Cerita Sex: Nikmatnya Ngentot STW

No comment 1048 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita –  Jika tulisan “Gara-gara Harnet” merupakan pengalamanku sekitar 30 tahun lalu, pada tulisan kali ini adalah cerita pengalaman yg baru saja terjadi beberapa bulan yg lalu. Memang jika dilihat dari usiaku yg sudah hampir 50 tahun, bisa jadi kehidupan sex bukanlah sesuatu yg luar biasa. Rasanya hampir semua macam gaya dari 112 tehnik bercinta ala kamasutra sudah pernah aku praktekan dgn isteri.

cerita-sex-nikmatnya-ngentot-stw

Tingkat ereksipun sudah beralih dari semula “pandangan hidup” (baru memandang saja sudah hidup) ke “pegangan hidup” (harus dipegang-pegang dulu baru hidup). Bahkan tahun lalu, pernah tiga bulan lebih “si Toni” tdk mau bangun, sehingga karena kewalahan, sampai isteri menganjurkan utk periksa ke dokter spesialis. Awalnya enggan juga ke dokter, karena aku merasa normal-normal saja, namun karena desakan isteri, akhirnya kuturuti juga ke dokter, apalagi Bu dokternya cukup simpati dan menawan kendati usianya sudah lima tahun diatasku. Yach.., istilahku STWB (Setengah Tuwa Buanget).

ketika konsultasi, aku diperiksa secara fisik dgn teliti oleh Bu dokter termasuk test darah dilabotarium. Seminggu kemudian, sesuai perjanjian aku kembali lagi ketempat praktek Bu dokter, kali ini tdk didampingi isteri sehingga hanya aku dan Bu dokter di ruang prakteknya.

“Selamat malam Bu dokter”! Sapaku ketika masuk keruangan prakteknya.
“OOO..selamat malam Pak Irwan, silahkan duduk! Jawabnya ramah, kemudian dia melanjutkan lagi,
” Begini Pak, setelah saya pelajari dari hasil pemeriksaan minggu lalu, tampaknya tdk ada kelainan diorgan tubuh bapak, semuanya normal-normal saja. Makanya saya juga heran kenapa sampai 3 bulan ngga mau bangun?! Mungkin bapak terlalu cape atau banyak pikiran?

” Ah tdk juga Dok”!!, Jawab saya.
“Atau ada persoalan keluarga sehingga secara psikis berpengaruh”? tanyanya lagi.
” Juga tdk ” jawabku singkat.
” Lalu kenapa ya?? Dgn Ibu (isteriku maksudnya) sudah tiga bulan lebih ngga mau bangun, hanya maaf nih.., kalau misalnya dgn wanita lain bagaimana Pak?!

” O.. kalau itu otomatis “!! jawabku spontan. Tdk usah jauh-jauh dok, ngobrol lama-lama dgn dokter saja si “dia” sudah mulai menggeliat nih!!
” Ah.. Pak Irwan ada-ada saja, kalau begitu masalah bapak hanya BTL “, jawabnya sambil senyum dikulum..
” Wah.. apalagi BTL? tanyaku penasaran..
” Itu lho .. Bangunnya Tergantung Lawan..”
“Betul sekali Bu Dokter..ngga salah deh kalau saya berkonsultasi kesini!! kami pun tertawa bersama-sama.

Ceritaku dgn Bu Dokter memang hanya sebatas itu, mengingat kedudukan kami saat ini. O.. ya sekedar informasi.. saat ini saya bertugas di luar jawa sebagai kepala kantor perwakilan, sementara Bu dokter juga merupakan dokter senior yg terpandang di Daerah tempat kami sama-sama bertugas. Hubungan antar pemuka masyarakat di sini cukup harmonis dan kompak sehingga rasanya tdk mungkin kami berbuat diluar batas.

Sebagai kepala perwakilan sebuah perusahaan kontraktor, kesibukanku tdk seperti dikantor pusat. Apalagi pada pertengahan tahun dimana proyek-proyek sudah mulai berjalan dan tdk terjadi permasalahan yg berarti Jika pada awal tulisan ini, “si Toni” kena masalah BTL masalaHPun selesai. Caranya? setelah membaca, aku sering meng-create lawan-lawan baru yg disimulasikan pada body isteriku sehingga “si Toni” tetap on.., Maklumlah sudah tua, mau jajan nyaliku sudah ciut.

Nah dari sekian rutinitasku selama ini, ada pengalaman menarik dan sedikit controvert yg terjadi beberap bulan yg lalu. Menarik karena aku teringat kembali peristiwa 30 tahun yg lalu dgn Bulik Novi, sementara kuanggap controvert karena ML-nya dgn wanita yg sudah berusia 60 tahun. Saat itu kantorku mendapat kunjungan tdk resmi dari isteri pimpinanku. Dia (sebut saja Bu Lusi) sengaja datang utk bernostalgia karena dulu suaminya pernah menjadi kepala perwakilan disini.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Jonny Adikku, Selingkuhanku

Sedianya dia akan datang bersama suaminya hanya saja karena suaminya harus ke luar negeri dgn rekan-rekan bisnisnya, maka dia memilih berlibur kedaerah saja. Seperti halnya penampilan isteri-isteri penggede, Bu Lusi pun senantiasa tampil anggun, kulitnya halus terawat sehingga hampir tdk tampak keriput meski usianya sudah 60 tahun. Rambutnya tebal dan panjang dan dipelihara utk tetap hitam sehingga sekilas tampak seperti rambut milik gadis sunslik.

Karena dia isteri bossku, pada hari kedatangannya Aku dan Isteriku menjemput di Bandara. Dia kami inapkan di hotel yg terbaik di daerah ini. Utk kegiatannya selama disini, kuminta isteriku saja yg menemani biar lebih leluasa ngobrolnya. Hanya pada hari kedua, ketika aku pulang dari kantor, isteriku sudah dirumah; Lho koq ngga pergi Ma?! tanyaku

“Ngga tuh soalnya Bu Lusi-nya sedang ngga enak badan, jadi ya kebetulan aku juga pingin istirahat!!” jawab isteriku sambil menyiapkan meja makan.
” Terus ngga kamu tawarin ke dokter “?!
” Sudah sih tp dia bilang ngga usah” jawab isteriku lagi.
” O.. ya sudah”.

Hanya setelah kami selesai makan malam, aku menyempatkan telepon ke hotel, biasa basa-basi karena biar bagaimana dia khan isteri bossku.

” Hallo Bu.. selamat malam, katanya sakit Bu!! tanyaku di telepon.
” Iya nih pegal-pegal saja, maklumlah sudah tua!” jawab Bu Lusi diseberang sana.
” Apa perlu saya panggilkan dokter atau tukang pijat”..
” Ah kalau dokter sih ngga usah, saya ngga apa-apa koq. Cuma kalau pijat boleh juga Pak.!”, memang ada yg bisa dipanggil malam ini?
” Ada Bu, Mak unah namanya, dia biasa mijat isteri saya juga.”
” Boleh juga Pak kalau tdk merepotkan”
” Ah ngga apa-apa Bu (jawabku basa-basi), sebentar saya antar kesana”.

Setelah kututup telepon, rupanya isteriku mengikuti pembicaraan kami, langsung berkomentar..

“Syukurin lu, habis pake basa-basi segala, sekarang Papa harus ngantar mak unah, aku males ikut, ingin tidur!!”, kata isteriku.

Yach..berhubung sudah terlanjur menyggupi, terpaksalah aku berangkat sendiri ke rumah mak unah. Hanya karena aku tdk memberi tahu dulu, ternyata mak unah sedang ke rumah anaknya diluar kota. Sempat bingung juga karenya, namun akhirnya kuputus utk ke hotel saja utk minta maaf sama Bu Lusi.

Kuketuk kamar Bu Lusi, dan ketika menyambutku dia sudah memakai daster, rambutnya dibiarkan tergerai..

” Oo.. Pak Irwan, silahkan masuk..mana mak unahnya?”
” Waduh maaf bu, tadi saya tdk ngechek dulu, ternyata mak unah sedang pergi, makanya saya datang mau minta maaf nih.
” O.. ya sudah”.. Akhirnya kami ngobrol yg lain sekedar basa-basi utk mengurangi kekewaannya
“Memangnya ibu sakit apa sih!” tanyaku disela-sela pembicaraan, meskipun sebenarnya aku sudah tahu waktu ditelepon tadi.
“Ini punggung saya pegal-pegal, setelah seharian jalan sama Bu Irwan”!
” O.. kalau cuma punggung sih saya juga bisa mijat Bu” jawabku sekenanya.
“Ah yg benar Pak, tolonglah kalau bisa.

Waduh kena lagi basa-basiku, harus mijitin nenek-nenek nih.

” Baik Bu, silahkan telungkup, lalu akupun mulai memijat punggung Bu Desi yg tetap dibalut dasternya.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex Dewasa : Pelampiasan Akibat Cemburu

Bu Desi tampak menikmati pijatanku, dan tanpa sadar pikiranku teringat akan Kuperhatikan rambutnya yg tebal dan hitam (memang disemir), lalu pijatanku sudah pindah kepundaknya. Kusibak rambut Bu Desi, tampak tengkuknya yg putih, meskipun tampak guratan keriput namun tetap mulus.., terus membayangkan tanpa terasa pijatanku berubah menjadi usapan.. dan anehnya Bu Desi.. malah mengerang.. ahh.. ahh.. enak Pak. Dan aku yg sudah mulai konak.. tampaknya sudah lupa kalau yg kuusap-usap adalah isteri bossku dan sudah berusia 60 tahun.

Lama-lama Akupun memberanikan membuka resleting dasternya yg kebetulan berada dibagian belakang, rupanya Bu Desi tdk memakai BH maka lamgsunglah tanganku bermain dan bersentuhan dgn kulit Bu Desi bagian belakang. Berulang-ulang tanganku naik turun dari pundak sampai kepantatnya. Malahan di pantatnya aku susupkan tanganku dibalik CDnya dan kuremas-remas. Lebih lima menit kami saling diam, hanya tampak tubuh Bu Desi sudah menggeliat dgn ritme erangan yg semakin cepat, sementara “si Toni” juga sudah mulai berontak di balik CDku.

Aku menghentikan usapan, sekali lagi kusibakan rambutnya lalu kucium tengkuknya. Bu Desi diam saja kuperlakukan seperti itu.. bahkan sesaat sambil mengerang.. dia raih kepalaku sehinnga menempel erat ditengkuknya. Kemudian reflek saja tanganku memeluk erat tubuhnya dan jari-jari tanganku sudah berada di payudaranya yg lentur-lentur kenyal. Reflek pula gerakannya, dia memutar kepala sehingga kini bukan bibir dgn tengkuk yg bertemu, namun bibir dgn bibir.., Kami saling menghisap, mengulum.. bak ABG yg baru pertamakali ciuman, sambil tangan kami bergerilya utk saling melepas pakaian kami masing-masing. Kemudian entah siapa yg memulai.

setelah pakaian kami tanggal, posisi kami sudah menjadi 69. Diposisi ini saya temukan sensasi yg luar biasa, karena disamping milik Bu Desi harum juga tdk berlendir, padahal tubuhnya sudah semakin menggeliat tdk beraturan. Setelah puas dgn posisi 69, barulah “si Toni” dibimbing masuk gerbang sorga dunia.. yg kanan kirinya sudah dihiasi umbul-umbul.. (yg jelas hiasan tsb tdk pernah ditemui pada pemilik yg masih ABG).. Kami saling memutar, mendorong.. meremas.. memeluk .. sampai akhirnya.. ahh.. ahh..

“saya mau keluar Pak!!
“saa.. maa.. Bu.. oohh.. akhh..” dan terkulailah kami dlm kenikmatan.., semua menjadi sunyi hanya suara nafas kami saja yg memenuhi ruangan kamar 312.

author