Cerita Sex: Plaza Senayan

No comment 1354 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa – Gosip tentang Plaza Senayan (PS) sebagai salah satu tempat ngumpulnya para TG, ternyata kubuktikan sendiri di bulan Juni ini. Tepatnya tanggal 13 kemarin. Waktu itu aku lagi BT sama kuliah (aku kuliah di Fakultas Kedokteran swasta Jakarta) dan tdk tahu kenapa, aku memilih PS sebagai tempat nongkrongku.

cewek seksi

Setelah berputar-putar selama 1 jam, aku mau pulang. Tetapi sore itu Jakarta lagi diguyur hujan besar. Jadi, menurut perkiraanku pasti jalanan macet sekali. Percuma saja kalo kupulang jam 5 kayak gini. Kalo sampainya harus 2 jam. Lebih baik kupulang jam 6, toh ntar sampainya jam segitu juga.

Akhirnya aku duduk di restchairs, tepat di depan ekskalator Lt. 2, dekat Bodyshop. Selama di situ, aku hanya bengong sambil melihat orang-orang lewat di depanku. Sampai tiba-tiba ada cewek duduk di sebelahku sambil membawa 2 plastic bag besar Metro.

Penampilannya ‘Boljug’, kayaknya sedikit lebih tua dariku. Yah.. kutaksir sekitar 35-an deh. Cukup cantik, cocok jadi Model. Apalagi dengan dandanannya yg natural dan rambutnya yg tergerai indah sedada berwarna kecoklatan.., cakep sekali deh! Bodinya..? Heran bisa ngepas sama wajahnya, seksi banget. Pake Tank top bermotif Macan Tutul, yg kayaknya kekecilan buat dadanya, dan Hipster putih selutut. Buset dah..! Bikin pusing saja.. (aku melihat lewat ekor mata. Tdk mungkin aku melotot langsung, bisa-bisa aku ditabok sama dia..)

Aku mikir, kira-kira siapa suaminya ya..? Lagi mikir gitu, eh.. dia nepuk pundakku sambil bertanya,

“Maaf ya, kalo Butik Absolute adanya di mana..?”

Aku berusaha menutupi kekagetanku dan berusaha menjawab sesantai mungkin,

“Oh.., bukan di sini Mbak. Adanya di Jl. Mahakam, di Melawai sana.”
“Oh, saya kira di sini..”

Itulah awal pembicaraan kami, sampai akhirnya kenalan dan ngobrol ngalur-ngidul. Namanya Megawati, usia 36 tahun (bener kan?), rumah di Jl. HL (masih wilayah Senayan juga dong!), mantan pramugari yg bersuami seorang pilot.

Kebetulan suaminya lagi tugas 2 minggu ke Frankfurt, jadi dia jalan-jalan sendirian. Belum punya anak, karena suaminya sering pergi.

“Kan susah jadinya kalo ditinggal terus.” katanya.

Setelah ngobrol selama 30 menitan, tiba-tiba dia bertanya, apa aku ada mobil dan dapat mengatarkan dia pulang. Soalnya dia malas pakai taxi, apalagi kalau lagi hujan gini. Duitnya bisa abis buat bayar kejebak macet saja. Karena kupikir sekalian aku pulang dan nantinya memang lewat jalan rumahnya, ya.. oke-oke saja. Emang sih, kondisi jalan sore itu parah banget. Heran, se-Jakarta bisa kompakan pulang bareng! Untung ada si mbak, jadi ada temen ngobrol deh!

Setelah hampir 30 menit bermacet-macetan, akhirnya sampai juga di rumahnya yg lumayan besar. Padahal aku baru melihatnya dari depan saja.

“Klakson aja..!” kata Mbak wati,
“Ntar ada yg bukain koq.”

Benar..! Setelah ku-klason, seorang pembantu wanita tua berpayung membuka pintu pagar.

Sebelumnya, Mbak wati sudah bilang,

“Kalau ada pembantu saya, ngakunya kamu tukang service komputer, ya..?”

Karena masih hujan, mobil kumasukkan sampai pas di depan garasinya yg ber-Sunroof.

Sambil berakting layaknya customer, Mbak wati memperkenalkan aku sebagai montir komputer pada pembantunya. Dan lalu menyuruhnya untuk masak-masak buat makan malam.

“Mari masuk..! Duduk-dudk saja dulu sebentar di dalem. Lalu kamu boleh pulang.” katanya setelah pembantunya pergi ke dapur.
“Terima kasih kamu udah mau nganterin saya pulang.”
“Ah.., nggak apa-apa Mbak. Saya juga kebetulan mau numpang ke kamar mandi.”
“Oh, silakan! Tapi terpaksa yg di lantai atas, nih..! Yg di bawah lagi rusak.”

Dengan membawa belanjaanya, Mbak wati mengajakku ke atas.

“Yuk ke atas..!” katanya sambil berjalan di depanku.

Saat itu baru kuperhatikan. Ternyata CD-nya menyetak habis di Hipster-nya! G-string, man..!Huaa..! si Junior langsung berontak. Baru kali ini aku berhadapan langsung sama cewek pemakai G-string. Sambil berusaha senormal mungkin, aku mengikuti dia dari belakang. Sampai akhirnya tiba di kamar.

“Ayo masuk, jangan malu-malu..! Tuh kamar mandinya di sana..” katanya sambil menunjuk ke pintu di ujung kamar.

Aku langsung ke sana, dan ketika mau menutup pintu, Mbak wati tiba-tiba memegang Handle pintu luar kamar mandi sambil berkata dengan genit,

“Jangan lama-lama ya..!” Terus ditutup deh pintunya sama dia.

Lagi seru-serunya pipis, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah benda panjang yg berada di balik botol-botol sabun. Ketika kuambil.., ternyata Dildo..! Tiruan K0ntol yg berwarna coklat muda..! Belum hilang rasa kagetku, sudah datang kejutan lagi.

Karena pintunya tdk kukunci, secara diam-diam Mbak wati masuk ke kamar mandi. Karena saat itu aku sedang kaget, tiba-tiba aku dipeluk dari belakang secara lembut. Tangan kiri Mbak wati meraih tanganku yg lagi memegang Dildo, sedangkan tangan kanannya meremas junior-ku.

“Ini mainan saya, kalau lagi kesepian..” bisiknya tepat di telingaku.

Aku terdiam seperti patung, mungkin karena keenakan.. kali ya.., hehehe.

“Tapi jauh lebih enak kalau pake yg asli..” desahnya.

Aku benar-benar tdk dapat berbuat apa-apa ketika dia mulai menjilat leher sekitar telinga. Rasanya geli-geli enak dan aku benar-benar tersihir. Sambil terus menjilat dia berusaha membuka celanaku dari belakang.

“Hhh.., jangan Mbak..!” aku berusaha mengingatinya.

Tapi.., “Kenapa..? Hhhmm slurp.. slurp.., nggak suka ya..?” desisnya sambil tetap mencium dan menjilat leherku.

Akhirnya kupikir, bodo amat deh..!”Mmmbakk.. hh.. dih.. ranjang aja deh.. biar lebih enak..” kataku.

Dia menuntunku keluar kamar mandi sampai di pinggir Bed, langsung memagut mulutku dengan ganas. Lidahnya meliuk-liuk mencari-cari lidahku, sementara tangannya kembali berusaha membuka celanaku. Aku yg sudah bodo amat, mendekap tubuhnya yg empuk. Hhmmpp.. benar-benar enak memeluk cewek bohay seperti dia.

Setelah celanaku melorot, ciumannya beralih ke leher, ke dada, perut, dan akhirnya ke k0ntolku. Dia mengurut k0ntolku pelan-pelan, wwoowww..! enak banget.

“Kamu tetap berdiri, ya jhon.. Jangan rebah..!” pintanya sambil tersenyum manis. Aku mengangguk saja.
“K0ntol kamu.. hh.. kayaknya enak.. hh.. hap..!”

Tiba-tiba dia langsung menghisap k0ntolku, bahkan mengocok-ngocok di mulutnya.

Uihh, rasanya tdk dapat kutuliskan deh..! Enak banget.

“Hhmm.. slurp.. slurp..! Aahh.. slurp.. slurp..!”

Kadang-kadang dia sengaja mengguncang-guncang k0ntolku ke kiri ke kanan dengan mulutnya, sementara kedua tangannya mengelus-elus pantat dan bijiku.

“Aahh.. jangan kenceng-kenceng, Mbak..!” kataku saat dia menghisap dengan bernafsu.

Dia hanya tersenyum, lalu meneruskan kegiatannya. Hisap.. lepas.. hisap.. lepas.., terus sampai akhirnya dia seperti kelelahan, tetapi tetap horny.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Nafsu Liar Menantuku

“Hmm.., k0ntol kamu enak..” katanya sambil menjilat bibirnya yg penuh lendir.

Kelihatan sekali dari sorot matanya yg liar kalau dia sudah sangat horny.

“Udah lama saya nggak ngisap k0ntol seenak ini.”
“Mbak..”
“Jangan panggil saya Mbak..” desisnya sambil mencium bulu kemaluanku,
“Panggil saya watia.. aahh.. sstt..”

Kembali dia menjilat bulu kemaluanku dengan lidah meliuk-liuk seperti lidah ular. Kali ini jilatannya naik ke atas, sambil tangannya membuka T-shirt-ku. Aku juga tdk mau kalah, ikutan membuka Hipster dan Tanktop-nya. Dan Payudara itu.. kayaknya 36B, deh..! Nantang banget..!Walau saat itu masih memakai bra, tapi tdk bertahan lama, karena langsung dibuka sama dia. Jadi sekarang hanya sisa CD-nya, yg hanya tali saja.

Aku tdk menunggu lama-lama lagi, langsung ku-‘mamam’ payudara bulat itu. Awalnya yg kiri, dan yg kanan kuremas-remas. wati mengerang dan menjatuhkan diri ke ranjang.

“Aahh.. sstt, ayyohh.. nenen yg kuat.. Say.. hh.., iisshhaapp putingnya hh.. hh..!”

Aku dengan semangat menghisap sesuai perintahnya. Sesaat kugigit lembut putingnya.

“Aaahh.. ennakk..! Hhh.. kenyot terus.. sstt.. yg.. kuathh.. aahh..!” jeritnya sambil menggelinjang.

Rupanya arus kenikmatan mulai menerpa wati. Tangan kananku mulai menjelajah memeknya yg masih tertutup CD. Wah, sudah basah rupanya..! Apalagi saat jari tengahku menyewatip di antara Labia majora, kerasa sekali beceknya.

Pinggulnya mulai naik turun, rupanya wati sadar ada benda asing yg menggesek kemaluannya. Apalagi saat jariku menyentuh klitorisnya, makin kencang goyangannya. Seakan berusaha agar jariku tetap di klitorisnya, tdk pindah kemana-mana. cerita sex

Terbukti saat tangannya memegang tanganku yg ada di kemaluannya,

“Jangan.. kemana-mana Say.. hh.. sstt.. gesek itilku.. hh..!” erangnya.

Sekarang ciumanku sudah pindah ke lehernya yg jenjang dan wangi. Memeknya tetap dihibur dengan jariku, sementara tanganku yg lain membelai rambut indahnya.

“Udahh.. cukup maen jarinya.. sst..!” kata wati.

Lalu dia menelentangkan aku dan dia ada di atasku. Dia langsung menempatkan lubang kemaluannya tepat di depan wajahku dan secara perlahan dia buka CD-nya yg seperti tali itu dengan membuka ikatan di sampingnya. Tercium semerbak wangi memek yg benar-benar membuatku terangsang. Tampak tetesan lendir di lubang memeknya. Benar-benar horny nih cewek..

“Hm.., wangi sekali wati. Gue suka baunya..”
“Kamu suka bau memekku, Say..?”
“He eh..”
“Kalo gitu, cium deh..!” katanya sambil menurunkan memeknya ke wajahku.
“Ayo cium, Say..! Hhh.. cium.. cium.. dijilat, Say.. hh jilat.. jilat.. JILAATT..!”

Padahal tanpa dikomando lagi aku sudah mau menjilat.

Kuhisap-hisap klitorisnya yg menyembul, kujilat memeknya, perineumnya, anusnya, semuanya. Semua yg ada di sekitar kemaluannya kujilat dan kuhisap.

“Jilaatthh teerruusshh.. Say.. jillaathh.. itilnyaahh.. itilnyaahh.. teerruusshh.. ittill.. itil..” desahnya.

Wajahku benar-benar dijadikan gosokan sama dia. Digosoknya terus kemaluannya di wajahku, kadang berputar-putar bak Lapdancer. Karena bosan di bawah terus, posisinya kuubah. Sekarang wati di bawah, tapi tetap sambil kujilat memeknya. Dia menggeliat-geliat, kadang menyentak ke belakang saat klit-nya kuhisap atau kujilat. Kadang mengerang, menjerit, melolong, bahkan kadang kepalaku dijepit dengan kedua pahanya yg putih mulus itu.

“Ah.. ah.. ah.. err.. rr.. Aaa.. Uhh.. uuhh..” sampai akhirnya, “Ahh.. hh.. I’m comin’.. Sayyhh.. I’m comin’.. Iihh.. Ihh..”

Kerasa sekali dia mau orgasme, karena badannya mulai mengejang.

“Tapi tdk akan segampang itu, wati..! Loe bakal gue bikin penasaran..” kataku dalam hati.

Saat dia sudah hampir sampai, dia mulai menjerit-jerit.. dan.. cepat-cepat kuhentikan jilatanku dan cepat-cepat berdiri di samping ranjang. Sambil tersenyum, aku asyik melihat tubuhnya yg seksi sedang menghentak-hentak, menanti kenikmatan. Dipadu dengan suara desahnya, benar-benar tontonan yg tdk ada duanya.

Tdk lama kemudian wati tersadar kalau orgasmenya tdk akan sampai.

“Ahh.. ahh.. hh.. lho..? Lho..? Koq.. Kenapa brenti..? Kenapa brentii..?” setengah menjerit, lalu celingukan mencariku.

Setelah melihatku ada di sampingnya sambil tersenyum manis, wati benar-benar geram.

“Kamu.. Kamu.. Bener-bener jahat..!”

wati menyelipkan jari kirinya ke memeknya, menjaga supaya tetap horny rupanya.

“jhonny.., kamu bener-bener jahat..!” jeritnya.

Untung diluar masih hujan besar. Jadi jeritannya tertutup dengan suara hujan.

“Sini..! Kesini..!”

Sambil tertawa kecil aku bukannya memdeketi, tapi malah menjauh. wati jadi seperti orang penasaran. Dengan meraung seperti macan dia melompat dari ranjang, berusaha menerkamku. Tapi gagal, karena aku berhasil berkelit. Sambil tertawa, aku berusaha menghindar dari sergapannya yg dipenuhi hawa nafsu.

“Jahat..! Jahat..! Jahat..!” jeritnya sambil berusaha mengejarku.

Kami berdua seperti anak kecil yg lagi main kejar-kejaran.

Hingga akhirnya aku pura-pura mengalah dan bersedia ditangkap. Aku langsung duduk di sofa single, di samping ranjangnya. Dan dia menangkapku di situ. Tanpa ba-bi-bu lagi, wati langsung duduk berhadapan di pahaku. Bulu kemaluannya terasa lembut menyentuh pahaku, sedangkan batang kemaluanku merapat di perutnya.

“Mau lari kemana, hah..? hh..!” katanya sambil menggesek-gesekkan puting susunya ke putingku, rasanya nikmat sekali.
“Orang lagi mau ngecret koq dikerjain.. hh..? Nggak boleh, tau..!” omelnya sambil menatap tajam.

Pura-pura..,

“Ya..deh, gue salah..” kataku.

Lalu kupagut bibirnya yg basah itu. Langsung dibalas dengan ganas. wati memelukku dengan erat sambil menggesek naik turun kemaluannya ke k0ntolku.

Kemudian dia menghentikan pagutannya, lalu tersenyum licik.

“Buat orang kaya kamu, ada hukumannya.. ss..”
“Apaan..?” tantangku.
“Hukumannya..” wati meraih batang kejantananku dan langsung dimasukkan ke memeknya,
“Ngentot sampai aku puaass.. hh..!”

Begitu kalimat itu berakhir, wati langsung menggenjot k0ntolku naik turun.

Aduh, benar-benar memek yg luar biasa. Begitu ketat mencengkeram. Sementara itu, di depan wajahku terpampang payudara besar yg terguncang-guncang. Seakan memohon untuk dihisap.

“Ahh.. uhhh.., k0ntolhh kamuhh.. enak sstt ahh.. sst.. ahh..” desahnya sambil naik turun.

Aku tdk dapat menjawab, soalnya lagi asyik menenen. Tanganku mengelus-elus sekitar pantat sampai belakang memeknya, biar dia benar-benar puas.

“Ah.. ah.. terus..! Jangan berhenti Say..! Aku suka ngentot sama kamu.. hh enak.. Ayoh.. nenen yg kuat.. nenen.. nene.. aahh..!” jeritnya.

Kadang kusentak juga dari bawah, dan wati senang sekali kalau sudah begitu.

“Sentak lagi.. sentak lagi.. Aaa..! Iya.. iya.. gitu.. lagi..! Lagii..! Itil gue.. itil gue.. Ooohh..!”

Lagi asyik-asyiknya dia menggenjot k0ntolku, tiba-tiba kuberdiri sambil membopongnya. Lalu aku jalan-jalan keliling kamar sambil tetap dia mengocok k0ntolku dengan memeknya yg luar biasa. Sebagai ganti sentakan yg dia suka, aku jalannya kadang seperti orang melompat. Kan jadi sama nyentaknya. Tapi itu tdk dapat lama-lama, karena badannya lumayan berat. Jadi aku balik ke ranjang.

“Kamu di bawah ya, Say..! Aku suka di atas.. ss..” desisnya manja.
“Oche.., buat wati.. apa aja deh..!” godaku.

Tanpa banyak buang waktu, wati kembali melanjutkan goyangannya. Kadang goyangnya benar-benar maut, sampai menyentak kepalanya ke belakang. Atau kadang sambil meremas payudaranya, seperti di film-film BF. Atau kalau lagi adem, dia merebahkan kepalanya di dadaku. Sambil mengocok, seperti biasa dia suka sekali berkata kotor.

“Hhmm.., ngentot..! Hmm.., ngentot..! Ahh.. hh.. sstt.. wati seneng deh kalo lagi ngentot.. hh.. Enak kan, Say..?”
“Enakhh.. banget, wati..” lenguhku.
“Seneng khaann.. sstt..!”
“Seneng..”
“wati.. sukka.. k0ntol jhonny.. hh..”

5 menit kemudian, aku merasa akan jebol, karena k0ntolku sudah berdenyut. Rupanya wati juga begitu. Dinding memeknya mulai bergetar dan sudah basah sekali. Genjotannya pun sudah mulai mengganas, seperti saat dia mau orgasme tadi.

“Oohh.. wati.. gue mau.. keluar..”
“Aku.. juga Say.. Mau ngecret.. hh mau ngecret.. tahan yah.., kita barengan.. ss..!”

Aku berusaha supaya tdk jebol duluan, kutahan mati-mawatin. wati sudah semakin tegang, makin erat memelukku.

“Auh..! Auh..! I’m comin’ Say..! I’m comin’ Say..! Aadduhh.. K0ntol.. Jembut.. itil.. ah.. ah..!” jeritnya, makin lama makin keras.

Dan, “Terusshh.., terusshh.. don’t stop..! Don’t stop..! Aku.. Aku.. Ak.. iihh.. iihh..”

Dia orgasme sambil menjerit dan menghentak-hentak dengan ganasnya. Saat orgasme, otot memeknya betul-betul tegang dan memerah batang k0ntolku.

“wati.. wati.. ahh awas.. gue mau keluar..!”
“Biar..! Biar..! Di dalam aja.. jangan dilepass.. Aaa..!”
“Crot.. crot.. crot..!” spermaku muncrat di dalam memeknya.

Aku tdk dapat berkata apa-apa lagi, hanya bisa menerawang ke langit-langit. Menikmati orgasme. Masih ada beberapa hentakan lagi, sebelum akhirnya wati terkulai lemas di dadaku. Rambutnya yg indah itu menghampar bebas, langsung kubelai.

“Terima kasih, jhon..! Saya udah lama nggak ngerasain yg kayak gini.” dia mendesah.
“Meski kamu jarang ngomong, tapi cara kamu enak banget.”

Aku hanya dapat tersenyum saja.

Kemudian kami ke kamar mandi untuk saling membersihkan diri dan ada sedikit 1 ronde lagi yg kami mainkan di sana dengan cepat. Terus aku siap-siap untuk pulang.

“Nanti kutelepon ke Hp kamu ya..” katanya mengiringi kepulanganku.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Arisan Seks Bikin Aku Ketagihan

Dan.. maaf, aku baru terima SMS dari wati. Dia minta ketemu besok siang di PS, karena suaminya sudah berangkat tugas lagi. Ketemu di 21 katanya, sambil menemani ‘Nomat’ Enemy at the Gates. Hmm, temuin nggak ya..?

***

author