Cerita Sex: Seretnya Memek Winda

No comment 12750 views

Doyanbokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Cerita Ngentot, Sex Nyata “Cerita Sex: Seretnya Memek Sinta”, Foto Sex tante,abg,bispak,stw,pelajar hot Terbaru 2016

 

Cewek bispak
Cerita Sex: Seretnya Memek Winda

 

Ini cerita nyata dimana aku menggauli sekaligus 4 orang dalam 1 keluarga. Kisah ini terjadi pada pertengahan tahun 2007. Aku pria yg sudah berkeluarga dan waktu itu berusia 43 tahun. Tinggal dan bekerja di Jakarta.
Cerita Sex Terbaru | Pada suatu hari ketika sedang sibuk-sibuknya di kantor, datang sepucuk surat lewat perusahaan kurir yg ditujukan kepadaku dari kota asal kelahiran ku di jawa barat. Tanpa alamat pengirim. Dengan perasaan bingung campur penasaran aku buka surat itu. Surat itu ternyata dari mantan pacar (Sinta, nama samaran) cinta pertama kami berdua sewaktu SMA tahun 1981. Hampir 26 tahun yg lalu. Isinya menyatakan bahwa dia sudah menikah namun selalu teringat aku, mempunyai 3 orang anak berikut alamat lengkap dan no handphone.
Singkat cerita akhirnya kami bertelepon ria dan kenangan manispun timbul kembali. Aku berjanji jika ada libur panjang maka aku akan datang berkunjung. Ketika libur panjang datang dengan alasan yg dibuat-buat kepada istri akhirnya aku datang juga ke kota asalku. Aku sengaja tdk nginap di famili, namun di hotel. Dan pada sore itu pula aku datangi rumahnya.

Cerita Mesum | Dengan rasa penasaran karena sudah lama tdk bertemu, aku mencoba mengira-ngira wajahnya saat ini seperti apa, ya?
Perlahan ku ketuk pintu sambil berucap :
“permisi….”
” mas anto ,ya? ” sesosok wanita cantik muncul di balik pintu
“Iya” sambil aku masih menebak-nebak
” Sinta ya……..”
“Bukan, saya Fitri adiknya, masuk mas…. mbak Sinta sebentar keluar, lagi di kamar”. Kuperhatikan wanita ini mirip Sinta namun tampak lebih muda dari perkiraanku.
Dulu waktu aku pacaran memang tdk pernah bertemu dengan Fitri, karena dia ikut neneknya di Wonosari. Tak lama kemudian keluarlah Sinta. Wajahnya tampak tdk sesuai dengan bayganku, kerana memang saat itu Sinta sudah 42 tahun. Namun sisa kecantikannya masih terlihat jelas begitu pula bodynya masih terawat. Suaminya hari itu sedang mendapat tugas lembur (piket) di sebuah Rumah Sakit. Setelah basa-basi dan bernostalgia akhirnya sekitar jam 8 malam aku pamit, karena badanku letih.
Terus terang aku ingin memeluk dan menciumnya seperti dulu ketika tadi siang bertemu. Tapi karena suasana rumah tdk memungkinkan akhirnya perasaan itu terbawa sampai malam. Tdk lama aku di Hotel, tiba-tiba HPku berdering, ternyata Sinta yg telphon. Dia memaksa untuk datang mememuiku di hotel. Dengan rasa campur aduk antara senang dan galau aku mengiyakan permintaan itu. Hmmmm…… rupanya Sinta memendam keinginan yg sama, pikirku.
Kujemput dia di lobby, turun dari becak Sinta kelihatan sudah tdk sabar ingin segera berdua. Dengan segera ku bawa dia ke kamar. Benar saja…… baru juga aku menutup pintu Sinta langsung menubruk aku dengan pelukan penuh kerinduan dan air mata. Kami lama berpelukan tanpa kata-kata. Terus terang waktu pacaran dulu kami hanya sebatas berpegangan tangan. Tdk lebih.
Pelan-pelan kehangatan menjalar ditubuhku, entah siapa yg memulai akhirnya kami saling berciuman. Kurasakan kehausan dan kerakusan ketika bibir dan lidah kami saling terpaut. Lidahnya menjelajah relung mulutku. Lidahku membelai dan mengarahkan lidahnya untuk terus bergerak liar. Bersamaan dengan itu k0ntolku menegang dengan sempurna. Bukannya menghindar, Sinta malah lebih menekankan dan menggeser-geserkan pinggulnya sehingga k0ntolku smakin mengembang. Dengan penuh nafsu akhirnya kami melanjutkan aksi.
Sambil tetap bercium kutelusuri sisi tubuhnya dengan tanganku, sampai akhirnya mendarat di pantat. Kuremas kedua pantatnya dan sedikit semi sedikit kunaikan roknya, sehingga tanganku menyentuh kulit paha dan pantatnya yg halus itu. Karena aku paham bahwa kami sudah sangat bernapsu, maka tanganku kananku langsung kuselipkan dibalik celana dalamnya. Kuremas pantatnya yg masih kenyal. Sementara tangan kiriku sudah bergerak menuju payudaranya. Rupanya Sintapun sudah sangat terbakar,tangannya tdk segan-segan mengelus-elus k0ntolku dari luar. Kami tetap berciuman.
Pelan-pelan tangan kananku bergeser dari pantat menuju vaginanya. Ketika jariku mulai membelah dan menemukan clirotisnya maka saat itulah dia melepaskan ciumannya, dia mendesah dan tubuhnya sedikit bergetar. Kuusap pelah-pelan clirotisnya, kujelajahi belahan vaginanya dari bawah sampai atas. Basahnya sudah tak terbendung.
Aku merasa dia berusaha membuka resleting celanaku. Akhirnya aku lepas pelukannya, aku lepas vaginanya. Dia agak terkejut dengan perbuatanku. Kutatap sambil kupegang kedua bahunya.
” kamu yakin akan melakukan ini…..? tanyaku. Dia cuma mengangguk pelan.
” Aku sudah memimpikan ini dari dulu” lirihnya.
Akhirnya ku bimbing dia ketempat tidur. Kami berciuman kembali. Satu demi satu pakaian terlepas. Kutelusuri tubuhnya yg tdk muda lagi. Sambil tetap berciuman kubuka pahanya dan tanganku kembali menyelinap lembut pada vaginanya. Pada saat itulah tangannya mencari-cari k0ntolku. Sambil digenggam diusapnya cairan yg keluar dari k0ntolku dengan ibu jarinya. Rasanya sungguh luar biasa ketika ibu jarinya berputar-putar di ujung k0ntol.
Tak lama aku merasa bahwa k0ntolku di tarik-tarik pelan. Aku tahu dia sudah menginginkan k0ntolku dimasukan. Tapi aku ingin melihat dulu bentuk vaginanya. Maka ku lepas ciumanku dan aku turun kebawah. Sambil duduk diantara kakinya kulebarkan pelah-pelan kedua pahanya. Dan vagina itu merekah. Warna merah muncul diantara lebatnya bulu. K0ntolku makin berdenyut melihatnya.
“aku jilat ya…..” pintaku. Dia diam saja.
Maka lidahku kubenamkan diantara rimbunnya bulu dan menelusuri setiap lekuk lubang basah, hangat dan beraroma khas. Kujilat dan kuisap clirotisnya. Desahnya sudah berganti dengan erangan. Kedua tangannya mencengram lembut rambutku. Terus kumainkan lidah menelusuri lembah sampai ke dalamnya. Sementara k0ntolku terus berdenyut. Dan ketika Sinta sudah menarik-narik rambutku, maka aku paham dia sudah menginginkan k0ntolku masuk ke dalamnya.
“ah…mas, masukin sekarang mas…….” lirihnya
Pelan-pelan aku merayap di atas tubuhnya, sambil tetap menciumi perut, dada dan lehernya. Ketika akhirnya kepala k0ntolku menemukan lubang kenikmatan itu kasabaran Sinta sudah hilang. Di dekapnya aku dengan satu tangan dan tangan lain menekan pantatku sambil pantat dia diangkat ke atas. AKhirnya k0ntolku masuk dengan sempurna ke dalam vaginanya. Bukan lagi erangan yg aku dengar tapi berubah menjadi teriakan tanpa suara.
Malam itu kami menemukan kebahagian dan kenikmatan yg luar biasa. Kami saling menjelajahi tubuh dengan mata, bibir dan lidah. Saling pijat dengan tangan dan kemaluan kami.
Berminggu-mginggu kemudian kami rutin ke hotel. Baik di kota asalku atau di Jakarta. Dan yg mengherankan aku adalah suaminya “merestui” hubungan kami. Belakangan aku tahu bahwa suaminya sudah lama tdk berfungsi.
Pada sekitar bulan ke 4 hubungan kami, sesuai dengan janji aku datang lagi ke rumahnya. Ku ketuk pintu seperti biasa.
” silahkan masuk, mas. ” kudengar bukan suara Sinta, tapi suara Fitri. Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu.
” mbak Sinta nya lagi arisan mas, tunggu dulu aja ya.” kata Fitri sambil pergi. Akupun mengiyakan.
Tak lama kemudian dia muncul lagi dengan membawa teh hangat.
” minum mas” kata Fitri. Aku pikir dia akan masuk kedalam lagi tapi ternyata duduk di hadapanku menemaniku ngobrol.
Kami ngobrol biasa, aku sama sekali tdk menggoda. Dan dari obrolan itulah aku tahu bahwa dia dulu nikah usia muda dan sekarang sudah menjanda selama 4 tahun dengan 2 0rang anak perempuan berusia 22 dan 19 tahun. Tdk berapa lama kami mengobrol basa-basi tiba-tiba Fitri bertanya:
” jakartanya di mana mas?” kusebutkan satu daerah di jakarta selatan.
“kalau sunter di daerah mana mas? tanya Fitri kembali.
“emang ada apa?” balasku bertanya.
“minggu depan saya ada undangan teman dekatku menikahkan anaknya, di sunter” ujarnya.
” oh…ya kalau kamu belum tahu daerahnya nanti saya antar deh, tinggal kasih tahu kapan berangkatnya, nanti saya jemput di statsiun gambir.” kataku.
Fitri tampak ragu-ragu menerima tawaranku.
“aku nggak enak sama mbak Sinta” katanya.
“ya jangan kasih tahu mbak Sinta” kataku.
Akhirnya dengan sedikit ragu Fitri mengiyakan tawaranku. Dan untuk memperlancar urusan kami saling bertukar nomor handphone. Tak lama kemudian datanglah 2 cewek cantik menerobos masuk. Fitri langsung mengenalkan mereka padaku.
” ini anak-anakku. yg besar Yani dan adiknya Indah” katanya. Aku hanya terpana melihat kemolekan mereka. Setelah bersalaman merekapun masuk ke dalam.
Tdk lama kemudia Sinta datang bersama suaminya.
Singkat cerita malam itu saya dan Sinta kembali bertempur di hotel sampai terasa lolos tulang-tulangku. Besoknya ketika aku pulang menggunakan kereta, masuk SMS dari Fitri berbunyi : ” Mas, smalam diapain mbakku? hari ini keliatannya lemes banget tapi wajahnya cerah…”
Kubalas SMSnya dengan bahasa yg agak vulgar
” Ku jilat dari atas sampai bawah, yg paling lama di tengah2. main 3 ronde, mas juga lemes”. Seketika itu juga datang balasannya
” Enak dong”. Lalu ku balas
” Mau nggak?”. Tak ada balasan lagi.
Terus terang semenjak saat itu yg selalu lebih terkenang di benakku adalah Fitri bukan Sinta. Kami lebih sering SMS an, aku sengaja memancing dengan bahasa yg “nyerempet-nyrempet.”, namun Fitri menanggapi dengan dingin saja.
Pada waktu yg telah ditentukan dengan perasaan berbunga dan dengan rencana “jahat” di otakku, aku jemput Fitri di Stasiun Gambir. Namun rencanaku terasa berantakan seketika. Ternyata Fitri datang dengan anak sulungnya, Yani. Entah perasaanku saja atau memang nyata demikian, aku melihat kerinduan di mata Fitri ketika dia melihatku. Kami bersalaman dan langsung berangkat menuju salah satu daerah di Sunter.
Ternyata rumah kerabat Fitri berada di daerah padat penduduk. Rumah kecil di gang kecil. Karena suasana mau pesta, maka rumah kecil itu semakin sesak dengan famili dan kerabat yg lain. Aku melihat keraguan di mata Fitri ketika ditawari menginap di situ.
“tidurnya gimana ini?” lirih Yani yg sempat aku dengar.
Akhirnya aku berinisitif menawarkan hotel yg dekat lokasi itu. Merekapun mau. “Ini kesempatan” pikirku. Selama dalam perjalanan aku menyusun lagi strategi agar malam itu aku bisa menikmati Fitri. K0ntolkuku sudah tegang sejak memikirkan itu.
Ketika di hotel aku pesan 2 kamar. Fitri dan Yani terlihat heran.
“Lho, kami satu kamar berdua aja, ga usah masing-masing satu kamar” ujar Fitri.
“Ini buat aku, lagi malas pulang” kataku.
Menjelang sore kami sudah masuk kamar masing-masing. Selama itu pula aku masih bingung memikirkan rencana “jahat” ku. Namun yg namanya setan sungguh tahu kehendaku. Selepas magrib pintuku di ketuk Yani.
” Om, Yani pamit dulu sebentar, ini teman Yani jemput” katanya sambil mengenalkanku pada seorang cewek sebayanya. Rupanya Yani janjian dengan seseorang.
” kemana?” tanyaku.
” Mau ke Salemba, om. kerumah teman” jawabnya.
Hatikupun bersorak.
” nginap aja sekalian” dalam hati.
Nggak lama aku SMS Fitri, ” Lagi ngapain nih? aku lagi bengong ga da teman ngobrol” Nggak ada jawaban sampai 30 menit. Cemas aku menduga-duga. Tak lama kemudian pintuku di ketuk. Kulihat Fitri berdiri depan pintu dengan menggunakan pakaian santai. Kaos dan celana selutut. Kupersilahkan dia masuk, dengan ragu-ragu dia melangkah dan duduk di kursi rias. Setelah sedikit berbasa basi aku melancarkan serangan.
” kamu masih cantik dan bodymu juga masih OK, kenapa ga nikah lagi?” tanyaku.
“aku masih senang sendiri, takut nikah nanti cerai lagi…..” jawabnya.
“tapi kan kamu masih muda, masih punya bebutuhan khusus yg harus dipenuhi” sambungku.
Dia menunduk, paham maksudku. Kutunggu jawabannya beberapa saat. Sebelum dia sempat menjawab aku sudah menyentuh pundaknya dari belakang. Dia nampak terkejut tapi juga tdk menampik. Kugeser perlahan tanganku ke pipinya, saat itulah dia menampik tanganku. Aku bukannya berhenti malah ku genggam pergelangan tangannya, kutarik dia untuk berdiri. Dengan perasaan yg masih bingung ku cium dia di bibirnya. Berontak dia. Kucengkram rambut dan kepalanya agar dia tdk berontak dan melepas ciumanku.
Beberapa saat kemudian aku merasa lengannya melinggkar di pinggangku, saat itulah kulepas cengkraman dirambutnya. Dia mulai membalas liarnya lidahku. Tanpa buang waktu tanganku sudah menelusuri dadanya sampai akhirnya berlabuh di vaginanya. Dan malam itu kami sempat bercinta 2 babak sampai pintu di ketuk dari luar. Tok….tok….tok. Kami semua terkejut dan terperangah. Yani sudah pulang. Kulihat jam di dinding 22.20. Dengan terburu-buru Fitri mengenakan baju, begitupun aku. Tak lama kemudia Fitri keluar.
Besoknya aku melihat perubahan di wajah Yani. Ia yg tadinya ramah mendadak menjadi sangar melihatku. Tak mau bicara baik ke ibunya apalagi ke aku. Rupanya ia tahu apa yg sudah kami perbuat. Sekitar jam 9 saya antar mereka menuju tempat pesta dan siangnya saya antar kembali mereka ke Stasiun Gambir, pulang ke kota asal.
Satu minggu kemudian aku kembali datang ke kota kecil itu. Terus terang aku lebih menginginkan Fitri daripada Sinta. Maka yg pertama aku hubungi adalah Fitri. Dan malam itu saya menghabiskan waktu di hotel dengan Fitri. Besoknya di hotel lain saya berduaan dengan Sinta. Begitu terus setiap 2 minggu sampai kurang lebih 3 bulan aku menikmati pelayanan dengan 2 gaya dari kakak-adik.
Pada suatu saat ketika saya sedang di kantor di Jakarta, masuk no telphon yg tdk aku kenal.
” hallo….” jawabku. “Om…..” ku dengar suara ragu-ragu. Aku kemudian sadar bahwa ini suara Yani.
” ada apa Yan?” tanyaku setelah berbasa basi.
” tolong Yani, Om. Yani ada di jakarta tapi Yani kena razia narkoba. Sekarang ada di Polsek Jakarta ………” jawabnya sambil menyebutkan satu wilayah jakarta.
Sorenya aku kunjungi Yani. Dia nampak lelah namun tdk terlihat cemas. 3 hari Yani di tahan. Dan selama itu pula aku yg mensuplai makanan dan baju-baju. Pada hari ke 4 Yani di bebaskan karena tdk terbukti. Sedangkan temannya terus ditahan karena terbukti. Aku bingung Yani mau dibawa ke mana. Ke rumahku jelas ga mungkin. Akhirnya aku cari hotel dekat rumah. Setelah aku ajak makan di hotel itu aku terus pulang, sedangkan Yani langsung masuk kamar.
Jam 8 malam itu aku coba telphon Yani untuk sekedar menanyakan kabar.
“Om, Yani perlu obat maag sama sikat gigi” katanya.
” Oke, ntar Om antar” jawabku.
Dalam perjalanan ke hotel itulah pikiran kotorku muncul. Ketika aku mengetuk pintu Yani hanya melongokan kepalanya di pintu. Dia nampak ragu-ragu mempersilahkan aku masuk ke dalam.
” Boleh Om masuk?. Om mau ngobrol sebentar ngomongin soal hubungan om dan mamahmu”. Akhirnya aku dipersilahkan masuk. Dan saat itulah aku dihadapkan pada pemandangan yg luar biasa.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex : Semalam Bersama Lizah

Yani hanya mengenakan tangtop tanpa BH dan celana jins pendek sekali hampir pangkal paha. Payudaranya menggelembung dengan sehat, pentilnya samar-samar menonjol keluar. Rupanya dia sadar aku memperhatikan dan cepat-cepat menutupnya dengan selimut.
” Yani…..om mohon jangan di tutupi.
Kamu punya tubuh luar biasa indah sayg kalo tdk ada yg menkmati” kataku langsung. Merah padam mukanya mendengarku berkata begitu. Antara malu dan marah menjadi satu. Tapi setan sudah terlanjur menguasaiku. Dengan segala rayuan dan bujukan akhirnya Yani mau melepaskan selimutnya.
” Boleh aku sentuh Yan? di luarnya aja…….” pintaku. Yani langsung menolak sambil menyilangkan tangannnya di dada. Juga dengan rayuan dan bujukan akhirnya aku di ijinkan memegang putingnya dari luar.
Sambil kami duduk di sisi tempat tidur, aku mulai menyentuh putingnya. Dia tdk bereaksi dengan wajah menoleh jauh. Ku sentuh lagi putingnya yg sebelah kanan. Masih belum bereaksi juga. Ketika aku pilin putingnya dengan kedua jariku, mulailah ia sedikit menggelinjang dan kulihat putingnya mulai tegang. Kuputar jariku di kedua putingnya, semakin jelaslah tonjolan di kaosnya. Aku sudah tak tahan ini menyelusupkan tanganku ke balik tangtopnya.
Namun tanganku di cegah ketika baru sampai perut. sementara tangan kiriku masih bergerilya di luar kaos tangan kananku mulai naik perlahan dari perut. Aku merasakan pegangan tangan dia mengendur, akhirnya sampailah tanganku kepuncak bukit kenikmatan dengan bebas. Ketika kudengar suara rintihan halus, pada saat itulah aku yakin bahwa permainan ini bisa sampai tuntas. Maka mulaikah aku meremas, menjilat dan meghisap putingnya, perutnya, clirotisnya dengan lembut.
Dan malam itu aku mendapatkan segalanya. Walaupun Yani sudah tdk perawan, namun dia masih merasa sakit ketika k0ntolku masuk ke vaginanya. Karena k0ntolku adalah yg kedua kalinya masuk vaginanya setelah dia melakukan yg pertama dengan pacarnya 2 tahun yg lalu. Malam itu kami tdk tidur, aku mengajari teori dan praktek bercinta pada Yani. Selain memberikan pengertian bahwa hubunganku dengan ibunya adalah sebatas memenuhi kebutuhan sex.
Singkat cerita hari-hari selanjutnya aku disibukan oleh SMS dan deringan HP dari mereka bertiga Sinta, Fitri dan Yani. Ketika aku pulang ke kotaku, maka ku gauli ketiganya dengan cara digilir dengan jadwal yg tersusun rapi sehinga tdk terjadi “tabrakan”.
Orang ke empat yg aku gauli sebenarnya bukan anggota keluarga Sinta, tapi calon anggota keluarga. Sebut saja namanya Nancy. Ia adalah pacar dari anaknya Sinta yg bernama Roy. Kisahnya bermula dari kunjunganku ke rumah Sinta. Pada saat itu tiba-tiba aku mendapatkan telephon dari kantor di Jakarta. Dikatakan aku harus menghubungi Mr.X. No HP Mr.X ini ternyata CDMA. Karena perkiraanku pembicaraan akan panjang maka aku meminjam HP anaknya Sinta (bernama Roy) yg kebetulan juga CDMA. Maka sore itu atas ijin Roy aku pinjam sampai besok CDMA nya.
Malam hari ketika aku sedang makan di luar, tiba-tiba HP Roy berbunyi.
” Hallo” Jawabku. Aku sudah siap-siap mendengar suara Mr. X. Namun ternyata yg kudengar suara merdu seorang perempuan.
” Hallo juga, ini siapa?” jawabnya ragu-ragu. Setelah saling bertanya baru aku tahu kalau yg telephon itu adalah tunangan Roy. Aku menjelaskan bahwa malam itu HP Roy aku pinjam. Dengan segala caraku akhirnya kami berkenalan, bahkan ngobrol sampai panjang lebar. Rupanya obrolan kami nyambung sehingga kami berjanji akan saling menelephon lagi.
Singkat kata Nancy rupanya tipe orang yg penasaran akan sex namun takut untuk melakukannya. Dengan Roy hanya sebatas bercumbu tdk mau lebih dari itu. Karena dia sadar bahwa dia mudah “panas” maka bercumbu dengan Roy hanya sebatas dada. Dia ingin lebih dari itu tapi takut kebablasan, katanya.
Nancy banyak bertanya kepadaku soal Sex, sampai akhirnya kami ber Phone sex. Namun lama-lama kami berdua penasaran juga. Akhirnya dengan suatu perjanjian aku bisa membawa Nancy ke hotel. Perjanjian itu adalah: aku boleh mengeksplorasi tubuh dia dan saling memberi kenikmatan namun aku tdk boleh memasukan k0ntolku ke vaginanya. Dia masih perawan!!. Ketika kutanyakan mengapa dengan aku, bukan dengan Roy?. Jawabnya adalah : Dia tdk yakin Roy mampu menahan k0ntolnya masuk ke vaginanya. Komitmen itu aku pegang teguh.
Ternyata dugaanku dan dugaan dia benar. Nancy sangat mudah terbakar. Ketika aku cium, bibirnya seolah magnet. langsung terpaut dengan bibirku, Tak mau lepas. Seolah kami sudah mengenal sejak lama, kami langsung melepaskan seluruh pakaian .
Ketika aku akan melepaskan CDnya, kulihat bulatan basah sudah terpampang diCDnya. Kujilati seluruh tubuhnya, dia hanya bisa mendesah dan merintih. Kujilati pula clirotisnya, kujelajahi seluruh lekukan vaginanya dengan lidahku. Kutempelkan kepala k0ntol ku ke lubang vaginanya, ke clirotisnya. Ku usap-usap clirotisnya dengan kepala k0ntolku. Ku lihat ia beberapa kali orgasme. Hari itu aku berpesta dengan tubuhnya. Tapi aku tdk memasukan k0ntolku ke vaginanya!!!.
Spermaku keluar dengan cara di kocok dengan tangan atau payudaranya. Bulan Maret 2010 kemarin Nancy sudah berani mengeluarkan spermaku di dalam mulutnya. Dia berjanji jika sudah menikah, kami akan selalu bertemu untuk menuntaskan rasa yg tertunda.
Begitulah kisah nyataku aku tulis, kejadian ini sudah berlangsung 4 tahun. Dan sampai aku menulis kisah ini aku masih menjalin hubungan dengan mereka semua.
***
Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa, Cerita Sex Terbaru, Cerita Ngentot, Sex Nyata “Cerita Sex: Memek Seret Sinta”, Foto Sex tante,abg,bispak,stw,pelajar hot Terbaru 2016

author