itu. Kubiarkan k0ntolku mengecil sehingga lebih mudah menariknya keluar. Setelah kelamin kami berpisah. Ani langsung menangis. Dia mengeluh vaginanya perih. Ibunya sibuk menyeka vaginanya yg dibanjiri oleh spermaku. Amah juga menyeka k0ntolku yg belepotan, sampai akhirnya bersih.

Ani bangkit mengambil bajunya dan mengenakan kembali. Dia masih menangis sesenggukan, sambil duduk ditepi kasur. Mendengar tangisan itu aku jadi kehilangan selera dan mengenakan kembali celana boxerku. Neneknya, Imah dan Sumi menarik Ani dan memeluknya untuk menghentikan tangisannya. Dia kemudian tidur diantara Sumi dan Imah.
Aku berbaring dan disebelahku si Amah. Tempat tidur yg kapasitasnya untuk 3 org sekarang ditempati 5 org. Jadi kami saling berhimpitan. Aku dan Amah tidur berhimpitan pula. Aku ya harus menerima keadaan itu.

Mataku mulai ngantuk. Aku biasa begini, sehabis ejakulasi selalu diserang rasa ngantuk. Entah berapa lama aku tertidur, terbangun karena merasa badanku seperti ditindih.Amah rupanya memelukku bagaikan aku adalah gulingnya. Aku tdk tahu dia sengaja atau tdk. Namun kesadaranku yg pelan-pelan makin siuman, merasa tetek si Amah yg saat itu berusia 26 tahun menghimpit lenganku. Rasanya dia tdk pakai BH pula.

Kakinya merangkul kakiku dan rasanya sampai kepaha tdk terasa dihalangi oleh kain. Kulirik ke bawah, memang sarungnya terangkat tinggi sekali sampai hampir ke pantatnya. Kelihatannya dia memang benar tidur, karena mendengkur lirih. Iseng aja kuraba pantatnya yg bahenol. Aku merasa aneh karena rabaanku tdk menemukan garis celana dalam. Pelan-pelan kutarik keatas sarungnya dan memang benar dia tdk pakai celana dalam.

K0ntolku kembali bangun menghadapi sensasi ini. Nafsuku jadi bangkit juga. Kuremas-remas pantatnya yg sudah tdk tertutup sarung lagi. Bosan meremas pantat, aku penasaran pada vaginanya. Kudorong dia pelan-pelan sampai ke posisi telentang. Tanganku lalu menggapai vaginanya. Jembutnya tdk terasa banyak, anehnya belahan vaginanya terasa berlendir.
Aku memainkan clitorisnya. Aku mendengar nafasnya mendengus-dengus, salah satu tangannya lalu masuk ke dalam celana boxerku dan mengenggam k0ntolku. K0ntolku dikocok-kocoknya. Beberapa saat kemudian dia menarik tubuhku sehingga aku berposisi miring. Dia pun miring menghadapku. Tangannya meraih k0ntolku yg sudah bangun sepenuhnya. Dituntunnya k0ntolku memasuki lubang vaginanya. Kami ngentot posisi miring. Makin lama makin sedap, tetapi gerakannya tdk leluasa.

Gerakan Amah makin agresif dan dia pun tanpa malu-malu mendesis-desis. Tanpa sungkan dia mendorongku sehingga aku telentang. Amah bangkit langsung mendudukiku dan memasukkan k0ntolku ke vaginanya. Dia menggenjot sambil merintih yg menyebabkan Nek Imah dan Nek Sumi terbangun.
Mereka menonton permainan kami sambil berbaring miring. Amah yg ditonton tdk peduli tetap asik memacu nafsunya. Aku tdk bisa menikmatinya secara maksimal, karena risih juga ditonton. Amah makin cepat memacu sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya yg dibareng dengan jeritan lirih.

Kehebohan acara ngentot kami membuat posisiku jadi berubah makin ketengah kasur. Ini makin ditegaskan setelah si Amah mencapai puncaknya dia berguling ke sisi lain diriku sehingga aku di posisi diapit antara Amah dan Imah.
Aku telentang dengan posisi tdk pakai celana dan k0ntolku mengacung. Aku diam saja dan tanpa mengenakan celanaku aku berusaha tidur saja. Meski agak susah aku yg dihimpit Amah dan Imah tertidur juga.

Tidurku tdk bisa nyenyak karena merasa kontolku seperti dikocok. Aku terbangun, tetapi pura-pura masih tidur. Aku intip ternyata si Nenek Imah yg memainkan k0ntolku. Wanita yg pada waktu itu berusia 40 tahun mungkin terangsang melihat adegan aku bermain dengan Amah yg tdk lain adalah anaknya. Dikocoknya pelan-pelan sehingga tdk bisa tertahan k0ntolku jadi tegang kembali. Dengan gerakan hati-hati dia bangkit dan menaiki tubuhku.

Dia jongkok diatas diriku dan memasukkan k0ntolku ke dalam lubang vaginanya perlahan. Digerakkan badannya pelan-pelan naik turun. Nikmat juga rasa vaginanya, Meski umurnya sudah 40an tapi masih cukup menjepit juga. Lama-lama gerakannya tdk terkontrol karena dia telungkup diatas ku dan terus memompa sampai akhirnya mencapai kepuasannya. Merasa tanggung aku peluk tubuhnya dan aku melanjutkan gerakan sampai akhirnya aku pun ejakulasi.

Tubuhku terasa lelah sekali sehingga aku tdk peduli lagi dan aku tidur kembali. Aku terbangun karena diluar terlihat cahaya mulai terang. Aku masih belum bercelana, tetapi ketika aku terbangun bagian bawahku sudah ditutupi sarung. Aku adalah yg paling akhir bangun. Yg lain terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Sebelum aku bangkit aku merenung sejenak. Semalam aku menyetubuhi anak, ibu dan neneknya. Sebetulnya istilah menyetubuhi agak kurang tepat. Jika dikatakan aku menyetubuhi si Ani, itu memang betul, tetapi si Amah, dia sendiri yg berinisiatif memasukkan k0ntolku ke vaginanya. Begitu juga si Imah, nenek Suryani, dia memasukkan kontolku ketika aku masih tidur. Jadi untuk kedua org terakhir ini istilah yg tepat aku disetubuhi. Namun apa pun ceritanya aku memang sudah bersetubuh dengan perempuan dari 3 generasi.

Sambil merenungi itu, k0ntolku mulai mengeras lagi. Dia memang tdk keras full, tapi ya agak membengkak. Nek Imah membangunkanku . Dia mengajak mandi bersama lagi. Pukul 6 pagi aku masih merasa dingin, tapi mereka sudah mau mandi. Jika kuturuti kemauanku, rasanya inginnya nanti saja . Namun aku ingat bahwa kamar mandinya terbuka, makin siang makin rawan terlihat org. Apa boleh buat, dingin-dingin dan masih agak ngantuk aku bangkit dan bersama semua penghuni rumah menuju sumur pompa.
Kali ini aku berinisiatif memompa dan mengisi dua ember sampai penuh. Sementara itu keempat perempuan itu sudah melepasi bajunya semua sampai telanjang bulat. Lalu seperti kemarin mereka berjongkok mengelilingi ember dan menyirami tubuhnya. Jika jongkok, aku memang tdk bisa melihat tetek dan vagina mereka.

Aku melepasi bajuku sampai bugil juga dan ikut-ikutan jongkok bergantian menimba air. Pagi ini acara mandi bersama lebih akrab dari kemarin sore, aku bebas menjamahi tubuh mereka satu persatu sampai ke nenek Sumi. Tentu saja menjamahnya sambil mengusap sabun. Namun usapan itu hanya jalan untuk meremas tetek dan menjamah vagina. Sebenarnya aku agak ragu menyabuni Nek Sumi, tapi dia sendiri yg minta aku menyabuni tubuhnya. Ya aku tdk bisa menolak.
Bodynya meski lebih tebal dengan lemak, tetapi susunya masih enak diremas. Jembutnya juga tdk terlalu banyak. Nek Sumi nakal juga dia, karena sementara aku menyabuni tubuhnya, dia mengambil kesempatan untuk meraih kontolku dan mengocoknya sebentar. Meski cuma sesaat, dampaknya kontolku jadi ngaceng.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah Nek Sumi yg sudah berusia 54 tahun masih punya nafsu ingin dientot juga. Jika dilihat dari gelagatnya sepertinya dia memancing-mancing. Karena setelah melihat kontolku ngaceng dia menggeser-geserkan pantatnya yg tebal ke kemaluanku. Aku sempat meraih badannya dan melakukan gerakan seperti menyetubuhinya, padahal k0ntolku tdk masuk ke vagina, cuma dijepit diantara kedua pahanya.

Bukan itu saja dia malah berbalik arah sehingga kami berhadapan sambil berdiri. Disiramnya k0ntolku lalu digenggamnya dan diarahkan masuk ke dalam lubang vaginanya. Tdk mudah memasukkan k0ntol dalam posisi berdiri, tetapi dia cukup lihai juga karena aku merasa k0ntolku sudah terjepit di dalam lubang vaginanya.
Tdk lama, mungkin cuma 1 menit, Nek Sumi melepas kontolku dari vaginanya.
“ Nanti diliat org, kita terusin di dalam aja,” katanya membisik ku.

Betul juga katanya, karena di tempat terbuka begini kalau ada org melihat kami bersetubuh, rasanya kurang sopan juga. Ritual mandi segera selesai, aku mengenakan celana boxer dan kaus oblong. Nek Sumi mengenakan kain batik menutupi payudaranya dan pahanya. Org Jawa menyebutnya kemben.
Nek Sumi menggandengku masuk rumah. Aku turuti saja tarikannya, kira-kira dia mau apa. Apakah mungkin kami melakukan persetubuhan, sementara cuaca sudah terang, sehingga semua org di rumah ini bisa melihat.

Namun dugaanku keliru. Nek Sumi mengajakku naik ke kasur. Aku ditelentangkan dan celana boxerku dilepas. K0ntolku yg masih setengah tegang diraihnya lalu dia langsung mengoral. Begitu mulutnya melahap k0ntolku aku langsung lupa diri, karena nikmatnya kuluman mulut Nek Sumi.
Kulihat perempuan lain mondar-mandir, sibuk dengan urusannya masing-masing sambil sesekali melirik kami berdua. Mereka seolah tdk ambil pusing oleh kegiatanku bersama Nek Sumi. Birahiku makin memuncak, sampai k0ntolku benar-benar keras.

Nek Sumi tdk membuka kembennya. Dia menduduki dan menuntun k0ntolku memasuki lubang vaginanya. Ternyata dibalik kemben itu dia tak pakai celana dalam. Setelah k0ntolku tenggelam tertelan vagina Nek Sumi, dia langsung melakukan gerakan berputar. Luar biasa rasa nikmat k0ntolku yg seperti diperas-peras oleh vaginanya. Mungkin inilah yg disebut “Goyg Karawang”. K0ntolku bagaikan sendok yg mengaduk vaginanya. Aku tdk peduli apakah Nek Sumi bisa merasakan nikmatnya ngentot, karena aku merasa kan nikmatnya di k0ntolku luar biasa.

Aku mampu bertahan, walaupun permainan Nek Sumi ini top banget. Mungkin karena semalam aku sudah ngecrot dua kali, jadi k0ntolku agak imum. Nek Sumi rupanya asyik sendiri dengan erangan-erangannya. Mungkin gerakan ini mengakibatkan clitorisnya tergerus maksimal dan G-spotnya juga seperti kena ulegan. Dia mendahului ku mencapai orgasmenya . Tampaknya dia mendapat orgasme yg luar biasa, karena, nenek-nenek ini menjerit tanpa sadar, sampai menarik perhatian semua org di dalam rumah.
Memang aku merasa k0ntolku seperti dipijat-pijat oleh gelombang orgasmenya. K0ntolku juga terasa hangat oleh siraman lendir vagina Nek Sumi.

Dia sudah ambruk menindih tubuhku dengan nafas terengah-engah. Setelah usai, perlahan-lahan kubalikkan posisinya sambil menjaga jangan sampai k0ntolku lepas. Aku berhasil menindihnya. Nek Sumi menurut saja kemauanku. Setelah posisinya mantap, aku mulai menggenjot. Terasa agak beda vagina nene-nenek ini. Rasanya sekarang malah lebih menggigit, dibanding tadi. Aku terus bermain mencari jalan ke puncak kepuasanku sendiri. Aku tdk peduli apakah Nek Sumi juga merasakan nikmat. Hampir 10 menit aku mengayuh, mulai terasa aku akan ejakulasi. Gerakanku dipercepat, sementara itu Nek Sumi rupanya syur pula dengan gerak cepatku. Dia merintih seperti menangis lalu berteriak mengejutkanku, ketika aku menembakkan spermaku ke dalam vagina nya.

Badanku terasa lelah, sepagi ini sudah bekerja keras. Aku berbaring disamping Nek Sumi sambil mengatur nafasku sampai normal kembali. Nek Sumi mengusap-usap rambutku. Dia kata aku pintar membahagiakan perempuan, karena bisa bermain dan memuaskan pasangannya.
Kupakai kembali celana pendekku dan aku kembali ke kamar mandi mencuci alat vitalku. Bukan itu saja aku mengulang mandi lagi, karena badanku berkeringat. Lepas mandi perutku terasa lapar.

Mereka seperti pandai menduga, karena hidangan nasi goreng, yg cukup pedas dengan telor mata sapi kesukaanku sudah tersedia. Tanpa diminta dua kali aku langsung melahap sepiring penuh nasi goreng yg cukup pedas, tapi rasanya nikmat banget.
Mandi, udah, ngentot udah, makan sampai kenyg. Apalagi kesenangan yg belum kudapat. Dalam hati aku tertawa geli, karena kejadianku dirumah ini seperti “Buy one get four”. Badanku segar, kenyg, dan ringan. Aku mencari udara segar duduk di amben sambil menghisap rokok dan menyeruput hidangan kopi tubruk. Tdk lama kemudian ke empat bidadariku mengerumuni ku dan kami bercanda sambil berbual-bual.

Mereka memintaku menginap semalam lagi, karena mereka menyenangi aku. Kata Amah aku pinter mainnya, dan kuat. Nek Sumi menimpali dengan mengatakan aku orgnya bagus. Sudah terbayg dikepalaku, jika aku nginap semalam lagi, maka akan terjadi pesta orgy paling tdk dengan 3 perempuan dewasa. Aku melihat Ani tdk bakal bisa ikut, karena vaginanya masih sakit.

Permintaan mereka aku setujui, dan mereka menyambutnya dengan menyiumiku bergantian. Meski aku senang tetapi benakku bertanya. Bagaimana jalan pikiran perempuan-perempuan ini, sehingga mereka dengan seenaknya mengentot denganku di depan anak dan ibunya bahkan neneknya, juga tdk peduli pada cucuk dan cicitnya.
Ketika hal itu kutanyakan dalam obrolan di teras rumah, Imah menimpalinya dengan santai bahwa mereka merasa tdk perlu malu, karena sudah sama-sama dewasa. Akhirnya dari obrolan itu aku menyimpulkan bahwa mereka meskipun adalah anak, cucu, cicit, emak, nenek dan buyut, sepertinya hubungan itu diabaikan. Mereka menganggap ya sebagai sesama perempuan yg ingin mendapat kepuasan saja.

Entah karena jalan pikirannya terlalu sederhana, atau memang karena norma soal hubungan sex di kampung ini begitu longgar. Jadi mereka tdk perlu ambil pusing, atau merasa malu apalagi segan, jika harus ngentot di depan anak atau cucunya bahkan cicitnya. Karena sama-sama perempuan, sama-sama punya keinginan, ya penuhi saja keinginan itu selagi bisa.
Seharian bergaul dengan mereka aku menjadi makin akrab dan sudah dianggap sebagai keluarga, atau bahkan dianggap sebagai suami mereka. Dengan santainya masing-masing bermanja-manjaan denganku, menggelendot, menciumi dan memelukku dikasur.

Malam kedua, aku bekerja lebih keras, karena kami bermain 4some. Agak berkepanjangan jika aku uraikan permainan kami. Tapi semalam itu aku berhasil mengoral mereka, termasuk Suryani. Tapi yg bisa dientot tdk termasuk Ani. Hebatnya aku berhasil membuat mereka squirt melalui olahan tanganku. Ini yg membuat mereka makin senang denganku. Malam itu aku sempat dua kali berejakulasi. Agak lupa di vagina siapa aku ngecrot malam itu.

Hari itu aku harus pulang ke Jakarta, karena banyak kerjaan yg harus diselesaikan. Meski pun Amah.Imah dan Sumi tdk menuntut, tetapi aku tdk tega, sehingga mereka kuberi sejuta-sejuta. Mulanya mereka menolak, tetapi aku tahu bahwa uang itu sangat berarti, sehingga aku memaksa mereka menerimanya.
Ketika aku kembali pulang, mereka dengan berat hati melepas, bahkan sampai berlinangan air mata. Mereka menuntutku agar seminggu lagi aku datang lagi dan menginap lebih lama.

Setelah hampir dua minggu aku baru bisa kembali ketempat gubuk mereka. Bukan main senangnya melihat kedatanganku. Itu adalah hari jumat sore. Kau berencana akan menginap di rumah mereka sampai hari minggu. Jadi ada 2 malam yg bakal kuhabiskan untuk pesta orgy di gubuk di tengah desa.

Kedatanganku kali itu aku membawa oleh-oleh. Pakaian-pakaian cukup banyak. Aku memang bukan membeli baju-baju baru, tetapi aku memborong baju-baju bekas eks impor. Hampir seharian aku memilih dan menaksir ukuran baju-baju mereka. Mungkin sekitar 10 stel untuk setiap org. Meski pun bekas, tetapi masih sangat layak pakai. Apalagi untuk dipakai di desa, masih kelihatan sangat bagus.

Oleh-oleh setiap org aku bungkus, satu persatu. Bukan hanya pakaian, tetapi juga ada tas wanita, 3 buah masing-masing, lalu sepatu dan sendal. Semuanya barang bekas eks impor. Semua baju aku laundry dan barang-barang lain aku bungkus dengan plastik seperti kelihatan baru. Baju-bajunya pun terlihat seperti baru karena terbungkus rapi dalam plastik laundry. Bagasi mobilku penuh.
Sesampai aku ditempat mereka, aku tdk membawanya, karena aku datang sendiri, sehingga tdk bisa aku jinjing sendiri semuanya. Aku ajak mereka ke mobilku, lalu masing-masing membawa oleh-olehnya.

Sesampai di rumah mereka tdk sabar membukanya. Sepertinya aku mengerti selera para perempuan itu, karena mereka merasa cocok dengan pilihanku termasuk model dan warnanya. Aku tdk mengungkap bahwa itu barang bekas. Mereka menganggap semua itu adalah baru. Tanpa malu, mereka mencoba bajunya satu persatu, Untung ukurannya bisa masuk semua, termasuk sepatu dan sandal.

Aku tahu bahwa mereka tdk punya tempat untuk menyimpan baju-baju itu. Makanya aku menempatkan baju mereka di dalam box kontainer plastik. Jadi aku membawa 4 kontainer , dan kontainer itulah yg mereka gendong. Aku sudah mempelajari situasi perjalanan dari mobil ke rumah mereka, sehingga aku membungkus kontainer itu dengan karung goni, jadi tdk terlihat mencolok oleh para tetangga mereka.

Aku sudah bagaikan raja di rumah itu. Mereka menawariku untuk dipijat. Bukan tanggung ke empat cewek itu memijatiku semua. Memang pijatannya terasa tdk karuan. Mungkin bukan karena pijatannya kurang nikmat, tetapi karena semua bagian dipijat jadi rasanya bingung untuk menikmati pijatan mana yg enak.

Meski hari masih sore, tetapi akibat pijatan itu suasana jadi hot. Aku hanya mengenakan celana dalam boxer. Mulanya dipijat dengan posisi telungkup, kemudian ya telentang. Dari sejak telungkup tadi k0ntolku sudah agak mengeras. Begitu telentang, karena tdk ada halangan, k0ntolku jadi makin menggembung. Nek Sumi yg pertama berkomentar sambil meremas k0ntolku. Tanpa menanya dan izinku, ditariknya satu-satunya penutup tubuhku, sehingga k0ntolku berdiri gagah perkasa.
Imah yg sedang memijat paha kananku langsung meraih k0ntolku dan digenggam lalu dikocoknya. Birahiku jadi meningkat.

Ditengah kenikmatan itu rupanya Imah sudah mengambil posisi diantara selangkanganku lalu dilomotnya k0ntolku dan melakukan gerakan maju mundur. Nek Sumi tdk mau menyia-nyiakan kesempatan, dia menjilati pentil susuku bergantian kiri dan kanan. Amah nenbuka bagian atas pakaiannya dan menyodorkan susunya untuk aku hisap. Susunya masih sangat kenyal dan pentilnya terasa pas sekali dipelintir pakai bibir. Aku merasa Suryani masih memijati tangan kananku. Mungkin dia bingung, apa yg harus dilakukan.
Aku dikeroyok begitu dan sudah dua minggu libur tdk ngentot, apalagi sedotan Imah nikmatnya luar biasa, spermaku tdk bisa kupertahankan sehingga meletuslah di dalam mulut Imah. Ketika spermaku muncrat, terasa Imah diam saja membekap kontolku dengan mulutnya. Sebetulnya ketika ejakulasi, aku merasa kepala k0ntolku geli sekali. Namun semaksimal mungkin aku tahan. Setelah hentakan ejakulasi usai. Imah melepas mulutnya dari k0ntolku. Aku tdk tahu apakah spermaku di telan atau dibuang, karena pemandanganku tertutup oleh badan si Amah yg masih menyodorkan susunya dan badan Nek Sumi yg masih menjilati putingku bergantian.

Setelah mereka tahu aku mencapai kepuasan, mereka menghentikan aktifitasnya di badanku. Aku tergolek lunglai dan pasrah. Imah membersihkan sekitar kontolku dengan handuk basah. Dengan handuk lain dia menyeka keringat di sekujur tubuhku. Aku benar-benar diperlakukan bagai raja.
Amah memerintahkan anaknya Suryani agar membuka semua bajunya sampai telanjang. Setelah itu dia membimbing anaknya untuk mengoral k0ntolku yg sedang kuyu. Mulanya dia menolak, karena jijik katanya. Namun ibunya mencontohkan melomot k0ntolku.

Neneknya si Imah juga memerintahkan Ani mengoral. Dia setengah memarahi cucunya yg masih belum mampu menghapus rasa jijiknya. Selepas Amah melompot k0ntolku memberi contoh, si Imah ikut memberi contoh dengan menjilati kedua bijiku. Bagian itu adalah kelemahanku, karena jika dijilat disitu aku merasa nikmat sekali. Dia mencontohkan menjilat kontolku dan memperlihatkan bahwa tdk ada alasan jijik mengoral ku.

Karena si Buyut juga memberi perintah yg sama, tdk ada celah bagi Ani untuk mengelak. Aku tahu bahwa Ani belum terangsang, sehingga dia masih agak jijik. Tapi karena dipaksa terus akhirnya dia mulai menciumi batang k0ntolku yg sudah mulai bangun. Dari kegiatan menciumi lalu dia mulai berani memasukkan kepala k0ntolku ke mulutnya. Mulutnya tdk melahap semua kepala k0ntolku, tetapi hanya sebagian saja. Meski begitu rasa nikmatnya sudah mulai menjalari tubuhku.

Perlahan-lahan k0ntolku memuai. Aku bangkit dan dalam posisi duduk mengangkang memperhatikan kerja si Ani. Dia telungkup diantara selangkanganku. Ani kutarik keatas dan melepas kulumannya. Kini dia yg kubaringkan. Ani menuruti kemauanku. Dia tidur telentang dalam keadaan bugil.

Aku menciumi teteknya. Ani menggelinjang dan berusaha menahan kepalaku. Dia merasa geli dan tdk mampu menahannya. Karena kegelian aku menghentikan ciuman di teteknya yg masih kecil. Tanganku yg kemudian meraba, meremas perlahan-lahan dan mempermainkan putingnya yg masih kecil. Kenyal sekali tetek yg baru tumbuh ini. Bentuknya masih sangat mancung. Kelihatannya dia mulai bisa mengatasi rasa gelinya dan puting kecilnya mulai mencuat dan terasa agak mengeras. Tanganku yg satunya meraba belahan vaginanya. Vagina cembung dengan belahan yg rapat. Jari tengahku menekan belahan rapat itu, mencari letak clitorisnya. Tdk terasa dimana letak clitorisnya. Vaginanya memang belum berkembang, aku usap-usap di titik yg kuduga adalah tempat clitoris berada.

Mulanya tanganku ditahan, karena dia menggelinjang kegelian juga. Namun aku memaksa bertahan terus mengusap posisi itilnya. Akhirnya dia melemah dan membiarkan aku memainkan vaginanya dan mengusap itilnya.
Kucolek lubang vaginanya mulai terasa ada cairan agak kental keluar dari lubang vaginanya. Ini menandakan dia mulai terangsang. Aku penasaran ingin mengoral vagina kecil yg baru aku jebol keperawanannya dua minggu lalu.
Kepalaku ditahannya dan dia berusaha menjauhkan kepalaku dari vaginanya. Jilatanku masih terasa geli bagi vaginanya. Aku memaksa tetap membekap vaginanya, namun lidahku tdk menyentuh wilayah itilnya, aku menjilati sekitar lubang vaginanya.

Setelah dia mulai bisa menerima jilatanku, aku beralih ke wilayah itilnya. Setiap tersentuh titik tertentu dia menggelinjang. Aku menengarai di titik itulah letak clitorisnya yg masih tertutup oleh bibir vaginanya. Aku menyerang titik sensitif itu dengan jilatan halus, sehingga Ani makin menggelinjang. Aku tahu gelinjang ini bukan karena geli, tetapi karena nikmat. Dia sudah terangsang dan cukup tinggi sehingga tdk lagi merasa geli. Jika dia belum terangsang dipastikan tdk mampu menahan rasa geli.

Cukup lama aku mengoral vagina Ani sampai terasa secuil daging keras makin menonjol. ?Aku terus berkosentrasi menjilati titik itu. Tanpa dia sadari dia merintih sebagaimana rintihan cewek yg menikmati senggama. Makin lama, makin menonjol itilnya dan akhirnya dia tdk mampu membendung gelombang orgasmenya . Kepalaku dijepitnya oleh kedua paha dan tangannya menekan kepalaku merapat ke vaginanya. Mulutku merasai denyutan bibir vaginanya berkali-kali.

Ani kemudian tergeletak pasrah dan menutup matanya. Air mukanya menunjukkan rasa puas. Aku mengambil pelumas Jelly untuk melicinkan k0ntolku memasuki lubang vagina kecilnya. Lubang vaginanya juga aku lumasi. Ani diam saja dan pasrah. Dengan hati-hati aku menusuk kepala k0ntolku yg sudah licin karena pelumas jelly. Ani mengernyit menahan sakit. K0ntolku terus aku dorong dengan tekanan yg sangat hati-hati sampai akhirnya terbenam seluruhnya. Memperhatikan bibir vaginanya, terlihat vagina itu seperti terkuak paksa menerima hunjaman k0ntolku.

Perlahan-lahan sekali aku menggenjot vaginanya. Aku merasa vaginanya masih sangat sempit, tetapi k0ntolku tdk merasa sakit seperti ketika memerawani waktu itu. Setelah berkali-kali gerakan maju mundur, terasa lubang nya makin menerima k0ntolku. Aku pun merasa nikmat oleh jepitan vaginanya. Ani diam saja tida merespon gerakanku.
Mungkin anak di bawah umur belum mampu menikmati entotan, sehingga dia tdk bereaksi. Berbeda dengan wanita yg sudah cukup umur, mereka biasanya sudah mengerang jika aku genjot begini. Aku nikmati saja jepitan vagina anak 12 tahun yg sangat nikmat. Lelah main dengan posisi aku diatas, aku berguling sambil memeluk Ani sehingga dia menjadi berposisi di atas.
Emaknya, neneknya dan buyutnya memberi arahan agar dia mengatur posisi yg nikmat. Awalnya Ani jongkok diatasku dan melakukan gerakan naik turun. Namun kontrolnya masih belum bagus sehingga k0ntolku berkali-kali lepas dari lubangnya. Emaknya mengajarinya melakukan gerakan maju mundur. Gerakan itu memberikan rasa pada k0ntolku seperti diperas-peras. Mungkin Ani merasa sakit melakukan gerakan itu, dia tanpa arahan telungkup diatasku. Dia tdk melakukan gerakan, sehingga akulah yg bergerak dibawahnya.
Posisi aku balik lagi namun kali ini aku tdk menindihnya, tetapi duduk bersimpuh sehingga aku bisa melihat k0ntolku menerjang vagina kecilnya. Pemandangan itu menambah rangsangan bagiku sehingga tak lama kemudian aku mencapai puncak dan melepaskan semprotan maniku di dalam vaginanya. Aku tahu si Ani tdk sampai orgasme, mungkin karena dia belum mampu menikmati persetubuhan ini.

Badanku penuh keringat. Imah mengurus tubuhku yg penuh berkeringat dengan menyeka menggunakan handuk. Aku terbaring dalam keadaan masih bugil, lalu ditutupi oleh sarung. Sekitar setengah jam aku istirahat. Sementara itu Ani sudah kembali berpakaian.

Kami kemudian menuju kamar mandi untuk mandi bersama, sebelum hari gelap. Dinginnya air pompa terasa sangat menyegarkan. Aku dimandikan oleh 4 wanita yg semua bugil. Dari ujung kaki sampai rambut semuanya ada yg mengurus. Aku bagaikan anak bayi, diurus oleh 4 perempuan.
Setelah badan segar aku menikmati segelas kopi tubruk, singkong rebus dan rokok kretek. Nikmat sekali suasana desa seperti ini, apalagi perasaanku lega karena habis ngentot dan 2 kali crot.

Sehabis makan malam, mereka masih mematut-matut baju, sepatu dan tas yg aku berikan kepada mereka. Pakaian yg mereka miliki sebelumnya tdk sebanyak yg aku bawakan, sehingga pemberianku ini sangat luar biasa bagi mereka. Padahal aku belanja itu semua tdk sampai sejuta.
Setelah mereka puas dengan baju-baju barunya dan malam juga makin larut, akhirnya kami berkumpul di kasur. Mataku belum merasa ngantuk, sehingga aku duduk bersila. Melihat aku belum rebah, mereka menyesuaikan duduk di dekatku. Amah mengambil kesempatan memijat bahuku, sementara Nek Sumi memijat tangan kanan dan Imah memijat tangan kiri.

Sambil memijat kami mengrobrol mengenai macam-macam, mengenai keluarga mereka, mengenai keadaan kampung. Aku makin banyak tahu mengenai latar belakang mereka satu persatu. Tdk ada seorg pun dari mereka yg menikah secara resmi, maksudnya nikah dan mendapat surat nikah. Kebanyakan di kampung ini menikah, cukup mendatangkan kyai lalu mengucapkan ijab. Jadi mereka hanya melakukan nikah siri.

Suami-suami mereka juga mudah saja pergi meninggalkan rumah, dengan alasan mencari kerja di kota, ada yg kembali, tapi kebanyakan pergi begitu saja dan tdk peduli dengan keluarganya. Perempuan ditelantarkan oleh suami, sudah dianggap biasa di desa ini..

Ngobrol lama-lama membuat aku ngantuk. Kubaringkan diriku di kasur, tetapi mereka mengaturku agar aku berbaring di tengah, artinya aku diapit oleh dua org di kiri dan dua di kanan, Siapa saja yg di kanan dan yg di kiri aku lupa. Namun ketika aku tidur telentang mereka tdk lantas ikut berbaring. Aku kembali dipijat, sambil mereka terus bercerita bergantian. Sejujurnya aku hanya ingin tidur saja, karena nafsuku untuk “bertempur” sudah agak lemah.

Namun perempuan-perempuan ini tetap berusaha memuaskan hasrat sexku yg sebenarnya sedang dalam keadaan padam. Ada saja yg memijat-mijat k0ntolku yg sedang loyo. Tdk sekedar meremas dari luar celana, tetapi diraihnya batangku di dalam celana. Seingatku Nek Sumi yg memulai memijat ala vitalku. Dia katanya pernah belajar soal terapi kejantanan. sekeliling kemaluanku diurutnya.
Kepiawaiannya mengurut mengakibatkan perlahan-lahan k0ntolku mengeras juga, makin lama k0ntolku bangun makin keras. Padahal hasratku belum bangun. Urutan dengan tangan kemudian berlanjut dengan urutan dengan mulut. Nek Sumi yg paling senior, mahir sekali memainkan mulutnya. Puas melumat kemaluanku dia melepas pakaian bawahnya dan mengangkangiku, vaginanya diadu dengan k0ntolku sampai akhirnya k0ntolku terbenam. Dia memainkan vaginanya sambil tetap duduk diam. Aku merasa otot-otot di dalam kemaluannya berdenyut-denyut memijat k0ntolku. Mungkin gerakan vaginanya itulah yg disebut empot ayam. Meski umurnya sudah setengah abad lebih dan cengkeraman vaginanya tdk seketat yg muda-muda, tetapi karena kemahirannya, aku merasakan nikmat juga dimainkan oleh vaginanya.

Sekitar 10 menit dia melakukan olah otot vagina, rupanya dia makin bernafsu. Nek Sumi mulai memacu gerakan berputar kadang naik turun kadang maju mundur. Begitu terus berganti-ganti dan dia syurr sendiri sampai akhirnya dia kelojotan karena orgasmenya. Vaginanya memang tdk ketat lagi, tetapi karena cairan pelumasnya tdk banyak berproduksi lagi, dampaknya aku merasa dibekap juga oleh jepitan vaginanya.

Nek Sumi bangkit, meninggalkan k0ntolku yg masih berdiri tegak gagah berani. Amah yg sedari tadi berbaring disampingku dan membimbing tanganku agar beroperasi di vaginanya sampai aku merasakan vaginanya banjir, bangkit menggantikan posisi Nek Sumi. Dia rupanya ingin melakukan dengan posisi berbeda. Di jongkok menduduki k0ntolku dengan posisi membelakangiku.

Dia melakukan gerakan mengulek. Aku menikmati pemandangan kemontokan pantatnya yg bergetar-getar ketika menabrak tubuhku. Meski cahaya remang-remang, aku tetap cukup jelas melihat pantatnya yg semok naik turun dan berputar-putar diatas kemaluanku. Dia mengolah gerakannya sendiri untuk mendapatkan kenikmatan sampai akhirnya dia pun terpuaskan setelah mencapai puncak kenikmatannya dan rebah telentang di atas tubuhku.
K0ntolku masih terus tegak. Aku sendiri bingung atas kemampuan k0ntolku bertahan keras terus, padahal aku sedang kurang bernafsu. Mungkin itu merupakan hasil kerja terapi kejantanan yg dilakukan nek Sumi tadi.

Melihat k0ntolku masih keras dan tegak, Imah duduk disampingku. Dia mengurut-urut di sekitar kemaluanku. Urutannya membrri kenikmatan sendiri dan mengakibatkan k0ntolku terasa makin keras seperti kayu. Aku tdk tahu, untuk apa k0ntolku diurut, aku senang karena urutannya menambah kekerasan senjataku.
Imah lalu menaikiku dan memasukkan k0ntolku ke dalam liang vaginanya. Setelah terbenam seluruhnya, Imah telungkup diatasku. Pinggulnya bergerak naik turun, kadang-kadang bergoyang kekiri-kekanan. Aku merasakan permainannya itu sangat merangsang dan memacu birahiku sampai akhirnya hampir mencapai puncak. Kelihatannya Imah tahu jika aku sudah mendekati finish. Dia lalu berhenti bergerak, sehingga libidoku turun kembali. Setelah itu dia melakukan olah pinggulnya lagi. Permainannya memang luar biasa, sebab dengan cepat birahiku naik lagi, lalu dia berhenti lagi bergerak. Aku jadi merasa dipermainkan, karena menjelang aku tepancut, dia berhenti, sehingga aku gagal meraih puncak..

Aku jadi tdk sabar. Jika tadi aku diam saja alias pasif, kini aku berinisiatif bergerak-gerak menerjang ke atas. Rupanya Imah kurang berkenan, tetapi dia tdk protes, dia hanya mengikuti gerakanku, sehingga dia mampu mengurangi gesekan. Sebab jika aku dorong naik dia ikut naik, aku tarik dia mendorong vaginanya mendekat. Gerakanku agak kurang leluasa karena dia menindihku.

Aku menyerah lalu kembali diam. Imah kembali berperan. Dia melakukan gerakan yg unik menurutku. Badannya tdk bergerak, tetapi pinggulnya seperti bergerak seperti gerakan mengangguk-angguk sehingga aku merasakan k0ntolku seperti dicabut-cabut. Gila nikmatnya luar biasa. Lama-lama gerakannya makin buas dan aku pun terbawa nikmat dan aku sampailah digaris finish, tetapi Imah makin gila dan tdk peduli dengan ejakulasiku. Dia makin buas bergerak.Rupanya ketika aku ejakulasi, dia pun hampir mencapai kenikmatan. Dampak semprotan spermaku yg hangat membuat dia mencapai kepuasannya sampai dia merintih panjang. Dia terengah-engah di atas tubuhku dan peluh kami mengucur cukup banyak.

Badanku terasa lelah sangat, sehingga aku tdk peduli lagi dengan keadaan tubuhku. Aku langsung tertidur..
Nyenyak sekali tidurku. Aku terbangun pagi-pagi karena mendengar kokok ayam jago. Begitu bangun aku memegang senjataku. Sebab aku merasa, barangku seolah-olah hilang. Ketika kupegang, ternyata bukan hilang tetapi terkulai loyo. Aku sempat syok, karena biasanya setiap bangun pagi barangku pasti mengeras, apalagi jika dalam keadaan sesak kencing. Pagi itu aku memang kebelet kencing, tetapi yg mengkhawatirkanku adalah barangku tdk bangun, malah loyo.

Aku bangun dan melepas hajat kecil di luar rumah. Aku kembali dan berbaring di samping Nek Sumi. Dia rupanya juga sudah siuman. Aku peluk tubuhnya lalu aku bisikkan masalahku. Dia senyum-senyum. Dia lalu duduk di sampingku, lalu melepas celanaku dan melakukan pijatan di sekitar kemaluanku. Kelihatannya dia paham betul dengan otot kemaluan. Tdk terlalu lama dipijat dan diurut, k0ntolku mulai bangun dan makin lama makin keras. Aku kagum juga kemahirannya membangunkan ular tidur. K0ntolku jadi keras, padahal aku tdk sesak kencing.
Nek Sumi berhenti memijat dan membiarkan k0ntolku tegak berdiri mengeras. Sekitar 5 menit dia diamkan sambil terus diamati. K0ntolku tdk menyusut, masih tetap tegak. Nek Sumi mengangguk-angguk yg aku tdk tahu apa maksudnya.

Suryani yg baru bangun diperintahkan Nek Sumi membuka pakaian bawahnya. Ani tdk berani membantah kecuali mengikuti instruksi buyutnya. Aku menangkap rencana Nek Sumi. Dia menginginkan agar aku mencoba kedigdayaan k0ntolku kelubang cicitnya. Aku meraih pelumas K Jelly dan melumasi seluruh batang k0ntolku. Nek Sumi memerintah aku menindih cicitnya. Aku bangkit mengikuti perintahnya dan langsung mengarahkan k0ntolku memasuki lubang vagina yg masih belum berbulu. Ani sebetulnya belum siap menerima k0ntolku, karena dia belum terangsang. Aku tahu itu makanya aku lumasi vaginanya dengan K jelly.

Tdk terlalu sulit k0ntolku masuk ke dalam vagina sempit dibantu pelumas k Jelly. Nikmat sekali rasanya jepitan vagina anak dibawah umur. Aku memompa per lahan-lahan dan makin lama makin cepat. Cukup lama juga aku menggenjot Ani, meski pun vaginanya menjepit dan nikmat tapi aku bisa bertahan cukup lama. Ani mulai terbawa gelombang birahi, sehingga tanpa sadar dia mendesis-desis lalu merintih. Aku makin bersemangat, karena aku tahu dia mulai merasa kenikmatan disetubuhi. Tiba-tiba Ani merintih panjang dan memeluk diriku ketat sekali. Dia mendapatkan orgasme, aku makin yakin, karena vaginanya menjepit-jepit dengan irama seperti org berejakulasi.
Aku behenti sejenak sampai dia selesai meluapkan kenikmatannya. Setelah itu aku mainkan lagi genjotan dan rasa vaginanya makin nikmat saja. Sebetulnya tadi aku sudah hampir sampai juga, tetapi hilang karena gerakan aku hentikan. Aku genjot lagi dan aku berkosentrasi penuh sampai menjelang puncak kenikmatanku. Rupanya kosentrasiku memberi dampak pada permainanku yg menghantar punak kenikmatan Ani kembali. Dia merintih panjang dan memelukku lagi, tapi aku tdk peduli aku sudah hampir sampai maka aku genjot dan tdk berselang lama aku pun sampai kepuncak kepuasanku.

Luar biasa rasanya permainanku kali ini. Selain cukup lama, juga sangat nikmat. Aku tdk tahu pasti, penyebabnya apakah karena vagina anak kecil yg sempit atau karena pijatan terapi kejantanan yg dilancarkan Nek Sumi tadi.

Dua malam aku menginap di rumah mereka aku menjadi kuda pacu yg seolah-olah tdk mengenal lelah karena semua lawanku bisa aku atasi dengan memuaskan. Meskipun spermaku makin lama sedikit keluarnya, tetapi vitalitasku tdk berkurang, tetap greng dan tetap bergerak tanpa lelah.

Berikutnya aku sering berkunjung ke desa mereka. Awalnya aku bisa sering ke desa mereka, rutin tiap dua minggu sekali. Kebetulan aku mendapat proyek konstruksi di Karawang, sehingga aku bisa dekat dengan mereka.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Goyang Pembantu ABG Seksi

Setelah setahun dan proyekku selesai, aku menjadi jauh. Karenanya mereka sering aku boyong ke apartemenku. Aku memiliki apartemen dengan 3 kamar, yg sudah lama kubeli dari kawanku yg pada waktu itu butuh duit. Aku mendapatkan harga yg cukup murah waktu itu.

Aku di pertengahan usia 30 memang belum pernah menikah dan belum punya pasangan tetap. Dengan kehadiran mereka dalam hidupku aku bagaikan memiliki istri 4 org sekaligus. Istri yg unik karena mereka adalah anak beranak dan usianya masing-masing berbeda 14 tahun.

Kehidupan mereka terangkat karena aku santuni. Penampilannya pun tdk lagi lusuh. Bahkan sudah dapat dikatakan bening-bening. Jika dilihat tampilan mereka terakhir, tdk terlihat bekas bahwa dahulunya mereka org pelosok desa, yg tinggal di gubuk bambu.

Setehun kemudian aku mendapat proyek besar, sehingga bisa membelikan sebidang tanah, yg tdk terlalu luas, cuma sekitar 120 m2, di desa yg lebih dekat dengan kota Karawang Diatas tanah itu aku bangunkan sebuah rumah yg minimalis tetapi dirancang artistik. Diruang tengah ada ruangan luas. Itu memang kurancang begitu, karena di ruangan itu kubangun 4 kompartemen untuk masing-masing mereka.

Aku mendandani mereka dan membantu merawat tubuh mereka. Rasanya kalau aku berjalan dengan ke 4 wanita ini di Senayan City, bakal banyak mata melirik iri kepadaku.

author