Cerita sex : Pembantu baru pemuas nafsu syahwat ku

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa – Perkenal kan namaku steven, dan panggilan akrabku adalah stev. Aku berasal dari kota Malang (Jawa Timur), dan kedua orang tuaku masih tinggal di sana. Umurku baru 25 tahun, dan saat ini sedang studi Master tahun terakhir di Melbourne (Australia).

most-beautiful-arab-girls

Sejak lulus SMA aku langsung kuliah S1 di Jakarta, dan sempat bekerja selama setahun di Jakarta setelah lulus S1. Aku mendapat sponsor dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan S2 di Australia. Aku memilih kota Melbourne karena banyak teman-temanku yang menetap di sana.

Di pertengahan bulan November 2004 adalah awal dari liburan kuliah atau di Australia sering disebut dengan Summer holiday (liburan musim panas). Summer holiday di Australia biasanya maksimum selama 3 bulan lamanya. Saat itu adalah pertama kali aku pulang ke tanah air dari studi luar negeri. Rindu sekali rasanya dengan makanan tanah air, teman-teman, dan orang tua.

Saat itu aku pulang dengan pesawat Singapore Airlines dengan tujuan akhir Bandara Juanda, Surabaya. Aku tiba di Surabaya sekitar pukul 11 pagi, dan terlihat supir utusan ayah sudah sejak jam 10 pagi menunggu dengan sabar kedatanganku. Ayah dan ibu tidak menjemputku saat itu karena hari kedatanganku tidak jatuh pada hari Sabtu atau Minggu, ditambah lagi dengan macetnya lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong yang membuat mereka malas untuk ikut menjemputku di bandara.

Wajah supirku sudah tidak asing lagi denganku, karena supir kami ini sudah bekerja dengan ayah sejak aku berumur 5 tahun. Dia sudah aku anggap seperti pamanku sendiri. Aku sangat menghormatinya meskipun pekerjaannya hanya seorang supir.
Aku sempat mencari makan di kota Surabaya. Tempat favoritku tetap di restoran kwee tiau Apeng. Suasana restoran nampak tidak ramai, mungkin masih pagi hari. Di malam hari terutama di malam minggu, restoran ini akan penuh dengan antrean panjang.

Seabis makan, aku meminta supirku untuk langsung jos pulang ke Malang. Badanku terasa letih sekali karena perjalanan yang panjang. Sepanjang perjalanan kami menghabiskan waktu mengobrol santai. Bahasa jawa supirku masih terkesan medok sekali. Dahulu semasa sma, bahasa jawaku juga lumayan medok. Tetapi sejak kuliah di Jakarta, aku jarang memakai bahasa jawaku, sehingga terkesan sedikit luntur. Tapi setiap kata-kata jawa yang terucap oleh supirku masih bisa aku mengerti 100%, hanya saja aku membalasnya dengan separuh jawa separuh bahasa Indo.

Kemacetan lalu lintas akibat banjir lumpur di kota Porong sempat menyita perjalanan pulang kami. Aku tiba di rumahku di kota Malang sekitar jam 4 sore. Sesampai di gerbang rumah, supirku menekan klakson, memberi peringatan orang di dalam rumah untuk membuka pintu gerbang.

Tak kurang dari 2 menit, pintu gerbang terbuka dan aku membuka jendela mobilku memberi sapaan hangat kepada bibiku. Bibiku yang satu ini juga lama ikut dengan ayah dan ibu. Bibiku ini bernama iyem, dan sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Bibi iyem jago sekali memasak masakan Indonesia. Makanan bibi yang paling aku rindukan selama aku kuliah di Jakarta dan Melbourne. Aku sudah membuat daftar panjang masakan Bibi iyem selama 3 bulan liburan musim panas ini.

Setelah bersalaman dan bercanda ria dengan Bibi iyem, tiba-tiba sosok gadis muda keluar dari pintu rumah memberikan salam kepadaku. Aku sempat tercengang oleh wajah cantik gadis yang masih terasa asing bagiku. Ternyata gadis muda ini adalah pembantu rumah yang baru, karena pembantu sebelumnya telah menikah dan pindah bersama suaminya. Aku menafsir bahwa umur gadis ini sekitar 17 atau baru 18 tahun. Setelah diperkenalkan oleh Bibi iyem, pembantu baruku ini bernama santi.

santi berperawakan sedang, sekitar 158 cm. Kulitnya sawo matang. Matanya hitam dan lebar sehingga tambak bersinar-sinar. Rambutnya hitam sebahu. Besar payudaranya bisa aku tafsirkan sekitar 32C. Pinggulnya mantap dan kakinya mulus tanpa ada borok. Wajahnya cantik berhidung mancung, hanya saja bibirnya sedikit tebal. Tapi mungkin itu yang membuatnya unik. Aku sempat tidak mengerti mengapa ibu bisa menemukan pembantu secantik ini.

santi membantuku membawa koper bagasiku masuk, dan menanyakan diriku apakah ada cucian atau pakaian kotor yang akan dicuci. Sepertinya santi telah diberi info oleh ibuku bahwa aku biasanya selalu membawa pakaian kotor sewaktu pulang dari Jakarta. Jadi tidak heran ibu bisa menduga bahwa aku pasti juga membawa baju kotor pulang.

Aku unpack 2 koper dan memisah-misahkan pakaian kotor dengan pakaian bersih, dan juga menata rapi oleh-oleh dari Australia. Aku sudah menyiapkan semua sovenir-sovenir untuk ayah, ibu, bibi iyem, supir ayah. Dan tentu saja oleh-oleh yang pertamanya buat pembantu lama yang kini sudah tidak bekerja lagi dengan kita, saya berikan kepada santi. Ayah aku belikan topi cowboy dari kulit kangguru. Menurutku cocok untuk ayah, terutama disaat ayah sedang berkunjung di kebun apelnya. Ibu aku belikan kulit domba yang halus untuk hiasan lantai kamarnya. Supir ayah aku belikan korek api berlogokan kangguru dan kaos bergambarkan benua Australia. Sedangkan bibi iyem dan santi, aku belikan 2 parfum lokal untuk setiap orang.

santi tampak hepi banget diberi oleh-oleh parfum dariku. Aku memang sengaja memilih parfum dengan botol yang unik, sehingga terlihat sedikit mahal.

Ayah dan ibu pulang dari kantor sekitar jam 6 sore. Malam itu bibi iyem aku minta untuk memasak petai udang kecap favoritku. Aku melepas rindu dengan ayah dan ibu. Kami berbincang-bincang sampai larut malam. Tak terasa kami telah berbincang-bincang sampai jam 11 malam.

Kemudian aku berpamitan dengan ayah dan ibu. Badanku sangat letih. Aku sudah hampir 36 jam belum tidur. Aku tidak terbiasa tidur di dalam pesawat.

Sewaktu aku hendak menuju ke kamar tidurku, aku sempat berjalan berpas-pasan dengan santi. Melihat aku hendak berpas-pasan dengannya, santi langsung membungkukkan sedikit badannya sambil berjalan. Mata kami tidak saling memandang satu sama lain. Menurut tradisi kami, tidak sopan pembantu bertatap pandang dengan majikan saat berjalan berpas-pasan.

Malam itu, meskipun badan letih, aku masih belum langsung tidur. Aku sedang melihat-lihat photo-photoku dan teman-teman di Melbourne di handphoneku. Aku sempat kangen sedikit dengan Melbourne. Aku juga sempat berpikir mengenai santi, dan penasaran sekali bagaimana ibu bisa menemukan pembantu secantik santi.

Keesokan harinya aku bangun jam 10 pagi. Aku sudah tidak ingat sudah berapa jam aku tidur.

Suasana rumah sedikit hening. Ayah dan ibu sudah pasti balik ke kantor lagi. Aku memanggil-manggil bibi iyem, dan tidak ada jawaban darinya. Tak lama kemudian santi muncul dari kebun belakang.

“Nyo stev wis mangan? (tuan muda stev sudah makan?)” tiba-tiba santi bertanya memecahkan suasana hening di rumah. Istilah ‘Nyo’ adalah kependekan dari ‘Sinyo’ (bahasa Belanda rancu) yang sering dipake di Jawa yang artinya tuan muda.

Aku berusaha membalas pertanyaan santi dengan bahasa Jawa. Tapi aku sudah tidak terbiasa berbincang-bincang dengan 100% bahasa Jawa.

“Durung, aku sek tas tangi kok. Mana bibi? Aku sudah laper nih! (Belon, aku baru aja bangun tidur. Mana bibi? Aku sudah lapar nih)” jawabku separuh Jawa separuh Indo.

“Bibik melok nyonya. Ora ero budal nang endi. Nyonya mau tetep pesen nang aku lek Nyo stev pengen tuku apo gawe mangan isuk (Bibi ikut nyonya. Tidak tau pigi kemana. Nyonya tadi titip pesan kepada saya kalo tuan stev ingin beli apa untuk makan pagi)” kata santi.

Pagi itu aku berharap bibi iyem memasak untukku. Tapi apa boleh buat, aku akhirnya meminta santi untuk beli nasi pecel favoritku di dekat rumah. Hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Setelah memberi uang kepadanya, santi pun langsung segera berangkat.

Sambil menunggu santi kembali, aku menyalakan TV sambil menonton acara-acara di MetroTV, RCTI, Trans TV, dan lain-lain. Rindu sekali aku dengan siaran-siaran televisi Indonesia. Aku sudah tidak sabar untuk menonton acara favoritku seperti Extravaganza, Empat Mata, dan banyak pula yang lainnya.

Hanya sekitar 20 menit, santi telah kembali. Sambil makan nasi pecel aku kembali menonton TV, sedangkan santi juga kembali ke kebun belakang kira-kira mencuci atau menjemur pakaian.

Mataku sempat mencuri-curi pandang ke kebun belakang. Terlihat wajahnya berkeringat karena terik matahari. Seperti yang aku duga, santi sedang menjemur pakaian. Aku merasa kasihan terhadapnya, karena rata-rata pakaian yang dijemurnya adalah milikku. Kulihat santi sedang berjinjit-jinjit sambil menjemur pakaian. Kaos yang dikenakan santi sedikit pendek, sehingga aku bisa melihat perut dan pusarnya. Perut santi ramping sekali. Payudaranya sedikit menonjol kedepan. Aku sedikit bergairah melihat kelakuan santi saat itu.

Aku menjadi tidak berkonsentrasi menonton TV, mataku tetap melirik saja ke arah santi.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara bibi iyem.

“stev sek tas tangi?! Cek siange tangine. (stev baru bangun. Kok siang banget bangunnya)” suara bibi iyem membuyarkan semuanya.
“Bibi teko endi? Tak carik-carik mau. (Bibi dari mana? Dari tadi aku cari-cari)” jawabku.
“Bibi sek tas melok nyonya nang pasar. Mari ngono barengi nyonya nang omahe koncone nyonya diluk. (Bibi tadi ikut nyonya ke pasar. Setelah itu nemenin nyonya ke rumah temannya sebentar)” jawab bibi.
“stev gelem opo siang iki? Gelem sambel lalapan iyem? (stev pengen apa siang ini? Pengen sambel lalapan iyem)” tanya bibi. Maklum memang sambel lalapan bikinan bibi iyem tiada duanya. Makanya aku menamakannya ‘Sambel Lalapan iyem’. Aku pernah berpikir untuk membuka depot khusus masakan bibi iyem. Mungkin suatu hari nanti rencanaku ini bisa terwujud.
“Wuahhh  gelem bibi. Wis kangen aku mbek sambel lalapan iyem. Goreng ikan pindang mbek goreng tempe sisan yo. (Wuahhh  mau bibi. Dah kangen aku ama sambel lalapan iyem. Goreng ikan pindang dan goreng tempe juga yah)” jawabku dengan girangnya.

Hari demi hari, waktuku hanya terbuang menonton TV, makan masakan-masakan bibi iyem, dan jalan-jalan ama teman-teman lama. Kadang-kadang aku berkunjung ke rumah sodara ayah, sodara ibu, dan sepupu-sepupuku. Lama kelamaan bahasa Jawaku kembali lagi seperti yang dulu.

Sampai pada suatu hari, sekitar pertengahan bulan December 2006

Sudah sebulan lamanya, aku hanya bisa memandang sosok santi dari kejauhan. Semakin banyak memandang, semakin tumbuh rasa penasaran yang besar pula. santi tampak semakin lama semakin cantik di mataku. Dan maaf, kata-kata yang sebenarnya adalah santi semakin membuatku bernafsu. Ingin sekali aku memiliki dirinya, jiwa dan raganya. Aku seperti kerasukan saat ini, tiap kali aku melihat santi, otakku selalu terbayang-bayang dirinya saat terlanjang.

Pada suatu hari, seingatku itu hari Jumat. Aku bangun kesiangan, lewat jam 11 pagi. Kepalaku pening karena bangun kesiangan. Kulihat sekeliling, bibi iyem sedang tidak ada di rumah. Aku masa bodoh dengan keadaan sekitar yang sunyi. Aku duduk di sofa empuk di ruang keluarga, tapi kali ini aku tidak menyalakan tv. Kudengar santi sedang di halaman belakang seperti biasanya mencuci baju. Kali ini aku memberanikan niatku untuk mendekati, mungkin awalnya harus saling kenal dulu biar akrab. Aku tidak pernah ngobrol santai dengan santi selama ini, kebanyakan aku ngobrolnya dengan bibi iyem. Karena mungkin aku telah dibesarkan juga oleh bibi iyem, jadi apa saja bisa nyambung bila ngobrol dengan bibi iyem.

Aku beranjak dari sofa dan menuju halaman belakang untuk mengajak santi ngobrol. Namun hanya terhitung beberapa langkah dari pintu belakang, aku terpeset dan terpelanting di belakang. Bunyi ‘gubrakan’ tubuhku lumayan keras, dan pinggangku sakitnya bukan main. santi terkejut melihat tubuhku yang terpelanting ke belakang. Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggangku yang sakitnya bukan main.

“Nyo stev  kok iso moro-moro tibo?  (tuan muda stev  kok bisa tiba-tiba jatuh? )” tanya santi panik.
Aku hanya bisa meringis sambil menunjuk lantai yang masih basah.
“Lahh  nyo stev mosok ora ketok lek tehel’e sek basa ngono  endi seng loro?  (lah  tuan muda stev masa ngga liat kalo lantainya masih basah  mana yang sakit? )” tanya santi sekali lagi.
Aku hanya bisanya meringis sambil memegang pinggulku yang masih saja sakit.
“Mlebu sek nyo stev  tak urut’e cekno mendingan  longgo’o ndek sofa sek  santi golek obat urut ndek kamar nyonya?  (masuk dulu tuan muda stev  aku urut biar mendingan  duduk saja di sofa  santi cari obat urut di kamar nyonya? )” pinta santi.

Aku menurut saja dengan permintaan santi. Aku baringkan tubuhku di atas sofa empuk. Tak lama kemudian santi kembali sambil membawa minyak tawon. Dia memintaku berbaring dengan posisi telungkup, dan menyuruhku membuka setengah pakaian atasku. Saat ini aku ngga ada pikiran apa-apa, karena aku masih berkonsentrasi membuang rasa sakit di pinggangku.

santi terus mengurut-urut pinggangku yang sakit lumayan lama, dan sekali-kali memijatnya. Aku akui pijatan dan urutan santi terasa nikmat, sehingga perlahan-lahan rasa sakitnya mulai menghilang. Ternyata pertolongan pertama yang ditawarkan santi sangat ampuh.

Kini rasa sakit di pinggangku perlahan-lahan membaik, meskipun masih ada sedikit rasa sakit. Namun rasa nikmat pijatan dan urutan santi membuat akal sehatku mati. Aku kemudian timbul rencana lain di dalam otakku.

“santi  ora enak iki ndek sofa  nang jero kamarku wae  ndek sofa iki kudu arep melorot wae badanku  (santi  kagak enak nih di atas sofa  di dalam kamarku aja  di atas sofa seperti yang mau melorot saja badanku )” pintaku.

santi hanya mengangguk pertanda setuju. Kemudian aku menuju ke kamarku. santi memintaku untuk menunggu di kamar dulu, dia mau menyelesaikan jemuran baju dulu, karena tanggung.

Di dalam kamar, otak kotorku sedang merencanakan taktik bagaimana mendapatkan tubuh santi. Segala cara dan taktik telat aku pikirkan, dan banyak sekali yang ada di otak ini.

Selang beberapa saat santi mengetok pintu kamarku, dan aku menyambutnya dengan gembira.
“santi, bibik iyem nyang endi? Teko omah jam piro jerene? (santi, bibi iyem pergi mana? Jam berapa nanti pulang katanya?)” tanyaku.
“Bibik ono urusan’e, ketokan’e sesok jange teko omah maneh. Koyok’e urusan penting. (Bibi ada urusan, keliatannya besok baru pulang rumah lagi. Kayaknya urusan penting)” jawab santi.

Mendengar jawaban santi tersebut, aku girangnya bukan main. Berarti hanya aku dan santi saja yang ada di rumah saat ini. Papa/Mama pasti sedang di kantor, dan biasanya mereka baru pulang sekitar jam 6 sore, dan ini masih baru jam 12 siang lewat. Aku mencium bau kemenangan.

“santi, pinggangku sek rodo loro  tolong uruten maneh yo  urutan-mu uenak tenan ora kalah mbek pijetan’e sing wis mahir (santi, pinggangku masih rada sakit nih tolong diurut lagi yah  urutan-mu enak banget  kagak kalah ama pijetan professional)” kataku sambil memujinya.
“Nyo stev iki ono-ono wae  iki sing pertama santi mijetin wong liyo  ora ono pengalaman’e (tuan muda stev ini ada-ada aja ini baru pertama kali santi pijitin orang lain masih belon ada pengalaman)” tundas santi.
“Walah walah sing pertama wae wes hebat pasti santi pisan hebat ndek bidang liyo (walah walah yang pertama kali aja sudah hebat pasti santi ada kehebatan di bidang lain) pujiku sekali lagi.
“Nyo stev iso wae seh (tuan muda stev bisa aja sih)” jawab santi singkat.

“santi ojok jeluk aku nganggo jeneng ‘nyo’ koyok cah cilik wae jeluk nganggo jeneng mas stev wae (santi jangan panggil aku dengan nama ‘nyo’ kayak anak kecil aja panggil mas stev aja)” pintaku. santi hanya menganggu tanda setuju.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Adekku Bikin Puas

Suasana kamar sempat hening, hanya terdengar bunyi napas santi yang sedang asyik mengurut pinggangku. Tiba-tiba santi bertanya “Wes mendingan saiki mas stev? (Dah mendingan sekarang mas stev)”.
Otakku langsung merespon pertanyaan santi dengan cepatnya. “Pinggangku wes mendingan, tapi roso-roso’ne pokangku rodo linu. Coba’en diurut pisan pokangku. (Pinggangku sudah mendingan, tapi rasanya pahaku rada linu. Coba diurut juga pahaku)” jawabku ngawur tapi mengena.

Tanpa protes atau bertanya santi langsung mengurut pahaku. Pertama-tama paha kananku kemudian paha kiriku, saling bergantian. Posisi tubuhku kini terlentang, sehingga setiap urutan-urutan yang diberikan santi sangat terasa nikmat. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam celana dalamku, ingin berdiri saja maunya. Yah singkat kata, batang kontolku dah dari tadi ingin sekali berdiri, tapi masih tertahan oleh celana dalamku.

Setelah selang beberapa saat, dengan tanpa malu-malu, tanpa basa-basi, dan dengan pasang muka beton, aku mulai memberanikan diri.
“santi, saiki pokangku wis ora linu maneh, tapi saiki endokku dadi rodo linu. Koyok’e nyambung teko pokang. Tolong sisan, tapi dielus-elus endokku lek ora keberatan. (santi, sekarang pahaku dah ngga linu lagi, tapi sekarang buah zakarku jadi rada linu. Kayaknya nyambung dari paha deh. Tolong juga, tapi dielus-elus saja buah zakarku kalo ngga keberatan.)”, pintaku tidak tau diri.

santi sempat terhenti, dan bengong aja melihat tingkah polahku yang tidak tau diri itu. Di raut wajahnya tidak tampak seperti protes atau marah, melainkan seperti kaget dan bengong seakan-akan bertanya-tanya.

“Kok iso linu endok’e mas stev emange endok’e mas stev melok kepleset? (Kok bisa linu buah zakar mas stev emangnya buah zakar mas stev ikut terpeleset?)” tanya santi lugu.
“Yah, koyok’e ngono. (Yah, kayaknya begitu)” jawabku singkat.

Tanpa banyak tanya lagi, santi perlahan-lahan mulai mengelus-elus buah zakarku dari luar celanaku. Rasanya tidak begitu nikmat, tapi ada getaran napsu yang muncul dari otakku.

“Uenak mas stev? (Enak mas stev?)” tanya santi. Aku menjawab dengan mengeleng-gelengkan kepalaku pertanda tidak enak.
“Yo opo sek uenak? (Trus gimana yang enak?)” tanya santi lagi.

Aku berpikir sejenak, kemudian aku perolotin celanaku berserta celana dalamku. Serentak melihat gelagatku, santi kaget bukan main dan secara reflek memejamkan matanya.
“Mas stevnn lopo kok mlorotin katok ora ono acara’ne ngomong dhisik (Mas stevnn kenapa kok melorotin celana  tanpa ada acara ngomong lagi)” protes santi dengan matanya yang masih terpejam.
“Loh, santi sek tas mau takok yok opo cekno uenak lah ya aku plorotin wae katok’e cekno uenak elus-elusan’e (Lho, santi tadi tanya gimana caranya biar enak yah aku lepas saja celananya biar enak elus-elusannya)” jawabku menyakinkan santi.

santi masih tetap memejamkan matanya, tapi tangannya mencoba meraba-raba pahaku mencari buah zakarku lagi. Setelah mendapatkan buah zakarku, santi kembali mengelus-elusnya lagi. Kali ini alamak  enak banget. Terasa lembut sekali tangan santi. Serentak saja, batang penisku langsung tegak dan mengeras.

“Lah opo iki mas stev kok atos soro? (Lho apa ini mas stev kok keras banget?)” tanya santi heran dengan mata sambil terpejam.
“Yo delok’en wae santi buka’en moto-mu cekno weruh ora bahaya kok (Yah liat aja santibuka dulu matanya biar tau ngga bahaya kok)” jawabku dengan jantungku berdegup-degup kencang.

Perlahan-lahan santi membuka matanya, dan langsung terbelak kedua matanya sambil terheran-heran.
“Lah manuk’e mas stev kok iso ngaceng koyok ngono linu sisan tah? (Lho burung mas stev kok bisa tegang kayak gitu linu juga tah?)” tanya santi lugu.

“Iki jeneng’e manukku ‘happy’ alias seneng soale endok’e dielus-elus wong wedok sing ayu kayak santi (Ini namanya burungku ‘happy’ alias senang soalnya buah zakarnya dielus-elus wanita cantik kayak santi)” kataku mulai merayu.
“Mas stev iki (Mas stev ini )” kata-katanya terputus dan terlihat wajah santi yang malu-malu atas pujianku itu. santi ternyata masih lugu dalam hal beginian, membuatku semakin yakin kalo santi ini masih ting-ting alias perawan.

Tanpa disuruh olehku, santi mulai mengelus-elus batang penisku dengan lembut, kadang-kadang mengurut-urutnya. Tak karuan rasa, semakin dielus, semakin tegang dan tegak berdiri. santi dari tadi senyum-senyum saja, dan tampak wajahnya yang masih malu-malu.

Setelah lama dielus-elus oleh santi batang penisku berserta buah zakarnya, aku ingin melaju di langkah berikutnya. Aku semakin berani dan tidak sungkan-sungkan lagi. Sambil berbaring kutatap wajah cantik dan manis santi.

“santi ” kataku.
“Emmm ” jawab santi singkat.
“Saiki gantian yo  (Sekarang gantian yah)” kataku.
“Gantian yo opo? (Gantian gimana?)” tanya santi.
“Hmmm ngene saiki gantian aku teko mau santi wis delok manukku mbek endokku sek dielus-elus maneh saiki gantian aku seng delok tempik’e santi (Hmmm gini sekarang gantian aku dari tadi santi dah liat burungku ama buah zakarku dan dielus-elus lagi sekarang gantian aku yang liat memek santi” kataku tanpa basa-basi.

“Emoh mas stev isin aku ojok mas stev (Ngga mau mas stev malu aku jangan mas stev)” tolak santi.

Penolakan santi yang setengah hati itu membuatku makin penasaran dan makin bernapsu. Aku beranjak dari ranjang, dan memaksa lembut santi untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjangku. Setelah berhasil merebahkan tubuhnya santi langsung bertanya.

“Mas stevn kate diapakno aku? (Mas stevnn  mau diapain aku?)” tanya santi pasrah.
“Menengo wae santi  ora aku apak-apak’no kok  mek arep delok tempik’e santi  ora adil lek teko mau manukku tok seng didelok (Diam aja santi ngga bakalan aku apa-apain kok .. cuman pengen liat memek santi aja ngga adil kalo dari tadi burungku saja yang diliat)” kataku bohong. Padahal dibalik benakku banyak hal yang aku ingin lakukan terhadap santi, terutama terhadap tubuhnya.

Aku sekap roknya, dan aku tarik celana dalam dibalik roknya. santi berusaha menahannya, tapi usahanya sia-sia, karena dia menahannya dengan setengah hati alias tidak dengan sekuat tenaga. Kelakuan santi ini seperti lampu hijau untukku. Seakan-akan pasrah saja mau diapain olehku.

Setelah berhasil melepas celana dalamnya, aku tarik roknya ke atas perutnya, agar supaya aku bisa melihat jelas memeknya. Secara reflek santi menutup memeknya dengan tangannya.

“Wes mas stevnn isin tenan aku (Udahan mas stevnn malu banget aku)” kata santi.
“Durung santi ojok mbok ditutupi tok tempik’e ora ketokan (Belon santi jangan ditutup terus dong memeknya ngga keliatan)” kataku protes.

Aku kemudian tarik tangannya yang sedang menutupi memeknya. santi langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya menyilang. santi masih terus berusaha menyembunyikan memeknya dariku. Bisa aku maklumi perasaan malu yang sedang santi alami. Aku mencoba merayu dan menyakinkan santi apa adanya.

“Ojok isin-isin santi ora ono sing ndelok kok men aku tok wae (Jangan malu-malu santi ngga ada siapa-siapa yang bisa liat kok cuman ada aku saja)” rayuku lagi.

Kini santi mulai pasrah, dan kedua pahanya yang tadinya menyilang, sekarang sudah mulai kendor. Segera saja aku ambil kesempatan ini untuk mengendorkan pertahanan santi. Setelah aku berhasil membuka selangkangan santi alamak aku langsung menelan ludah. Memek santi begitu indah dan subur ditumbuhi oleh jembut-jembut yang masih lembut. Aku yakin jembut-jembut ini tidak pernah sekalipun santi cukur sejak pertama kali tumbuh, sehingga masih tampak halus lembut.

Kucoba lagi membuka selangkangan santi lebih lebar lagi, aku ingin sekali menemukan biji etil santi. Aku merasa kesulitan menemukan biji etil santi dengan mata terlanjang. Ketika aku mencoba membuka bibir memek santi untuk menemukan biji etilnya, santi langsung protes.

“Mas stev  ojok mas (Mas jangan mas)” pinta santi. Aku semakin gemas dengan nada penolakan pasrah santi.

Aku tidak mengubris permintaan santi, dan semakin gencar bergerilya mencari biji etilnya. Ternyata tidak susah menemukan biji etilnya dengan mencari pakai tangan. Aku mainin biji etilnya dengan gemas.

“Mas stev wes mas uisin tenan aku (Mas stev udahan mas malu banget aku)” mohon santi.

Otakku sudah gelap, dan tetap memainkan biji etilnya. Ternyata tidak perlu memakan waktu lama untuk membuat memek santi basah. Mungkin ini pertama kalinya santi merasakan nafsu birahi alias horny. Dia seperti tidak tau harus bagaimana menghadapi situasi saat itu. Kedua tangan tidak lagi menutup wajahnya. Tangan kanannya bersembunyi di balik bantal, dan tangan kirinya meremas guling. santi menggigit bibir bawahnya, seolah-olah menahan geli. Tidak kudengar suara desahan dari mulut santi, tapi nafasnya kini sudah berubah menjadi memburu. Aku berasumsi bahwa santi masih belum bisa atau belum terbiasa mendesah.

“santi tempik mu wis buasah tenan saiki (santi memekmu dah basah banget sekarang)” pujiku.
“Masss masss wes masss santi mbok opok’no jarene mbek delok tok saiki kok di dolen tempik ku (Masss masss udahan masss diapain santi katanya cuman mau liat aja sekarang kok dimainin memekku)” protes santi pasrah.
“Aku wes kesengsem karo tempikmu iki gemesi wae tak elus-elus malah dadi buasah (Aku dah jatuh cinta ama memekmu bikin gemes aja dielus-elus malah jadi basah) ” kataku sambil bercanda.

Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, santi secara reflek tiba-tiba menjerit “Mas stevnn massssss “. santi orgasme di atas ranjangku.

Aku biarkan santi mengambil nafas dulu biar sedikit tenang.

“santi sek tas mau kok bengok loro tah? (santi barusan aja kok teriak sakit?” tanyaku pura-pura bego.
“Ora loro mas sek tas-an santi koyok kesetrum rasa’e koyok nang surgo uenak tenan  atiku saiki sek dek-dekan (Ngga sakit mas barusan santi kayak kena setrum rasanya seperti di surga  enak banget jantungku sekarang masih deg-degan)” jawab santi.

Kini saatnya giliranku untuk orgasme. Kontolku sudah sejak tadi tegang melihat kelakuan santi. Pekerjaanku masih belum tuntas. Aku bingung apa yang harus aku katakan ke santi bahwa aku ingin menyodok kontolku ini ke dalam memeknya yang masih perawan itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak bertanya atau berkata apapun. Aku mencoba untuk langsung main terobos saja. Aku kembali membuka selangkangan santi, dan mencoba mengarahkan kontolku ke mulut memeknya. santi protes lagi.

“Mas stev arep opo? (Mas stev mau apa?)” tanya santi heran.
“Oh aku gelem kesetrum sisan koyok santi seng mau (Oh  aku juga mau kesetrum kayak santi tadi)” jawabku spontan.
“Lah terus laopo manuk’e mas kate mlebu nang tempikku? (Lho trus kenapa burung mas mau masuk ke memekku?)” tanya santi heran.

santi benar-benar masih bau kencur di dalam urusan seperti ini. Mungkin tidak ada orang yang pernah mengajarinya teori tentang hubungan seks atau biasanya disebut dengan hubungan pasutri (pasangan suami istri).

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Kebiasaan Sex Dalam Keluargaku

“Aku baru iso kesetrum lek manukku mlebu nang tempikmu (Aku baru bisa kesetrum kalo burungku masuk ke memekmu)” jawabku gombal.
“Ojok mas engkuk loro jarene wong-wong (Jangan mas nanti sakit katanya orang-orang)” katanya.
“Ojok wedhi santi tak mlebu pelan-pelan wae tak jamin ora loro (Jangan takut santi dimasukin pelan-pelan aja dijamin ngga sakit)” rayuku.

santi diam saja dan pasrah.

Aku kemudian mengarahkan ujung penisku ke bibir vagina/memek santi. santi memejamkan matanya, dan kini giginya kembali menggigit bibir bawahnya.

Tangan kananku memegang pangkal penisku agar batang kontolku tegak dengan mantap, dan tangan kiriku berusaha membuka bibir vagina santi, supaya aku bisa melihat lubang memeknya. Karena santi masih perawan, ngga mudah untuk menembuh pintu masuk gadis perawan. Hal ini sudah aku alami sekali dengan pacar lamaku. Aku ngga ingin melihat santi nantinya menangis seperti yang dialami oleh mantan pacarku yang dulu, setelah aku paksa masuk batang kontolku ke lubang memeknya yang masih perawan.

Pertama-tama aku basahi terlebih dahulu ujung penisku dengan air ludahku biar menjadi pelumas sementara, kemudian aku dorong masuk ujung penisku kira-kira sedalam 2 centi. Setelah berhasil masuk kira-kira kedalaman 2 centi, aku diam sejenak, kulihat santi sedikit meringis menahan perih.

“Perih santi?” tanyaku iba.
“Rodok perih mas (Rada perih dikit mas)” jawab santi yang kini matanya kembali terbuka memandangku.
“Tak mlebu alon-alon yah  lek perih ngomong’o  ojok meneng ae  (Aku masukin pelan-pelan yah  kalo perih bilang aja  jangan diam aja)” suruhku.

Suasana kamarku makin panas saja rasanya. Aku lepas bajuku, sehingga kini aku sudah terlanjang bebas. Kondisi santi masih lengkap, hanya roknya saja yang terbuka.

Batang penisku yang dari tadi sudah masuk 2 centi itu masih tampak keras saja. Aku kini tidak lagi memegangi batang kontolku, karena dengan menancap 2 centi saja di dalam memek santi dalam kondisi amat tegang, mudah untukku menembus semua batang kontolku. Tapi kini aku harus memasang taktik biar santi nantinya juga menikmati. Perih adalah maklum untuk gadis perawan yang sedang diperawani.

Kedua tanganku kini menahan tubuhku. Aku membungkuk dan menatapi wajah santi yang cantik. santi masih terlihat sedikit merintih karena rasa pedih yang dialaminya.

Aku menekan lagi batang penisku, masuk sedikit, kira-kira setangah sampai 1 centi. santi meringis lagi.

Aku mainkan pinggulku maju dan mundur agar batang penisku maju mundur di dalam liang memek santi. Batang kontolku cuman mentok sampai kedalaman kira-kira 3 centi. Tapi aku terus bersabar sampai nanti tiba nanti saatnya yang tepat. Aku teruskan irama maju mundur batang kontolku di dalam memek santi.

Perlahan-lahan suara rintihan santi semakin memudar, dan wajah santi tidak lagi merintih. Ujung penisku terasa basah oleh cairan yang kental. Aku yakin cairan ini bukan air liurku yang tadi, melainkan cairan murni dari memek santi.

Sekarang batang kontolku bisa masuk perlahan-lahan lebih dalam lagi, dari 3 centi maju menjadi 4 centi, kemudian dari 4 centi masuk lebih dalam lagi menjadi 6 centi.

“Sek perih santi? (Masih pedih santi?)” tanyaku. santi menggeleng-gelengkan kepala pertanda tidak lagi sakit.

Napas santi kini kembali memburu dan terengah-engah, dan tidak lagi menggigit bibir bawahnya. Tangan kanannya meremas sarung ranjangku dan tangan kirinya meremas selimutku.

Goyangan pinggulku aku percepat sedikit demi sedikit, memberikan sensasi erotis terhadap memek santi. Dalam sekejap kini aku bisa membuat batang kontolku kini terbenam semuanya di dalam lubang kenikmatan milik santi.

“Sek perih santi? (Masih pedih santi?)” tanyaku sekali lagi. santi kali ini tersenyum malu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.
“Tempik mu wis uenak maneh? (Memekmu dah enakan lagi?)” tanyaku bercanda. santi mengangguk.
“santi  buka en klambimu  mosok ga kroso panas tah?  buka en ae cekno adem (santi  buka dong bajumu  masa ngga merasa panas?  buka aja biar sejuk)” kataku. Aku sebenarnya ingin memperawani santi dalam keadaan benar-benar terlanjang.

Nanti menurut saja, dan kemudian dia melepas kaos bersama BH-nya, dan masih membiarkan roknya, karena batang kontolku masih sibuk menari-nari di dalam lubang memeknya. Tampak payudara santi yang merekah dengan ukuran 32C menurut tafsiranku. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil. Pas untuk ukuranku. Puting susunya berwarna coklat gelap. Typical atau khas payudara wanita asli Indonesia. Melihat puting susunya yang menantang seperti itu, membuatku gemas rasanya. Aku mencubit sambil memelintir puting susunya, dan santi protes atas tindakanku tersebut.

“Masss  loro masss  (Masss  sakit masss )” protes santi lembut. Aku pun kemudian senyum padanya, dan langsung menghentikan tindakanku tersebut.

Aku merasa sudah lama aku menggenjot tubuh santi siang itu. Tapi aku masih belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya klimaksku. Aku sejak tadi berpikir antara iya atau tidak nantinya aku memuncratkan air maniku ke dalam memeknya. Sejujurnya aku berkeinginan hati untuk menyirami memek santi dengan air maniku, tapi aku juga rada kuatir akan konsekwensinya bila terjadi apa-apa dengannya, alias hamil nantinya.

Nafas santi semakin memburu saja, tapi wajahnya tampak makin gelap saja. Darah santi seakan-akan memanas dan terkumpul di atas kepalanya. Kali ini santi tak kuat untuk menahan genjotan-genjotan dan gesekan-gesekan nikmat yang diberikan oleh batang kontolku. Mulut santi kini tak terkontrol. Untuk pertama kalinya mulut santi mendesah atau merintih basah.

“Uhh  ohhh  masss  masss  kerih (geli) masss ” rintih santi.
“Aku kerih sisan santi  santi wis arep ngoyo? (Aku geli juga santi  santi sudah mau pipis?)” tanyaku penasaran melihatnya sudah seperti cacing kepanasan. Leher santi sudah mulai berkeringat. Sekujur badanku juga tidak kalah keringatnya. Semakin berkeringat, semakin seru saja aku menggagahi tubuh santi.

Seperti tau apa yang aku maksud dengan kata ‘pipis’, santi pun menganggukkan kepalanya. santi sudah akan memasuki tahap orgasme yang kedua kalinya.

Tidak sampai hitungan 2 menit, santi tiba-tiba memekik sambil tangan kanannya meremas biceps-ku.

“Masss  ampunnn masss  kerih mbanget  arep ngoyo ketok’e  aahhh  (Masss  ampunnn masss  geli banget  ingin pipis rasanya  ahhh )” pekik santi dengan tangan kanannya yang masih meremas biceps-ku.

Tidak salah lagi, santi telah mencapai orgasme keduanya. Memeknya semakin basah saja. Aku berhenti menggenjotnya dan mendiamkan batang kontolku tertanam dalam-dalam di dalam memeknya yang basah nan hangat. Kurasakan setiap denyutan daging-daging di dalam memek santi.

Setelah buruan nafasnya mereda, aku cabut batang kontolku keluar dengan maksud untuk melepas roknya yang masih menempel di tubuhnya. Aku ingin melihatnya bugil tanpa busana apapun. Saat kutarik batang kontolku, aku melihat sedikit bercak darah di tengah-tengah batang kontolku, dipangkal kontolku, dan di daerah bulu jembutku. Kuperawani sudah santi, dan ini adalah bukti keperawanan santi yang telah aku renggut darinya.

santi kini bugil tanpa selembar kain apapun. Aku kembali memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya. Masih terasa basah liang memek santi.

“santi  saiki aku sing kate ngoyo  siap-siap yo (santi  sekarang aku yang harus pipis  siap-siap yah)” kataku.

santi seperti tidak mengerti apa yang aku katakan, tapi kepala mengangguk saja (hanya menurut saja). Aku kembali menggenjoti liang memeknya lebih cepat dari biasanya. Kupercepat setiap hentakan-hentakan, dan bisa kurasakan kenikmatan gesekan-gesekan terhadap daging-daging di dalam memek santi. Memberikan sensasi yang luar biasa dasyatnya.

Wajah santi kembali memerah, dan kini nafasnya kembali memburu lagi. Kali ini santi sudah tidak malu-malu lagi untuk mendesah dan merintih nikmatnya bercinta.

“santi  kepenak temenan nyenuk karo santi  tempik-mu gurih tenan (santi  enak/senang banget ngentot ama kamu memekmu gurih banget)” pujiku sambil terus menggenjot memeknya.

“Masss stev  masss  aku arep ngoyo maneh  ahhh masss  (Masss stev  masss  aku pengen pipis lagi  ahhh masss )” desah santi.

“Iku jenenge arep teko santi  ora arep ngoyo (Itu namanya mau datang santi  bukan mau pipis)” jawabku sambil tertawa renyah dan santi pun tersenyum bingung. Mungkin baginya istilah ‘datang’ masih terasa aneh.

Sekujur tubuhku berkeringat dan tergolong basah kuyup. Sudah berapa tetes keringatku yang jatuh di perut dan dada santi. Posisiku menyetubuhinya masih tetap berada di atas. Sejak tadi aku belum menyuruhnya merubah posisi. Mungkin bagiku lebih nyaman untuk santi digagahi dengan posisiku di atas. santi masih termasuk bau kencur dalam masalah beginian.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex Model String Yang Pamer Bokong Curve Seksi

Batang kontolku makin lama terasa makin mengeras. Lahar mani di dalamnya ingin segera meletup keluar. Aku sudah tidak mampu untuk berpikir dengan akal sehat kembali. Otot-otot disekujur batang kontolku sudah tidak mampu lagi membentung lahar panas yang ingin segera menyembur keluar. Aku sudah tidak perduli lagi dengan rasa kuatirku tadi. Aku hanya ingin menyemburkan lahar panas ini secepat mungkin. Isi otakku sudah gelap rasanya.

“santi  aku arep teko iki  ora iso di tahan maneh  saiki santi  saikiii santiii (santi aku mau datang nih ngga bisa ditahan lagi sekarang santi  sekaranggg  santiii)” aku mengerang keras diiringi oleh semburan lahar panas dari batang kontolku yang mengisi semua liang memek santi. Semburan panas dari batang kontolku mendapat sambutan hangat dari santi. Aku memeluk erat tubuh santi, dan santi membalas memelukku sambil memekik memanggil namaku. Aku hanya dapat menduga bila santi mendapatkan orgasme-nya yang ketiga kali. Batang kontolku berkali-kali memuntahkan lahar panasnya di dalam lubang kenikmatan milik santi. Mungkin sekarang liang memek santi penuh sesak oleh lahar maniku.

Aku diam sejenak, mengatur nafasku kembali. Tubuhku masih menindih tubuh santi. Kini semua keringatku bersatu dengan keringat santi. Aku memeluk santi, sambil menciumi lehernya. Batang kontolku masih menancap di dalam memek santi. Aku masih belum ingin mencabutnya sampai nanti batang kontolku sudah mulai meloyo.

“santi terima kasih ” bisikku dalam bahasa Indo. santi hanya diam saja. Tak lama kemudian, aku mendengar santi menyedot ingusnya. Ternyata mata santi tampak berkaca-kaca. Aku menduga kuat santi ingin sekali menangis, dan tampak penyesalan di wajahnya. Melihat tingkah laku santi, aku berusaha memberinya comfort (kenyamanan), dan rayuan agar membuatnya lega atau tidak sedih kembali. Aku mengatakan kepada santi bahwa ini adalah rahasia kita berdua, dan mengatakan bahwa aku sayang kepadanya. Aku berjanji padanya bahwa ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya aku menyetubuhinya. santi begitu menurut dengan kata-kataku dengan polos dan lugu.

Aku sedikit ada rasa penyesalan telah memperawani gadis cantik dan imut seperti santi. Aku meminta maaf kepadanya karena aku khilaf dan tidak dapat menahan keinginanku itu karena sejak lama aku memantau dan melihat sosok dirinya dari kejauhan. Begitu dekat dengannya, aku tidak mampu lagi menahan nafsu birahiku.

Selama liburan musim panas tersebut, aku sering sekali mencuri-curi waktu dan tempat untuk bersetubuh dengan santi. Sejak pertama kali memperawaninya, agak susah untukku untuk menggagahi tubuh nikmatnya lagi. santi selalu menolak dengan alasan takut sakit atau apa gitu. Tapi dasar lelaki yang penuh dengan akal muslihat, aku tetap berhasil menikmati tubuhnya dan memeknya berkali-kali.

Untung saja, makin lama santi semakin menyukai berhubungan badan denganku. Banyak teknik yang aku ajarkan kepadanya, dari BJ, HJ, dan posisi bercinta yang lain (doggy style, woman on top, gaya menyamping, dll). Aku kadang meminta santi memberikan BJ atau HJ di ruang keluarga sambil aku menonton TV disaat tidak ada orang di rumah.

Sejak saat itu pula, aku selalu memakai condom untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Aku tidak ingin aib ini sampai tercium oleh anggota keluargaku yang lain.

Sudah sering kali aku bermain cinta dengan santi di liburan musim panas ini. Aku sempat mengganti tanggal pesawatku kembali ke Melbourne agar aku bisa lebih lama di Indonesia. Aku kembali ke Melbourne untuk melanjutkan studiku lagi sekitar akhir Februari. Semenjak kembali ke Melbourne lagi, aku kangen dengan santi, dan rindu bercinta dengannya. Kadang-kadang aku menelpon rumah di waktu siang hari (waktu Indonesia) untuk mengobrol dengan santi. Dan seputar obrolan kami adalah tentang ‘gituan’ aja.

Studiku tinggal 1 semester lagi. Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan studiku ini, agar aku bisa kembali ke Indonesia bertemu kembali dengan santi. Sebenarnya aku sendiri tidak tau bagaimana masa depanku dengan santi. Tapi aku berkeinginan untuk tetap tinggal di Malang, paling tidak melanjutkan atau bekerja di kantor perusahaan papa. Dengan ini aku bisa senantiasa dekat dengan santi. Biarlah nanti waktu yang akan menentukan nasibku dengan santi.

author