Cerita Sex: Tragedi Tasya Dengan Tukang Sapu

No comment 2391 views

Jagobokep.com – Cersex artikel dewasa khususnya Cerita Sex, Pesta Sex, Cerita Dewasa – Cerita Sex Terbaru | Saat itu adalah jam 1 siang di basement parkir, Tasya baru saja melemparkan tas dan diktat kuliahnya ke dalam mobil dan hendak masuk ke kemudi ketika terdengar Redi, si penjaga kampus itu muncul dan menyapanya dari belakang.

13754690_1219789824706720_2122573673901193958_n

“Siang Non !! Sudah mau pulang ya !” sapanya dengan suara pelan
“Haduuhh…ngagetin aja bapak ini, ada apa sih Pak !” jawabnya agak ketus sambil mengelus dada.
“Hehehehe…anu non, bapak cuma mau ngasih liat sesuatu buat non yg sepertinya penting” jawabnya dengan terkekeh.
“Apaan sih Pak, cepetan deh saya mau pulang nih !”
Redi pun mengeluarkan HP-nya dan memperlihatkan file-file gambar itu kepada Tasya. Betapa kagetnya gadis itu, ekspresi wajahnya seperti melihat setan, pucat dengan mulut ternganga begitu melihat gambar pertama yg ditunjukkan yaitu dirinya sedang mengulum k0ntol Leo kemarin sore, disusul gambar-gambar berikutnya yg semua berisi adegan syur dirinya bersama kekasihnya itu.
“A-a-apa-apaan ini Pak, apa…apa maksudnya semua ini !?” tanyanya terbata-bata dengan ekspresi kebingungan bercampur kaget.

LIHAT JUGA :  Cerita Sex: Senandung Pantai Yang Sunyi

“Hehehe…bagus yah non ? kalo saya cetak fotonya gimana non ?” wajah Redi menyeringai mesum
“Kurang ajar, apa sebenernya mau Bapak ?” Tasya menjadi geram sehingga hampir berteriak, keringat mulai menetes di dahinya.
“Ssttt…ssssttt…jangan keras-keras dong non, nanti yg lain denger gimana” Redi mengacungkan telunjuk di depan hidungnya dengan tetap cengengesan,
“nah, gimana kalau kita bicarakan di gudang sana aja deh, biar lebih enak !” katanya lagi dengan pandangan ke arah sebuah pintu di salah satu pojok basement itu.
Tasya tdk bisa berkata-kata lagi, jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya panas dingin, namun karena tdk ada jalan lain dia terpaksa mengikuti saja Redi yg terlebih dahulu berjalan ke ruang itu.
Ruang itu tdk begitu besar, diterangi lampu neon 10 watt, sebuah tangga lipat tersandar di dinding diantara setumpuk barang bekas, juga terdapat sebuah rak yg berisi kaleng-kaleng cat, tiner, dan macam-macam peralatan. Setelah keduanya masuk, Redi menyalakan lampu dan menggeser slot pintu membuatnya terkunci dari dalam. Tasya begitu terkejut dan tersentak kaget begitu merasakan pantatnya diraba dari belakang, dia langsung berbalik dan menepis tangan Redi.
“Ahhh…kurang ajar, jangan keterlaluan ya Pak !!” bentaknya marah
“Ahahaha…ayolah Non, kemarin juga Non nafsu banget kan ?” seringainya “lagian apa Non punya pilihan lain buat ngejaga rahasia ini” mimiknya mulai serius.
“Ok…ok Pak, gimana kalau Bapak bilang aja mau berapa, pasti saya kasih” Tasya sudah demikian panik sampai-sampai suaranya gemetaran.
“Ooohh…uang, dasar orang kaya, saya selama kerja disini ngerasa cukup-cukup aja kok Non, tanpa anak istri yg perlu dibiayai, yg susah didapat itu ya kesempatan untuk mencicipi cewek seperti Non ini” sambil menatapnya dalam.
Tasya benar-benar kehabisan akal, dia tdk tahu harus bagaimana lagi. Dia merasa jijik untuk melayani lelaki yg seumuran ayahnya ini yg juga dari status dan ras yg berbeda, tapi nampaknya tdk ada pilihan lain untuk menutupi skandalnya ini, jangankan foto, beritanya yg tersebar saja sudah cukup membuatnya jadi bahan gunjingan sekampus, kedua tangannya terkepal keras menahan emosi.
“Sekarang ya terserah Non aja, bapak ga mau maksa kok, kalo non ga mau silakan pergi, kalau setuju silakan non duduk disini biar kita bisa berunding lagi”kata Redi sambil mengambil kursi lipat yg lapisan kulitnya telah sobek, dibentangkannya kursi itu di dekat Tasya yg masih tertegun.
Akhirnya dengan berat hati, Tasya pun menghempaskan pantatnya ke kursi itu.
“Nah gitu dong baru anak manis, pokoknya asal Non nurut, saya jain rahasia ini aman”
Kemudian Redi membuka resulting celananya dan menyembullah k0ntol yg sudah mengeras itu di depan wajah Tasya. Matanya melotot melihat k0ntolnya yg hitam berurat dengan ujungnya disunat menyerupai jamur serta jauh lebih besar daripada milik kekasihnya.
“Gede kan Non, pasti punya pacar Non ga segede gini kan !” katanya dengan bangga memamerkan senjatanya itu. “Nah, ayo Non sekarang servisnya mana !”
Dengan tangan gemetar, dia mulai meraih k0ntol itu dan mengocoknya pelan.
“Servis mulutnya mana Non, masa cuma tangan doang sih !” suruhnya tak sabar
Pelan-pelan, Tasya memajukan wajahnya sambil memandangnya jijik, dia melanjutkan kocokannya sambil menyapukan lidahnya pada kepala k0ntol itu dengan ragu-ragu, sehingga Redi jadi gusar.
“Heh, apa-apaan sih, disuruh pake mulut malah cuma pake lidah disentil-sentil gitu !” bentaknya
“gini nih yg namanya pake mulut !” seraya menjambak kuncir rambut Tasya dan menjejalkan k0ntolnya ke dalam mulutnya.
“Mmmhhppphh…!!” hanya itu yg keluar dari mulut Tasya yg telah dijejali k0ntol, air mata menetes dari sudut matanya.
Mulut Tasya yg mungil itu membuatnya tdk bisa menampung seluruh batang itu, ditambah lagi bau yg keluar dari benda itu menambah siksaannya.
“Ayo, yg bener nyepongnya, kemaren kan hebat ke pacarnya, kalau gak muasin rahasianya ga Bapak jamin loh !”
Redi mendesah merasakan belaian lidah Tasya pada k0ntolnya serta kehangatan yg diberikan oleh ludah dan mulutnya. Pertama kalinya sejak dipenjara belasan tahun yg lalu dia kembali menikmati kehangatan tubuh wanita. Tasya sendiri walaupun merasa jijik dan kotor, tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
“Uuhhh…gitu Non, enak…mmmm !” gumamnya sambil memegangi kepala Tasya dan memaju-mundurkan pinggulnya.
Tasya merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Redi yg berbulu lebat itu, k0ntol di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Redi menekan kepalanya sambil melenguh panjang.
“Ooohh…keluar nih Non, isep…awas kalo dimuntahin, sekalian bersihin kontolnya !” perintahnya dengan nafas memburu.
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tdk mau, Tasya harus menelannya, rasanya yg asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Tasya langsung terbatuk-batuk begitu Redi mencabut k0ntol itu dari mulutnya. Nafasnya terengah-engah mencari udara segar, air mata telah mengalir membasahi wajah cantiknya.
“Sudah…cukup ya Pak, saya mohon lepaskan saya !” Tasya memohon.
“Cukup apanya Non, baru juga pemanasannya, pokoknya dijamin puas deh Non !” ujar Redi sambil berjongkok di depannya, tangannya meraih ujung baju Tasya hendak menyingkapnya.
“Jangan…jangan Pak, saya mohon !” ucapnya mengiba sambil menahan tangan Redi yg akan menaikkan bajunya.
Namun tenaganya tentu saja kalah dari pria setengah baya itu yg menepis tangannya dan langung menyingkap kaos sekaligus bra hitam di baliknya. Kini mulut Redi dengan rakus menjilat dan menyedot puting Tasya yg merah dadu itu, setelah beberapa saat tangannya yg menggeraygi payudara yg lain mulai turun ke bawah mengelus paha mulusnya lalu menyusup masuk ke roknya. Di dalam rok, tangan kasar itu menjejahi kemulusan paha dalam Tasya sebelum akhirnya menjamah selangkangannya yg masih tertutup celana dalam.
Tasya hanya bisa pasrah menerima perlakuan itu, dia mendesah dan sesekali terisak saat tangan itu mulai meraba-raba kemaluannya dari luar. Rasa geli membuatnya mengatupkan kedua belah pahanya sehingga tangan Redi terjepit diantara kemulusan kulitnya. Hal ini membuatnya semakin bernafsu, dia mulai menyusupkan jari-jarinya melalui pinggiran celana dalam itu dan menyentuh bibir memeknya yg telah becek.
“Hehehe…nangis-nangis tapi ikut konak juga !” ejeknya sambil nyengir lebar ketika merasakan daerah kewanitaan Tasya yg basah itu.
Kemudian dengan mengaitkan dua jari, ditariknya lepas celana dalamnya yg juga warna hitam itu, lalu diangkatnya juga roknya sehingga kini angin menerpa tubuh bagian bawah yg telah terbuka itu.
“Buka kakinya Non !” perintahnya pada Tasya yg merapatkan pahanya dengan rasa malu yg mendalam.
“Buka ga…atau fotonya saya sebarin !” katanya lagi dengan lebih keras.
Dengan amat terpaksa, Tasya mulai membuka pahanya perlahan-lahan memperlihatkan kemaluannya yg berbulu cukup lebat kepada Redi yg berjongkok di depannya. Dia menggigit bibir dan memejamkan mata, tak pernah terbayang olehnya akan melakukan hal ini di depan lelaki seperti itu. seksigo
“Wah…udah lama sekali Bapak gak ngerasain yg satu ini !” katanya sambil menatapi daerah pribadi itu dan mengelusnya.
Tak lama kemudian Redi pun melumat memeknya dengan ganas, diserangnya setiap sudut memek itu mulai dari bibir hingga klitorisnya disertai gigitan-gigitan kecil, tangan kanannya meraih payudaranya dan meremasinya, sedangkan yg kiri menelusuri kemulusan pahanya.
“Uh…uhh…jangan…sudah, ahhh… !” desah Tasya dengan tubuh menggeliat-geliat menahan rasa geli yg bercampur nikmat luar biasa itu, suatu perasaan yg tdk bisa ditahannya lagi.
Tubuh Tasya telah basah oleh keringat, wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu. Mendadak dia merasakan bulu kuduknya merinding semua, secara reflek dia merapatkan kedua pahanya mengapit kepala Redi karena sebuah sensasi dahsyat, ternyata Redi membenamkan lidahnya pada bagian yg lebih dalam dari memeknya, dia merasakan dinding memeknya menjepit lidah Redi.
Selain itu dia juga merasakan putingnya makin mengeras karena terus dipilin dan dipencet-pencet oleh Redi. Puas bermain-main dengan memek itu, Redi mengangkat tubuh Tasya bangkit berdiri, kini posisi mereka berhadap-hadapan. Tanpa perlawanan berarti Redi melucuti kaos dan bra-nya. Yg tersisa di tubuhnya tinggal rok yg telah tersingkap ke atas dan sepatu haknya, sementara Redi masih memakai kaos dan seragam karyawannya yg kancingnya terbuka sebagian tetapi tanpa celana. Diangkatnya wajah Tasya yg tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yg mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil itu dengan ganas.
Mata gadis itu membelakak menerima serangan kilat itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Redi, namun sia-sia karena Redi memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Lidahnya mendorong-dorong dan menjilati bibirnya, ditambah lagi tangannya merabai kulit punggung dan pantatnya menyebabkan Tasya makin terangsang sehingga bibirnya mulai membuka membiarkan lidah Redi masuk menyerbu rongga mulutnya.
Beberapa saat kemudian Redi merasakan badan Tasya sudah lebih rileks dan tdk meronta lagi, maka diapun melepaskan pegangannya pada kepala Tasya agar bisa menjamah daerah lainnya. Tanpa sadar. Tasya pun merespon permainan lidah Redi walaupun awalnya bau mulut Redi terasa tak nyaman baginya, sekalipun nuraninya mengatakan tdk, dia tdk bisa menahan gelombang birahi yg menerpanya, terlebih saat itu tangan Redi sedang menggeraygi segenap penjuru tubuhnya.
Kedua telapak tangan kasar itu berhenti di pantatnya dan masing-masing mencaplok satu sisi. Dirasakannya kedua bongkahan daging itu, bentuknya padat berisi dan bulat indah karena memang sebagai anak dari kalangan berada, Tasya merawat benar tubuhnya dengan fitness dan diet. Ciuman Redi makin merambat turun ke leher jenjangnya lalu dia membungkukkan badan agar bisa menciumi payudaranya.
Tasya sudah tdk bisa menahan diri lagi, birahi telah membuyarkan akal sehatnya. Lagipula yg pernah menikmati tubuhnya bukan cuma bajingan tua ini dan Leo, kekasihnya, sebelumnya dirinya pernah terlibat one night stand dengan beberapa pria dan juga mantan pacarnya semasa SMA, yg membedakannya dengan pria-pria lain cuma status sosial, ras, dan perbedaan usia yg mencolok. Jadi untuk apa lagi menahan diri dan jaga image, toh sudah telanjur basah, jadi sebaiknya tuntaskan saja agar masalah selesai, demikian yg terlintas di benaknya.
Dari leher mulut Redi turun lagi ke dadanya, dia membungkuk agar bisa menyusu dari payudara berukuran 32B yg montok itu. Dijilatinya dengan liar hingga permukaan payudara itu basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti putingnya memberikan sensasi tersendiri bagi Tasya. Tangan satunya turun meraba-raba kemaluannya dan memainkan jarinya disitu menyebabkan daerah itu makin berlendir.
“Pak…Pak…ga mau…ahh-ah !” desahnya antara menolak dan menerima.
Sambil terus memainkan jarinya Redi mendorong tubuh Tasya hingga punggungnya bersandar di tembok. Sekali lagi dia menyergap bibir Tasya, sambil berciuman tangannya menempelkan kepala k0ntolnya ke bibir memek Tasya. Gesekan kepala k0ntol dengan bibir memek itu membuat Tasya merasa geli sehingga tubuhnya menggelinjang. Lalu pelan-pelan Redi menekan k0ntolnya ke liang senggama Tasya.
“Sshhh…sakit, aawhhh…!!” rintih Tasya ketika k0ntol Redi yg besar itu menerobos memeknya.
Tasya meringis dan merintih menahan rasa sakit pada memeknya, meskipun sudah tdk perawan tapi kemaluannya masih sempit, lagipula k0ntol para pria yg pernah kencan dengannya tdk ada yg sebesar ini. Sementara Redi terus berusaha memasukkan senjatanya sambil melenguh-lenguh. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh k0ntol itu ke memeknya, walaupun nafsu sudah di ubun-ubun, Redi masih berhati-hati agar korbannya tdk menjerit dan suaranya terdengar keluar, maka itu dia lebih memilih pelan-pelan daripada memakai sodokan mautnya untuk melakukan penetrasi. Saat itu airmata Tasya meleleh lagi merasakan sakit pada memeknya.
“Huhh…masuk juga akhirnya, memeknya seret banget Non, Bapak suka yg kaya gini” katanya dekat telinga Tasya.
Sesaat kemudian, Redi sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Tasya benar-benar tdk kuasa menahan erangan setiap kali Redi k0ntol Redi menghujam sambil berharap tdk ada orang lewat yg mendengar suara persenggamaan mereka. Saat itu adalah hari Sabtu, jam-jam seperti ini memang kegiatan kuliah sRedikit sehingga yg parkir di basement itu pun tak banyak, tapi tdk menutup kemungkinan kalau seseorang lewat situ dan mengetahui yg terjadi di ruang ini.
Gesekan demi gesekan yg timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yg menjalari seluruh tubuh Tasya sehingga matanya membeliak-beliak dan mulutnya mengap-mengap mengeluarkan rintihan. Redi lalu mengangkat paha kirinya sepinggang agar bisa mengelusi paha dan pantat Tasya sambil terus menggenjot.
Menit demi menit berlalu, Redi masih bersemangat menggenjot Tasya. Sementara Tasya sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tdk terlihat sebagai seseorang yg sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah bajingan tua itu. Kemudian tanpa melepas k0ntolnya, dia mengangkat paha Tasya yg satunya dan digendongnya menuju kursi dimana dia mendaratkan pantatnya.
Anehnya, tanpa disuruh, Tasya memacu dan menggoyangkan pinggulnya pada pangkuan Redi karena kini bukan lagi pikiran dan perasaannya yg bekerja melainkan naluri seksnya. Ketika memandang ke depan, dilihatnya wajah tua gelap pria itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kemenangan karena telah berhasil menaklukkan korbannya. Dengan posisi demikian, Redi dapat mengenyot payudara Tasya sambil menikmati goyangan pinggulnya. Kedua tangannya meraih sepasang gunung kembar itu, mulutnya lalu mencium dan mengisap putingnya secara bergantian.
Remasan dan gigitannya yg terkadang kasar menyebabkan Tasya merintih kesakitan. Namun dia merasakan sesuatu yg lain dari persenggamaan ini, lain dari yg dia dapat dengan pria lain yg pernah bercinta dengannya yg umumnya bersikap gentle, gaya bercinta Redi yg barbar justru menciptakan sensasi yg khas baginya yg belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Di ambang klimaks, tanpa sadar Tasya memeluki Redi dan dibalas dengan pagutan di mulutnya.
Mereka berpagutan sampai Tasya mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkram erat-erat lengan kokoh Redi. Sungguh dahsyat orgasme pertama yg didapatnya, namun ironisnya hal itu bukan dia dapat dari kekasihnya melainkan dari seorang pria mesum yg memanfaatkan situasi tdk menguntungkan ini. Setelah dua menitan tubuhnya kembali melemas dan bersandar dalam pelukan Redi.
K0ntol Redi yg masih menancap di memeknya belumlah terpuaskan, maka setelah jeda beberapa menit dia bangkit sehingga k0ntol itu terlepas dari tempatnya menancap. Tasya yg belum pulih sepenuhnya disuruhnya menungging dengan tangan bertumpu pada kepala kursi.
“Oohh…udah dong Pak, saya sudah gak kuat, tolong !” Tasya memelas dengan lirih
Mendengar itu, Redi cuma nyengir saja, dia merenggangkan kedua paha Tasya dan menempelkan k0ntolnya pada bibir kemaluannya.
“Uugghh…oohh !” desah Tasya dengan mencengkram sandaran kursi dengan kuat saat k0ntol itu kembali melesak ke dalam memeknya.
Tangannya memegang dan meremas pantatnya sambil menyodok-nyodokkan k0ntolnya, cairan yg sudah membanjir dari memek Tasya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali k0ntol itu menghujam. Suara desahan Tasya membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Tasya dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan tubuh sintal itu.
15 menit lamanya Redi menyetubuhinya dalam posisi demikian, seluruh bagian tubuh Tasya tdk ada yg lepas dari jamahannya. Sekalipun merasa pRedih dan ngilu oleh cara Redi yg barbar, namun Tasya tak bisa menygkal dia juga merasakan nikmat yg sulit dilukiskan yg tdk dia dapatkan dari pacarnya.
Akhirnya, Redi menggeram dan merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya, k0ntolnya dia tekan lebih dalam ke dalam memek Tasya, serangannya juga makin gencar sehingga Tasya dibuatnya berkelejotan dan merintih. Kemudian dia melepaskan k0ntolnya dan crot…croot…croot, spermanya muncrat membasahi pantat Tasya.
Belum cukup sampai situ, disuruhnya Tasya menjilati k0ntolnya hingga bersih, setelahnya barulah dia merasa puas dan memakai kembali celananya. Tasya bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepala dan lengannya pada kursi itu, wajahnya tampak lesu berkeringat dan bekas air mata, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yg sensasional ini dan rasa benci pada pria yg baru saja memperkosanya.
Redi mendekatinya dan berjongkok, lalu berkata

LIHAT JUGA :  Cerita Sex Dewasa : Desi Tetangga Selingkuhanku

“Nah sekarang rahasia Non aman, tapi Non juga harus pastikan cuma kita berdua yg tau yg terjadi barusan kalau tdk, foto-foto Non ini akan saya kirim ke sembarang orang atau mungkin akan terpajang di papan penguman, ngerti !”
Setelah Tasya berpakaian kembali, dia menyuruhnya pergi setelah memastikan keadaan sekitar situ aman. Dalam perjalanan pulangnya, Tasya hampir saja menabrak mobil lain karena melamun memikirkan kejadian barusan yg membuat dirinya serasa hina, namun juga merasakan kepuasan yg lain dari biasanya. Sementara itu Redi menanti kesempatan untuk memangsa korban berikutnya.

author