Cerita Sex: Ngentot Gadis Jogging Di Taman

No comment 30964 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita – Aku seorang laki-laki yang masih menganggur. Umurku 30 tahun, sebut saja namaku Jhony (nama samaran). Begini ceritaku..
Setiap pagi di SMA itu selalu diadakan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan. Seperti lazimnya SMA yang lain, setiap mengadakannya pasti sebelumnya disertai pemanasan terlebih dahulu, dan pemanasan yang dimaksud di sini adalah lari pagi. Setiap kali siswi-siswi itu lari aku ajak menumpang di mobilku yang pickup itu (jadi muat banyak penumpang) dan mereka tidak pernah menolak bahkan mereka senang.

Lalu timbullah pikiran kotorku. Aku tahu bahwa ada cewek yang menurutku lumayan sporty, cantik, manis dan juga montok dibandingkan teman-temannya yang lain. Sebut saja Lidya (bukan nama sebenarnya). Lidya lumayan tinggi untuk gadis seumurnya, kulitnya bisa dikatakan sawo matang, tapi benar-benar terang dan keputih-putihan. Yang aku tahu Lidya masih duduk di kelas 1 di SMA itu.
Aku benar-benar tidak tahan melihat penampilannya yang sporty dan seksi setiap kali dia kelelahan lari dengan jarak yang lumayan jauh itu, dia tampak sangat seksi dengan seragam kaus yang agak ketat, serta bagian bawahnya celana pendek sexy yang agak ketat juga. Aku melihat dengan penuh nafsu keringat yang membasahi menghiasi tubuhnya yang indah itu hingga terlihat agak tembus pandang.

Singkat cerita Lidya aku bisiki, agar pada hari Jumat nanti yang merupakan jadwal kelas Lidya untuk berolah raga, dia sengaja berlari sendiri jauh dari teman-temannya yang lain dengan alasan nanti akan kubelikan es sirup dan juga untuk mengerjai teman-temannya agar iri melihatnya naik mobil sambil meminum es sirup. Lidya setuju saja karena dia pikir mungkin dengan begitu dia akan dapat mengerjai teman-temannya yang lain (padahal diam-diam aku yang akan mengerjainya habis-habisan).
Sehari sebelum hari H, aku menyiapkan tempat dan peralatan untuk siswi lugu ini di antaranya minuman energi, obat tidur, tali pramuka secukupnya, lakban, dan spons beserta sprei untuk kasur. Mobil pickup-ku pun sebelumnya aku persiapkan sedemikian rupa sehingga ruang tengah benar-benar pas untuk spons beserta spreinya.

Hari Jumat pun tiba. Pada pukul 05:30 WIB pun aku berangkat dari rumah dan menunggu mangsa yang satu ini. Kebetulan aku sudah mengetahui nomor HP-nya, sehingga aku tinggal missed call dia dari kejuhan dan dia langsung paham maksudku (agar dia tidak lupa dengan janjinya). Acara lari sudah dimulai dan tepat seperti dugaanku dia sudah berlari dengan mengurangi kecepatan untuk menjauh dari teman-temannya yang lain (tetapi larinya menurutku sudah telanjur terlalu jauh sekitar 1 km, mungkin ini dimaksudkannya untuk menghindari pengawasan gurunya dari belakang) dan dia juga sudah melihat mobilku dari kejauhan.

Aku langsung menghampiri dan mengajaknya masuk ke mobilku. Dia pun masuk ke mobilku tanpa basa-basi. Lalu aku memberinya es sirup yang telah kujanjikan kepadanya (yang tentunya sudah kuberi obat tidur secukupnya). Dia bahkan hanya melihat teman-temannya di depan yang mendahuluinya dan sama sekali tidak melihat ke belakang jika ada spon bersprei di sana, diapun saking hausnya langsung meneguk es sirup yang aku sebelumnya sudah campur dengan obat tidur tadi.

Dia benar-benar sudah keringatan karena kelelahan lari hingga semakin merangsangku untuk segera melumatnya. Keringatnya pun sudah tercetak di bajunya. Dia ingin agar aku segera mempercepat mobil dan menghampiri temantemannya untuk menggoda mereka, tapi aku menolaknya dengan alasan bahwa aku akan mengisi bensin dulu. Lidya menurutinya karena di dekat sekolahnya memang ada tukang bensin pinggir jalan (sambil aku menunggu obat tidurnya bereaksi). Walau bensin mobilku sebenarnya belum habis tapi aku terpaksa menuju ke tukang bensin itu juga.

Aku turun tetapi bukannya membeli bensin (karena memang masih penuh) tetapi malah membeli koran yang aku baca-baca sebentar di luar mobil. Lalu aku membayar koran itu dan kemudian masuk kembali ke mobil. Aku dapati Lidya sudah tertidur pulas, tapi rupanya dia masih sempat membuang bungkus es itu keluar mobil agar tidak mengotori lantai mobilku. Untung saja kepalanya tidak terantuk benda keras di depannya atau barang yang lain karena dia menempatkan tubuhnya di antara kursi depan dan pintu di sudut.

Aku pikir anak ini sudah tidak bisa berbuat apa-apa hingga langsung saja aku telentangkan dia di tempat yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menyumpal mulutnya dengan lakban agar dia tidak bisa berteriak ketika tersadar nanti. Aku mulai menjalankan mobilku dengan kencang ke tempat yang benar-benar sepi dari keramaian dan agak rindang. Beruntung dia belum bangun. Aku pun melanjutkan dengan menelanjanginya, melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat tubuhnya benar-benar seksi untuk gadis seusianya dan kulitnya yang sawo matang namun agak keputih-putihan itu benar benar mulus juga mengkilat mungkin karena terlalu lelah lari tadi.

Kuteruskan membuka BH-nya dan aku melihat pemandangan dua gunung yang lumayan montok untuk gadis seusianya, payudaranya benar-benar kencang. Lalu aku teruskan untuk membuka CD-nya yang putih tipis itu dan aku mendapatkan pemandangan yang sungguh indah, sebuah vagina mungil dengan dihiasi bulu-bulu lembut yang tidak terlalu lebat. Batang kemaluanku sudah mulai tidak bisa diajak berkompromi, maka aku cepat-cepat membuka seluruh pakaiannya kecuali sepatu sportnya yang berkaus kaki putih itu karena aku pikir dengan begitu dia akan terlihat benar-benar cantik dan sangat merangsang untuk dinikmati. Lalu aku cepat-cepat mengikatnya dengan tali pramuka yang telah kupersiapkan sebelumnya.

Aku ikat kedua tangannya di belakang punggung dengan ikatan yang sangat rapat hingga kedua tangannya menyiku. HP miliknya kuletakkan di kursi depan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lalu terakhir aku memotretnya habis-habisan dengan HP berkameraku. Kupotret seluruh tubuhnya dari depan, lalu aku balikkan tubuhnya kemudian memotretnya dari belakang. Untuk sementara tugasku kali ini sudah selesai dan aku tinggal menunggunya sadar, tetapi dia belum sadar juga, padahal obat tidur yang kuberikan tidak terlalu banyak. Ah peduli apa, pikirku. Walau dia belum sadar juga tidak ada salahnya jika dicicil sedikit.

Aku mulai dari kedua payudaranya yang sejak tadi seakan menghipnotisku untuk terus menatapnya. Aku mulai menghisapnya dengan kasar, dan rasanya benar-benar lezat. Aku terus menghisap dan menjilati keduanya sambil sesekali aku gigit saking gemasnya. Dan sewaktu aku mengerjai kedua payudaranya dia sedikit demi sedikit mulai tersadar. Kemudian aku melihat ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul 08:15 WIB, berarti dia tadi tertidur sekitar 1 jam lebih.
Mata Lidya langsung terbelalak keheranan karena begitu bangun dia langsung mendapatkan dirinya terikat tanpa pakaian di dalam mobil. Dia mencoba berteriak ketika dia mendapatkan dirinya dalam keadaan seperti itu, tapi itu semua sama sekali hanya membuang-buang tenaganya saja karena aku sudah menutup mulutnya dengan lakban.
“Eemmhh..!! Emmhh.. Mm.. Mmhh..!”, Lidya mencoba bersuara.
“Kamu tenang aja Wid.. Gak ada yang bakalan denger meski kamu berteriak sekencang apa pun, mulutmu itu sudah kubungkam dengan lakban dan di sini benar-benar sepi, paling paling yang mendengarmu cuma kambing sama ayam aja.. Ha.. Ha.., jadi sebaiknya simpan tenagamu dan nikmati saja apa yang akan terjadi sama kamu. Simpan tenagamu ya sayang.. Tugasmu masih banyak dan sama sekali belum dimulai”, ujarku.

Lidya menatapku dengan ketakutan, matanya memerah dan wajahnya jadi semakin pucat. Tapi dia tidak menghiraukan ucapanku tadi, dan dia meronta semakin kuat.
“Eemmhh..!! Em..!! Mmhh..!! Mm!! Hmmhh..!!” Karena ucapanku tidak diindahkannya, aku langsung mengobok-obok vaginanya dengan kasar sambil mengancamnya..
“Ayo!! Teriak lebih keras lagi!! Dengan begitu aku bisa lebih kasar lagi menghadapimu! Tugasmu masih banyak tahu!!”
Dia dengan sangat ketakutan mengangguk sambil mengucurkan air mata banyak sekali, lalu dia menangis tersedusedu mungkin karena vaginanya terasa sangat kesakitan ketika kuperlakukan dengan kasar tadi. Aku pun melanjutkan dengan menjilati vaginanya yang telah aku obok-obok dengan tangan tadi sambil menghisap-hisap dengan ganasnya serta kucolok-colokkan lidahku di liang senggamanya. Rasanya benar-benar nikmat sekali, belum pernah aku merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Lidya hanya bisa menangis dan mengucurkan air mata. Aku jadi semakin terangsang untuk berbuat lebih ganas lagi. Tapi lama-kelamaan aku jadi ingin tahu apa yang akan diucapkannya sedari tadi dan aku membisikinya..

“Aku mau membuka lakban yang menutupi mulutmu asal kamu janji tidak akan berteriak, kalo coba-coba teriak aku janji akan membuatmu lebih menderita lagi!! Tahu!!” Nampaknya Lidya merasa tidak bisa berbuat banyak lagi hingga dia hanya bisa mengangguk saja.
Breet.., setelah aku membukanya, dia segera memaki-makiku..
“Om bener-bener bajingan!! Anjing kamu!! Kenapa Om perlakukan aku seperti ini!! Bajingaann!! Anjiing!!” Aku yang tidak terima mendapat makian yang seperti itu hingga langsung menamparnya!! Plaak!! Kemudian Lidya membalasku dengan teriakan minta tolong.
“Toloong!! Toloong!! Toolong!!” Aku membiarkannya untuk membuktikan bahwa di sana memang tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya.
“Nah, teriak lebih keras lagi!! Ayo!! Kita lihat siapa yang dapat mendengarmu!!”
Setelah lama sekali minta tolong sampai suaranya parau (mungkin karena kelelahan) dan tidak menghasilkan apa pun, akhirnya Lidya hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan suara yang serak kemudian dia berkata..
“Oomm.. Tolong lepaskan aku.. Pleeassse.. Apa salahku?? Kenapa aku diperlakukan seperti ini??”
“Kesalahanmu adalah karena berani-beraninya kamu tampil merangsang di depanku selama ini ha.. ha.. ha.. Kamu
tadi ngatain aku anjing kan!? Kita lihat sekarang siapa anjing yang sebenarnya!! Lihat dan rasakan saja!!”

Kemudian aku lepas semua pakaianku, lalu dengan kedua tanganku aku membuka kaki Lidya lebar-lebar ke kanan dan ke kiri sampai benar-benar mengangkang dan terlihat benar vagina itu menjadi semakin siap saji. Kemudian aku menancapkan batangku yang sedari tadi sudah tidak bisa lagi diajak kompromi sedikit pun itu ke vaginanya. Mungkin karena kesakitan saking sempitnya, dia berteriak memelas..
“Ammpuun Oom.. Aku jangan diperkosa!! Nanti kalo aku hamil gimanaa!! Pleeassee!!” “Itu urusanmu!! Yang aku tahu, sekarang kita akan bersenang-senang sepuasnya OK!!”
Sepertinya gerakan kakinya mencoba menutupi vaginanya yang sudah tertancap sepertiga batangku dan tampaknya vaginanya juga tidak mau diajak kompromi malah juga mencoba menutupinya sehingga batangku jadi terjepit. Aku yang menjadi agak jengkel lalu membuat kakinya lebih mengangkang lagi lalu dengan ganas kucoba menembus keperawanan Lidya hingga dia pun berteriak keras sekali..
“Ooaahh!! Aahh!! Ampuunn Oom!! Sakiit.. Sakiit.. Aakkhh.. Mmaahh.. Iikkhh.. Ampuun oomm!! Aku bisa matii oomm!! Sakiitt!! Uoohh!! Toloong!! Mamaa!! Maamaa!!”
Nampaknya jika Lidya merasa kesakitan dia selalu berteriak memanggil ibunya. Aku yang sudah telanjur basah begini terus melanjutkannya saja dengan mencoba menerobos keperawanannya. Dan akhirnya, crrtt.., aku merasa baru saja seperti ada yang sesuatu yang sobek hingga Lidya berteriak dan meronta sekuat tenaga.

Kulihat vaginanya dan ternyata benar, darah segar mengalir dengan derasnya. Aku cepat-cepat mengambil CD-nya untuk melap darah vaginanya agar tidak mengotori spreiku. Kulihat juga mulut Lidya yang terbuka sangat lebar meronta-ronta dan tampak sangat menderita dengan kedua tangan yang masih terikat erat di belakang dan pakaiannya yang mulai acak-acakan, apalagi ditambah dengan sepatu sport dan kaus kaki putihnya hingga semakin merangsangku untuk berbuat lebih ganas.
Kemudian aku menggenjotnya lagi dan kali ini dengan tanpa ampun lagi karena aku sudah benar-benar kesetanan. Kugenjot vagina Lidya yang mulai licin itu dengan semakin ganas. Tetapi kupikir ini masih terlalu sulit dilakukan, tetapi peduli setan, aku terus menggenjotnya semakin ganas dengan genjotan liarku, sampai-sampai suaranya terdengar, clep, clepp, clepp.., sementara Lidya hanya bisa mengerang kesakitan.
Begitu seterusnya sampai suara teriakannya lebih serak dari yang sebelumnya, dan ternyata air mata Lidya yang menangis tersedu-sedu semenjak tadi belum habis juga malah semakin deras sehingga membasahi payudaranya. Sambil menggenjotnya, aku menjilati air mata Lidya itu, lalu aku mengulum mulutnya yang semenjak tadi menganga itu sampai dia sulit untuk bernapas sampai akhirnya, crott.. Spermaku kukeluarkan di rahim gadis SMA kelas 1 yang malang itu. Aku pun lalu berkelojotan kenikmatan.

Entah mengapa, mungkin karena Lidya kelelahan lari sewaktu berolah raga tadi, ditambah dengan rontaanrontaannya yang hebat dan payudara dan vaginanya yang kuhisap habis-habisan hingga membuatnya pingsan seperti orang mati saja. Mungkin karena tubuh Lidya menindih kedua tangannya sendiri yang terikat ketat di belakang hingga membuat buah dadanya jadi membubung ke atas. Aku jadi bernafsu lagi melihatnya hingga aku mengerjainya kembali selagi dia pingsan. Kuhisap-hisap sambil sedikit kugigit dan menariknya ke atas saking gemasnya hingga akibatnya kedua payudaranya kini jadi memerah, tetapi aku tidak mempedulikannya sama sekali.
Kulihat jam tanganku, waktu telah menunjukkan pukul 12:18 WIB, berarti aku tadi telah mengerjainya selama 4 jam, wajar jika dia sekarang pingsan, mungkin juga pada jam ini Lidya sudah seharusnya pulang sekolah karena ini adalah hari Jumat, tapi peduli apa aku.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex Hot Istri Ditiduri Gigolo

Aku memutuskan untuk beristirahat dulu sambil minum minuman berenergi yang sudah aku persiapkan dari rumah untuk memulihkan energiku yang sudah lumayan habis dan untuk mempersiapkan diri pada action berikutnya. Karena tali pramuka yang kubawa tidak cuma satu, aku pun mempersiapkan tali pramuka baru yang masih berbentuk gulungan rapi, putih mengkilat, sangat ketat, lumayan besar dan panjang karena yang aku beli adalah tali pramuka berkualitas istimewa, tapi bukannya aku akan menggunakan tali pramuka yang baru itu untuk mengikatnya lebih jauh lagi, melainkan aku menggunakannya sebagai tanda jika dia sudah tersadar nantinya, pasti dia akan meronta. Caranya adalah kumasukkan tali pramuka yang masih berbentuk gulungan itu ke dalam vaginanya dalamdalam. Memang ini agak sulit kulakukan, mungkin karena ukuran vaginanya yang terlalu kecil itu, jadi terpaksa aku memuntir-muntirnya dulu sampai akhirnya masuk walaupun ujungnya masih terlihat sedikit, mungkin ini memang sudah mentok, pikirku.

Untuk sementara aku beristirahat dan mencoba untuk tidur di samping Lidya. Aku tidak perlu khawatir dengan halhal yang tidak diinginkan, karena tempat itu benar-benar sepi dan berada di bawah pohon besar yang rindang, lagipula tangan Lidya sudah terikat tidak berdaya, dan apabila Lidya terbangun atau tersadar nanti dia pasti akan meronta kesakitan karena vaginanya yang telah aku jejali dengan tali pramuka yang masih tergulung itu.
Lalu aku tertidur pulas di samping Lidya. Aku tertidur sampai seperti orang mati saja sehingga sewaktu Lidya tersadar duluan, aku hanya mendengar erangannya sambil memanggil-manggil mamanya. Aku pikir aku masih dalam keadaan bermimpi saat mendengar suara siapa itu. Dan setelah aku terbangun, aku baru sadar bahwa itu adalah suara Lidya yang meronta kesakitan karena tali pramuka yang menyumpal vaginanya. Aku cepat-cepat melihat jam tanganku, dan jam menunjukkan telah pukul 15:10 WIB, berarti aku dan Lidya tadi telah tertidur sekitar 3 jam.

“Aakkhh!! Eengghh!! Mmamaa!! Ahaakkhh!! Mamaa!!”
“Tenang aja Wid, di sini nggak ada yang bakalan denger apalagi Mama kamu, jadi simpan saja tenagamu karena tugasmu belum selesai”.
Karena tenagaku sudah pulih, aku segera saja menuju target yang belum pernah kujamah dari tadi yaitu anusnya. Sebelumnya aku harus membuat tubuh Lidya tertelungkup di kursi paling belakang, tapi kakinya tetap berada di bawah yaitu di spons bersprei itu. Tapi sayangnya sudut atau siku kursi mobilku yang paling belakang kurang pas seperti yang kuharapkan untuk posisi doggy style, yaitu kepala Lidya yang tertelungkup sudah mentok ke kursi padahal vaginanya belum menyentuh ujung atau siku kursi sehingga kupikir ini pasti tidak akan seperti yang kuharapkan.
Maka kuangkat kepala Lidya tengadah, sehingga muka Lidya sekarang menghimpit rapat pada sandaran kursi, sampai-sampai erangannya terbungkam oleh sandaran kursi di mobilku, untungnya semua jok kursi di mobilku telah kubelikan yang berkualitas bagus sehingga benar-benar empuk. Dan akhirnya posisinya telah kurasa pas untuk melakukan posisi doggy style. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, pertama aku menjilati dan menusuk-nusuk anus Lidya dengan lidahku dengan ganasnya dan rasanya benar-benar nikmat sekali. “Aduuhh!! Aahh!! Nghaa!! Aduduuhh!! Aakkhh!!”
Aku sama sekali tidak tahu mengapa Lidya tampak menderita sekali, padahal aku belum melakukan apa-apa, hanya sebatas menjilati sambil menusuk-nusuk anus Lidya dengan lidahku. Dan aku baru teringat bahwa ternyata penyebabnya adalah gulungan tali pramuka yang masih bersarang di vagina Lidya. Ah peduli apa aku, justru dengan dia meronta-ronta seperti itu akan membuat nafsuku semakin meledak, jadi aku biarkan saja tali pramuka yang masih tergulung rapi dan ketat itu bersarang di vaginanya.

Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil posisi untuk mengerjainya lagi. Pertama-tama aku menancapkan sepertiga batangku dulu di anusnya. Karena anus Lidya benar-benar kecil maka ini akan cukup sulit, pikirku. Tibatiba terdengar rontaan Lidya meskipun kurang jelas karena terbekap jok mobil.
“Ampuun oomm!! Mau diapakan aku!! Jangan di situ Oom!! Aku bisa mati!! Ampuun!! Ampuun!! Jangan Omm!!”
Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan Lidya, aku mulai kembali mencoba menerobos anus Lidya. Kumasukkan (meskipun hanya bisa sepertiga yang masuk), kemudian aku keluarkan lagi, dan terus kulakukan itu sampai anus Lidya menjadi sedikit licin dan longgar. Karena akhirnya aku agak jengkel dan bosan untuk menunggu lebih lama lagi, maka kuterobos saja liang anus Lidya dengan sekuat tenaga. Slackk!! Scrrct!!
“Uuookkhh!! Khaakkhh!! Ahhgghh!!”, jerit Lidya.
Lidya tampak benar-benar menderita, dan aku juga sudah merasakan ada sesuatu yang sobek, maka aku teliti anusnya untuk memastikannya dan ternyata benar, darah segar sudah mengucur deras dari liang anusnya. Aku kembali mengambil CD-nya untuk membersihkan darah dari anusnya. Darahnya benar-benar banyak, mungkin karena liang anusnya terlalu kecil. Dan setelah aku memastikan liang anus Lidya telah terasa licin dan mulai nikmat untuk digarap, langsung saja kugenjot dia dengan sodokan-sodokanku yang ganas. Lidya hanya bisa menangis tersedu-sedu dan memohon untuk segera dipulangkan ke rumahnya karena mungkin orang tuanya sekarang sudah mulai mencemaskan anak gadisnya yang belum pulang dari sekolah.

“Enngghh.. Enngghh.. Mngghh.. Enhgh.. Oom.. Sudah oomm.. Aku mohoon.. Aku pengen pulaang.. Aku pengen pulang Oom.. Heenngghh.. Engghh..”
Mendengar rintihannya yang terdengar serak dan sangat menderita itu menyebabkan birahiku justru semakin meledak, dan aku menggenjot anusnya dengan lebih ganas lagi hingga akhirnya aku menyemburkan spermaku di dalam anus Lidya. Aku tahu Lidya pasti sangat menderita sekali karena selain dia baru saja kusodomi habishabisan, juga tali pramuka yang masih bersarang di vaginanya, dan juga tali pramuka yang mengikat kedua

tangannya di belakang (sampai kedua tangannya berbentuk siku) akan menambah siksaan yang harus dijalaninya demi memuaskan nafsu bejatku.

Sambil beristirahat sebentar aku kembali membaringkan tubuh Lidya yang sudah bermandi peluh itu hingga tampak mengkilap ke spons bersprei itu. Lidya tidak henti-hentinya menangis, air matanya juga tidak henti-hentinya keluar. Tiba-tiba terdengar HP Lidya berbunyi. Setelah aku lihat identitas pemanggilnya ternyata bertuliskan “Mama”. Wah, aku pikir Mama-nya Lidya sudah mecemaskan anaknya yang belum pulang juga dari sekolahnya. Aku kemudian memperlihatkan kepada Lidya siapa orang yang mencoba menghubunginya. Segera saja mata Lidya terbelalak saat mengetahui bahwa itu adalah Mama-nya hingga Lidya berteriak sekuat tenaga.

“Maamaa!! Maammaa!! Tooloong aku Maa!! Maamaa!!”
Lidya berteriak keras sekali berharap aku mau menyambungkan telepon untuknya, tetapi yang aku lakukan adalah justru memutuskan sambungan telepon itu di hadapannya.
“Bangsaatt!! Anjiing!! Bajingaann kamuu!! Bangsaat kamu!! Anjiing!!”, maki Lidya, lalu Lidya kembali menangis. “Ennghh.. Heennggh.. Kenapa kamu tega melakukan ini? Itu Mamakuu.. Heenggh.. Aku pengen pulaanng!! Mamaa!!”
Bukannya aku kasihan terhadap Lidya, aku malah mereply SMS ke Mama-nya yang berisikan, “Ma aku lagi bersenang-senang jadi jangan ganggu aku ya!!” Sebelum aku mengirimkan SMS itu ka Mama-nya aku perlihatkan dulu isi SMS itu kepada Lidya hingga kembali ia memakiku.
“Kamu bener-bener menjijikkan!! Terkutuk kamu!! Bangsaat!!”
Aku kemudian menjilati air matanya yang terus bercucuran sampai bersih. Aku juga membenahi kedua kaus kakinya yang mulai merosot, juga tali sepatu sport-nya yang mulai acak-acakan hingga akhirnya Lidya kembali rapi dan merangsang untuk dinikmati.

Karena aku tidak mau dia keburu pingsan lagi padahal tugasnya memuaskanku belum selesai, aku memutuskan untuk mengocok batangku di dalam mulut Lidya agar sperma yang nanti ditelannya bisa sedikit memberinya energi, lalu aku mengangkat kepalanya, memasukkan batangku ke mulutnya, dan membuat gerakan maju mundur berirama.
“Nymlhh!! Nymngmh!! Ghhkkh!! Nnymhkh!! Ghkmnh!!”, gumam Lidya saat mulutnya kupaksa dimasuki batangku.

Melihat Lidya yang menangis tersedu-sedu dan tampak sangat menderita, nafsu birahiku semakin memuncak, lalu kupercepat saja tempo genjotanku sampai akhirnya.., crott.. croott.. croot.. Akhirnya aku menyemburkan spermaku di dalam mulut Lidya. Lalu aku cepat-cepat menutup mulut Lidya dengan hati-hati agar jangan sampai ada sperma yang dimuntahkannya lagi.
Lidya malah mencoba memaksa memuntahkannya, hingga akhirnya sebagian kecil spermaku berhasil dimuntahkannya lewat sela-sela tanganku. Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi hingga tangan kiriku berusaha menutupi mulutnya dan tangan kananku menjepit hidungnya sekuat tenaga agar tidak ada jalan baginya lagi untuk bernapas selain menelan spermaku. Dan kulihat tenggorokannya seperti menelan sesuatu.

Aku pikir dia akhirnyua sudah menelan spermaku semuanya. Kali ini Lidya benar-benar seperti mabuk. Spermaku yang sedikit berceceran di mulutnya aku sapukan merata ke mukanya dengan harapan agar dia merasa lebih fresh. Aku merasa kehausan juga, mungkin karena sudah dari tadi berulang-ulang mengeluarkan sperma untuk pelacur kecilku ini. Aku jadi punya ide konyol. Sebelumnya aku keluarkan dulu gulungan tali pramuka yang menyiksanya.
Lidya kemudian malah meronta dan badannya juga bergetar, mungkin karena menahan pedih. Tali pramuka yang tadinya putih bersih itu sekarang sudah jadi berwarna agak gelap dan dipenuhi banyak darah dan cairan vagina. Aku menjilatinya sebentar dan, hmm.. rasanya benar benar lezat.
“Wid, aku sekarang pengen kamu kencing!! Cepet!! Aku udah haus banget dari tadi ngerjain kamu!!”, perintahku. “Aa.. Aapa maksudmu!? Aku nggak bisa pipis sekaraang.. Aa.. Aaku.. Lagi nggak kebelet..”
“Ya udah kalo gitu aku bantu sini!!”
“Aa.. Apaa..!?” Aku kemudian mengulum vaginanya dan menghisap-hisapnya serta tanganku menggelitikinya dengan harapan dia akan mengompol.
“Ahahaakhh!! Ahaahaahh!! Khaahaa!! Gelii!! Apa-apaan kamu!?”

Pemandangan yang tampak aneh karena dia bisa setengah tertawa geli setengah menangis tersedu-sedu, sambil badannya bergetar hebat. Lidya aku perlakukan seperti itu lama sekali sampai akhirnya dia mengompol juga meskipun hanya keluar sedikit-sedikit.

“Aakkhhaakhh!! Aakkhh!! Sakiit!!”
Aku tidak tahu pasti mengapa dia kesakitan padahal dia hanya mengompol saja. Aku baru ingat jika aku tadi sudah mengobok-obok dan memerawani vagina Lidya dengan cara yang kasar hingga jika dia sekarang merintih kesakitan tentunya wajar. Tapi peduli apa aku. Kulanjutkan saja dengan menghisap dan menelan air seni gadis SMA kelas 1 itu. Mungkin karena Lidya merasakan perih yang teramat sangat, maka dia hanya mengeluarkan air kencing itu sedikitsedikit sambil mengerang kesakitan.
Suara rintihannya jadi semakin lemah mungkin karena dia kelelahan. Air seninya hanya keluar sedikit sehingga lamakelamaan aku agak jengkel juga, lalu aku menghisapnya saja dengan paksa. Hmm.. Ini benar-benar lezat sekali, lebih lezat daripada teh celup manapun, pikirku, hahaha..
Rontaan Lidya menjadi lebih panjang dan dia tampak lebih menderita daripada sebelumnya. Setelah aku pikir air seni Lidya benar-benar sudah habis, aku sudahi saja permainan itu. Tiba-tiba HP Lidya berbunyi lagi, dan setelah kulihat ternyata Mama-nya Lidya yang mereply SMS-ku, “Bersenang-senang!? Apa maksudmu sayang!? Kenapa kamu bicara kasar gitu sama Mama!? Kamu sekarang ada dimana sayang!?”

Aku memperlihatkan SMS yang dikirimkan Mamanya kepada Lidya. Mungkin karena dipikir dirinya sudah tidak bisa berbuat banyak, Lidya menanggapinya hanya dengan menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil Mamanya. Kemudian aku kembali mereply SMS tersebut, “Apa urusan Mama dg perkataanku yg ksr!! Makanya jgn ganggu aku lg!! Aku ada les privat dadakan, dan lokasinya ada di sorga dunia, mata pelajarannya adl ttg Kenikmatan Duniawi!! Jd Mama gak usah khawatir dan skrg mending Mama tidur aja!! Aku msh hrs bljr lbh byk lg ttg mata pljrn ini!!”
Seperti tadi, sebelum aku mengirimkan SMS itu ke Mama-nya Lidya, aku perlihatkan dulu SMS itu kepada Lidya. Mata Lidya kembali terbelalak, kemudian memakiku habis-habisan.
“Bangsaat kamu Jhony!! Kamu bener-bener terkutuk!! Kamu bukan manusiaa!! Anjing kamuu!!”
Mungkin karena saking marahnya, Lidya langsung memanggil namaku “Jhony” dan bukan “Om” lagi. Tetapi aku sama sekali tidak menghiraukan ucapannya, dan dia kemudian menangis lagi.

Singkat cerita, setelah itu aku kembali terus mengerjai Lidya yang sudah tampak seperti orang mabuk itu sampai suara rintihannya menjadi serak sekali. Ketika sedang asyik-asyiknya mengerjai siswi SMA yang lugu dan malang itu, ternyata HP-nya berbunyi lagi, kulihat ternyata Mama-nya yang mencoba menghubungi Lidya lagi yang kali ini kuabaikan. Ternyata Mama-nya Lidya tidak mudah menyerah, dia malah mengirim SMS lagi, “Sayang, pulang donk, ini kan sudah jam 5 sore & sudah mo maghrib sayang. Pulang ya sayang ya!? Mama kuatir banget sama kamu sayang! Pulang ya sayang ya!?”
Aku terkejut juga, lalu aku melihat jam tanganku dan ternyata benar yang dikatakan Mama-nya Lidya, sekarang sudah pukul 17:15 WIB. Mungkin karena keasyikan sekali sewaktu mengerjai tubuh Lidya yang indah itu, aku sampai lupa waktu. Aku kembali membalas SMS Mama-nya Lidya, “Iya Ma! Aku sgr plg! Cuma tinggal satu permainan, tunggu sebentar ya Ma!!”
Seperti sebelumnya, sebelum aku mengirimkan SMS ke Mama-nya, SMS itu kutunjukkan dulu kepada Lidya, dan seperti sebelumnya juga, Lidya hanya bisa meresponsnya dengan meronta dan menangis. Kemudian aku memutuskan untuk mengakhiri permainan sampai di sini. Sebagai permainan terakhir, aku mengencingi Lidya merata sampai hampir ke seluruh tubuhnya, tapi sebagian besar air seniku kutembakkan ke mukanya.

“Bangsatt!! Apa-apaan ini!! Anjing kamu Jhony!! Akh! Udah Jhony!! Ampuun!!”
Lidya hanya bisa merespons permainan terakhirku dengan memaki-makiku. Aku tidak menanggapi makiannya, karena justru Lidyalah yang sekarang tampak seperti seonggok daging hidup yang hina, pikirku. Mobilku jadi bau pesing juga jika begini caranya, pikirku, tapi sudahlah, toh ini juga air seniku sendiri. Kemudian tali yang mengikat ketat tangan Lidya sejak dari pagi tadi kulepas, lalu Lidya membuka kedua tangannya secara berlahan-lahan dan dengan sedikit gemetaran, mungkin karena terlalu lama dalam keadaan terikat dan ikatannya sangat kencang.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Tante Nisya Hot

Kemudian setelah itu langsung saja Lidya kutarik keluar dari mobil dalam keadaan telanjang bulat, yang menutupi tubuhnya tinggal kaus kaki beserta sepatu sportnya, karena rencanaku semua pakaian Lidya termasuk BH dan CDnya yang telah berlumuran darah keperawanan Lidya itu akan aku gunakan untuk masturbasi nantinya termasuk juga foto-foto bugil Lidya yang telah kuambil sebelum ia kuperkosa tadi.

Lidya benar-benar nampak panik. Aku memberikan HP-nya kembali, karena memang hanya HP yang ada di sakunya dan dia tidak membawa benda lain lagi seperti dompet atau yang lain-lain, dengan harapan dia dapat segera menghubungi Mama-nya untuk meminta bantuan. Kemudian aku bergegas menutup pintu mobilku dan segera tancap gas tanpa menghiraukan Lidya lagi. Daerah itu memang sangat sepi apalagi jika menjelang larut.

Sempat kulihat dari kaca spion, Lidya langsung berlindung di bawah pohon yang rindang dan langsung menggunakan HP-nya untuk mencari bantuan. Tentunya untuk saat ini hanya HP-nyalah satu-satunya alat penentu keselamatan Lidya, karena dengan keadaan Lidya yang bertelanjang bulat seperti sekarang ini dia menjadi serba salah, jika dia mencari bantuan di tempat yang sepi seperti kepada orang lain yang belum dikenalnya, bisa-bisa malah dia akan dimangsa lelaki hidung belang selain aku. Aku bergegas meninggalkan tempat itu dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk segera pulang ke rumah.
Pada keesokan harinya, aku tidak pernah lagi melintasi jalan di sekitar sekolah Lidya dan juga segera mengganti nomor dan penampilan mobilku untuk menghindari pelacakan dari pihak berwajib.

author